Hoax dan Harga Diri

Dr Agung dan tim bersama si kembar dan ayah ibunya.(FOTO: dr Agung)

COWASJP.COM – Saat saya masih redaktur berita daerah Harian Pagi Jawa Pos di era Orde Baru, saya dapat info lapangan bahwa di suatu kabupaten di Jawa Timur, ada satu desa yang banyak sekali penduduknya cebol. Dalam bahasa medis disebut kretin. Banyak pula di antaranya yang cacat. Ya, itu adalah kawasan gondok endemik. 

Akibat kekurangan yodium dalam air tanah kawasan itu, penduduknya pun mengalami gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), yang antara lain tubuh mereka tidak dapat tumbuh maksimum. Leher mereka membengkak karena kelenjar tiroid harus bekerja ekstra keras karena kurang asupan yodium. 

Selain itu, desa tersebut luar biasa gersang dan penduduknya sangat miskin. Seorang teman bercerita, ada seorang nenek dengan tubuh kecilnya mengais-ngais singkong di kebun yang tak seberapa. Singkong itu, ya hanya singkong itu yang dia makan hari itu. Bahkan kulitnya pun tidak dibuang. Katanya bisa disayur. 

Secara nilai berita, kasus itu sangat layak diberitakan. Tetapi rapat redaksi memutuskan tidak memberitakan. Sebab, bisa mengakibatkan geger nasional. Kok bisa? Nanti saya bahas.

Masih ingat kejadian gempa bumi Lombok dan Palu baru-baru ini? Media mainstream dan medsos sempat ramai meributkan mengapa pemerintah menolak memberikan status bencana nasional. Padahal, status bencana nasional itu akan membuat internasional bisa menggelontorkan bantuan. 

Lalu, baru 2 hari ini, saya memposting kisah si kembar Rina-Rini. Kisahnya jadi viral. Bantuan pun mengalir. Tapi di lapangan ada hal lain yang muncul, yaitu ketersinggungan sementara pihak. Pertama, karena beritanya viral. Kedua, karena banyak pihak yang datang membantu. Lho? Kok ada orang tersinggung gara-gara ada orang membantu orang lain yang membutuhkan?

Nah, benang merah dari ketiga ilustrasi yang saya tulis di atas cuma satu: soal harga diri. Harga diri siapa? Harga diri pihak yang berwenang. 

yulfarida1.jpgYulfarida Arini (penulis) bersama suami dan putera tercintanya. (FOTO: Facebook)

Kalau kasus gondok endemik itu jadi dimuat di koran kami, lalu dibaca jutaan pembeli koran, pasti dibaca juga oleh gubernur, oleh pemerintah pusat, maka pihak pemerintah daerah akan merasa dipermalukan. Kok bisa ada desa di daerahnya yang semiskin itu? Bukan tidak mungkin gubernur juga ikut tersinggung. Lalu presiden juga tersinggung. Seolah-olah kok gak becus ngurusin warganya. Buntutnya gak enak: koran kami bisa-bisa kena teguran keras karena memuat berita yang mengganggu ketenteraman. 

Demikian juga status bencana nasional. Jangan hanya dilihat keuntungannya dengan mengalirnya bantuan. Lihat pula kesan yang timbul. Yaitu negara tidak mampu menangani sendiri kondisi akibat bencana. Padahal sudah terlanjur membangun citra kalau pemerintah sangat mampu dan sangat peduli. Dan punya banyak uang. Meskipun kita semua tahu hingga saat ini bantuan uang untuk korban gempa Lombok belum jelas juntrungannya. Setengah tahun lebih, ribuan warga Palu masih tinggal di tenda. Anak-anak masih belajar di barak darurat di antara reruntuhan kelas-kelas. Sampai entah kapan?

Nah, yang terakhir kasus Rina-Rini. Jadi begini. Saya memuat cerita tentang si kembar ini setelah beberapa hari sebelumnya dijapri oleh mbak Aisy Sukria yang sedang mengumpulkan donasi untuk membayar biaya rumah sakit supaya si kembar bisa pulang. Saya bilang, saya akan bantu share ke teman-teman saya, siapa tahu ada yang tergerak membantu. Ternyata besoknya mbak Aisy sudah memuat foto si kembar di rumahnya, tidur berimpitan di kardus dengan penghangat dari lampu. Intinya, mbak Aisy berhasil mengumpulkan donasi untuk biaya kepulangan si kembar. 

Seizin mbak Aisy, saya tulis ulang kisahnya, lengkap dengan foto bayi kembar dalam kardus yang sangat menyentuh itu. Ternyata tanggapan netizen luar biasa. Informasi membanjir, dari pinjaman inkubator sampai metode kangguru dan bagaimana merawat anak preemie (istilah untuk anak yang lahir prematur). Tak kalah penting, tawaran bantuan pun berdatangan. Semuanya mengalir begitu saja. Bahkan saya tak sanggup lagi membaca, jangankan membalas, ribuan komen di postingan tersebut. 

Singkat cerita, dr Agung Zentyo Wibowo dari Komunitas Prematur dan dr Ita konselor dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia langsung meluncur ke rumah keluarga Dicky. Si kembar diperiksa kondisinya, ditimbang. Ibunya diberi bimbingan menyusui dan alhamdulillah si kembar langsung bisa menyusu. Ayah ibunya diajari menggendong dengan metode kangguru. Bahkan mobil ambulance sudah tersedia bila ternyata si kembar harus dirawat lebih lanjut di rumah sakit. Semua gratis. 

Sehari sebelumnya, merespon postingan mbak Aisy sendiri di facebooknya, sudah ada yang menyumbangkan boks bayi sehingga si kembar tak lagi tidur di kardus. Juga, ada yayasan yang meminjamkan dua unit inkubator. Hadiah-hadiah berupa keperluan bayi pun mengalir. Juga uang tunai, yang dikoordinir oleh mbak Aisy dan kawan-kawan relawan untuk memenuhi kebutuhan keluarga itu. 

Meskipun si kembar banyak terbantu, ternyata ada lho yang tersinggung. Tak usah saya sebutkan siapanya. Mungkin mereka merasa tidak dianggap peran dan jasanya. Pihak tersebut juga sempat setengah protes ketika tim dr Agung datang membantu. 

Malah, ada yang komen di postingan saya, menuduh saya menyebar hoax. Padahal:

Keluarga Dicky butuh Rp 7,7 juta untuk membayar biaya rumah sakit adalah fakta. Saya kan tidak menulis kalau pihak RS tidak membantu. Saya yakin bantuannya banyak banget. Bayangin, hanya dikenai Rp 7,7 juta. Padahal ibunya melahirkan secara sesar. Si kembar dirawat di NICU sampai sekian lama. Kalau tarif normal pasti puluhan juta. Saya juga tulis, para perawat di RS itu sudah sangat baik dengan bergantian membeli susu formula dengan duit mereka sendiri untuk diberikan pada si kembar. Sebab, jangankan beli susu formula, datang ke RS saja ibunya tak punya ongkos. Ini juga fakta. 

Mbak Aisy dan kawan-kawan mencarikan dan mengkoordinir bantuan adalah fakta. Hampir tiap hari mereka datang ke rumah si kembar. Juga memfasilitasi pihak-pihak yang ingin membantu. 

Si kembar sempat tidur di kardus adalah fakta. Itu bukan foto yang didramatisir. 

Sumbangan boks bayi, perlengkapan bayi, inkubator, dan lain-lain adalah fakta. Pihak yang membantu posting juga di facebook mereka. 
Dr Agung dan tim datang membantu adalah fakta. Ada foto-fotonya. 

Kakak kandung pak Dicky menjapri saya, bilang terima kasih sudah menulis soal adiknya itu sehingga banyak yang membantu, itu juga fakta. Apa perlu saya pasang skrinsyut japriannya?

Jadi, di mana hoax-nya? Sepertinya masyarakat belajar dengan baik, kalau ada informasi yang tidak menguntungkan dirimu, maka teriaklah yang kenceng: itu hoax!(*)

Penulis: Yulfarida Arini, mantan wartawan Jawa Pos.

Pewarta : Yulfarida Arini
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda