Martabak Bang Dullah vs Nasi Goreng Atroep

COWASJP.COM – Laki-laki tua itu berjalan agak cepat dari biasanya, Minggu malam (8/8/2018). Bersama istrinya, laki-laki yang lebih suka dipanggil Cak Nardi ini langsung memesan martabak Bang Dullah yang terletak di ujung Pasar Blauran itu. 

"Lho mana Bang Dullah, saya kangen sekalian bikinkan yang istimewa. Yang lima puluh ribu ya," katanya penuh tanda tanya. 

"Maaf, sampeyan lama tidak ke sini ya. Bang Dullah dan istrinya sudah meninggal lima tahun lalu," sahut Wiryo, 50 tahun, pengganti Bang Dullah yang keturunan Pakistan itu  

Terkejut juga, Cak Nardi yang sudah tujuh tahun tinggal di Jakarta ini. Maklum, tak terasa sudah sekian lama dia tak merasakan nikmatnya martabak asli buatan Bang Dullah. 

Menurutnya, Cak Nardi yang kelahiran Surabaya ini memang penggemar martabak telor. Karena itu, meski telah pindah ke Jakarta, hampir sebulan sekali menikmati martabak di Pecenongan.

"Tapi ya itu tadi rasanya tak seperti martabak buatan Bang Dullah ini," kata laki-laki 70 tahun ini. 

nasi-goreng.jpg

Karena itu, menurut Wiryo yang sudah 25 tahun membantu Bang Dullah, ketika Bang Dullah sakit, dia telah membuka rahasia resepnya pada Wiryo. "Jadi tidak usah khawatir, rasanya pasti sama. Martabak ini terdiri dari 25 racikan bumbu. Jadi kalau bumbunya kurang satu saja, rasanya pasti beda," katanya sambil membungkus hasil gorengannya 

Apa yang dikatakan Wiryo nampaknya tak perlu dibantah, karena martabak olahannya sungguh persis hasil olahan Bang Dullah. Karena itu, kalau Anda juga masih penasaran silakan saja mencoba sendiri.

Soal harga bervariasi, mulai dari Rp 15.000, Rp 25.000 sampai Rp 50.000. Semua tergantung kocek Anda. Yang pasti inilah martabak tradisional yang pernah berjaya sejak 40 tahun lalu. Jauh sebelum munculnya aneka "merk" nasi bebek di Surabaya. 

"Dulu di tahun 60-an, jika naksir cewek, maka untuk lebih mendapat perhatian calon mertua, pasti sering membawa oleh-oleh martabak, " kenang Cak Nardi, malam itu.

Tapi di sisi lain, nampaknya Cak Nardi malam itu masih penasaran. Ia dan istri langsung bergerak ke timur. Mobil yang ditumpangi menerobos di antara deru puluhan sepeda motor terus ke selatan dan langsung ke Jalan Pemuda. Hem...tak disangka Cak Nardi belok ke kiri ke jalan Walikota Mustajab. Di inilah kios Nasi Goreng/ Mie Atroep mangkal.

martabak1.jpg

Di antara belasan pembeli itulah Atroep, 54 tahun, pemilki kios itu nampak sibuk mengggoreng nasi dan di sebelahnya sang asisten juga tampak membalik-balik mie yang sedang digoreng. 

Karena itu, meski Cak Nardi pelanggan lama nasi gorengnya,  Atroep yang kelahiran Lamongan memang seperti acuh pada Cak Nardi. Hanya sesekali dia menengok. "Berapa harga satu porsi sekarang?" tanya Cak Nadi. 

"Dua puluh dua ribu, " jawab Atroep, pendek, tanpa basa basi.

 Memang, untuk harga seporsi nasi goreng/mie goreng Rp.22.000 agak mengagetkan bagi pembeli yang  baru. Apalagi Nasi Goreng Atroep letaknya di kaki lima Jalan Walikota Mustajab. Bukan kelas rumah makan.

Tapi percayalah,  seandainya Anda mencoba pasti tak akan menyesal. Apalagi kalau sudah mencicipi mie goreng nyemek. Alamak inilah yang dinamakan warung kaki lima, rasa bintang lima. Nikmaaat. 

"Ya benar..ini yang tidak ada di Jakarta, " tukas Cak Nardi sambil menyantap nasi goreng. Tidak cuma itu, malam itu Cak Nardi juga membuka bungkusan martabaknya. Dua makanan favoritnya itu  secara bersamaan dinikmati. "Inilah yang namanya Martabak versus Nasi Goreng," tukasnya.
 Hasilnya? " Draw... sama sama enak...!, sahutnya *. (*)

Pewarta : Koesnan Soekandar
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda