Bung Karno, ITS dan Karakter Sivitas Akademika

Logo: Arek ITS Cak (Foto: ITS)

COWASJP.COM – ockquote>

O l e h: Djoko Pitono dan Ilham Himawan

-----------------------------------------------------------

INSTITUT Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) genap berusia 59 tahun pada Kamis (10/11) ini. Bagaimana keadaan perguruan tinggi tersebut sekarang dan prospeknya?

Ketika Dr. Angka Nitisastro dan beberapa insinyur mendirikan “Perguruan Teknik 10 Nopember Surabaya”  pada 10 November 1957, mereka mungkin tidak menyangka bahwa lembaganya itu akan berkembang besar seperti sekarang.

Lembaga pendidikan yang sebenarnya telah digagas sejak 1954 itu memang telah beruntung sejak awalnya. Dalam Konferensi Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di Bogor pada tahun itu, beberapa insinyur idealis memandang perlunya didirikan lembaga pendidikan di Surabaya yang bisa menghasilkan tenaga insinyur. Bukan tak beralasan. Indonesia saat itu disebut kekurangan 7.000 insinyur.

Impian para insinyur itu kemudian disambut oleh Dr. Angka Nitisastro, seorang dokter yang sangat peduli dalam peningkatan pendidikan masyarakat. Dengan bersambutnya gayung, berdirilah Yayasan Perguruan Tinggi Teknik (YPTT), yang nantinya mendirikan dan mengelola lembaga pendidikan teknik tersebut.

Keberuntungan lain adalah sambutan positif Presiden Soekarno, yang meskipun lebih banyak berkecimpung dalam politik, adalah seorang insinyur yang pandai dan berwawasan luas. Kepala Negara memerlukan datang ke Surabaya untuk meresmikan berdirinya perguruan teknik itu, yang memiliki dua jurusan: Teknik Sipil dan Teknik Mesin.

Perhatian Presiden Soekarno tidak hanya sampai di situ. Ia kemudian juga setuju mengubah status lembaga pendidikan itu menjadi perguruan tinggi negeri dengan nama “Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Surabaya” (Nama yang kemudian dipakai adalah Institut Teknologi Sepuluh Nopember, disingkat ITS, tanpa embel-embel “di Surabaya”. Pen).

Jurusannya pun menjadi lima: Teknik Sipil, teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Perkapalan, dan Teknik Kimia. Kemudian jurusan-jurusan itu diubah menjadi fakultas. Dan dengan Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1961, ditetapkan bahwa Dies Natalies pertama ITS adalah 10 November 1960.

Di sekitar waktu berdirinya ITS, Bung Karno memang sedang pada masa gairahnya untuk memajukan pembangunan industri. Pabrik Semen Gresik yang dibangun dengan bantuan teknik dan keuangan AS, pada awal Agustus 1957  baru saja diresmikan oleh Bung Karno. Setahun sebelumnya, bulan Mei 1956, Presiden Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat. Dalam pidatonya di depan Rapat Gabungan Kongres AS 17 Mei 1957, Presiden RI Pertama itu antara lain mengucapkan terima kasih atas segala bantuan AS, termasuk di bidang industri. Tetapi Bung Karno juga mengingatkan bahwa bantuan tersebut diberikan dengan tetap menghormati kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia.

“Kami menerima baik setiap bantuan atas dasar keuntungan bersama. Kami menolak pikiran menukarkan kemerdekaan intelektual spiritual atau kemerdekaan fisik untuk suatu keuntungan keuangan,” kata Presiden Soekarno.

Dalam bukunya, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965), Bung Karno juga memberikan pandangannya bahwa Indonesia harus mandiri secara ekonomi dan politik. Dalam ekonomi, Indonesia ingin membangun kemandirian yang nyata. Mengerjakan pembangunan dengan kekuatan dalam negeri sebagai kekuatan utama. Oleh karena itu, Presiden Soekarno mengirimkan ribuan mahasiswa Indonesia untuk belajar ke berbagai negara. Mantan Presiden B.J. Habibie, yang meraih gelar doktor desain pesawat di Jerman, adalah tokoh yang sering memuji tinggi visi Bung Karno dalam membangun kemandirian bangsa.

Pembangunan ITS

Kembali ke masalah awal berdirinya ITS, keinginan para pimpinan ITS saat itu dan kenyataan terbatasnya anggaran pemerintah membuat kampus lembaga pendidikan itu terpencar-pencar. Dengan penambahan dua fakultas lagi --- Fakultas Teknik Arsitektur dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam--- pada 1965, kampus ITS tersebar di beberapa tempat. Ada yang di Jl. Simpang Dukuh 11, juga di Jl. Ketabang Kali 2F, lalu Jl. Baliwerti 119-121, sementara kantor pusatnya terletak di Jl. Basuki Rahmat 84. Kampus ITS makin tersebar lagi saat Fakultas Teknik Sipil pindah ke Jl. Manyar 8, sedang pada 1975 Fakultas Teknik Arsitektur pindah ke ke kampus baru di Jl. Cokroaminoto 12A Surabaya, yang juga berfungsi sebagai kantor pusat.

Ruang bernafas para dosen,, staf non-akademik dan mahasiswa menjadi lapang setelah mereka pindah ke kampus di kawasan Sukolilo secara bertahap. Kompleks pendidikan seluas 180 Hektare ini dibangun sejak 1977, saat pemerintah mendapat pinjaman Bank Pembangunan Asia (ADB) sebesar 25 juta Dollar AS untuk pengembangan empat fakultas. Pada 1994, datang pinjaman ADB lagi sebesar 47 juta dollar untuk pengembangan semua fakultas dengan fokus teknologi kelautan. Program itu selesai April 2000.

Tahun 2001, berdasarkan SK Rektor tanggal 14 Juni 2001, ITS membentuk fakultas baru yaitu Fakultas Teknologi Informasi (FTIF) dengan 2 jurusan/program studi: Jurusan Teknik Informatika dan Program Studi Sistem Informasi.

Akhirnya sejak tahun 2002 ITS terdiri dari 5 fakultas dan 2 politeknik, yaitu: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Teknologi Industri (FTI), Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Fakultas Teknologi Informasi (FTI), Fakultas Teknologi Kelautan (FTK), Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

Lembaga terakhir di atas, PENS ITS berubah statusnya pada 2011. Setelah 24 tahun menjadi bagian dari ITS, maka setelah pengesahan statuta pada 21 November 2011, PENS sudah bukan bagian dari ITS. Namun dalam kaitan status mahasiswa, ada perbedaan. Mahasiswa yang masuk PENS pada 2011 dan sebelumnya akan tetap jadi mahasiswa ITS.

Misalnya, pada saat wisuda, mereka akan dibarengkan dengan mahasiswa ITS yang lain. Begitu pula dengan ijazah, juga akan dibubuhi tanda tangan rektor ITS. Sedangkan mahasiswa angkatan 2012 akan menjadi mahasiswa  PENS seutuhnya. 

Motor Listrik Si Gesit

Di saat ITS Surabaya memperingati ulang tahun yang ke-59, lembaga pendidikan tinggi tersebut mempersembahkan karya berupa motor listrik Si Gesits. Motor listrik itu dijadwalkan akan diluncurkan ke pasaran pada pertengahan tahun 2017 mendatang, setelah serangkaian uji coba, termasuk menyusuri Jakarta hingga Bali.

M. Nasir , Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), mengatakan bahwa motor listrik sebagai produk inovatif Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini adalah jenis motor matik yang menjanjikan. Presiden Joko Widodo dilaporkan akan meresmikan sendiri peluncuran mobil listrik tersebut nantinya.

Dijadwalkan pada awal tahun 2017 nanti merupakan tahap awal untuk produksi Si Gesits secara massal, dan diharapkan pertengahan tahun sudah mulai masuk pasaran. Sedikitnya 100 ribu unit akan diproduksi awal tahun 2017 nanti.

Nasir menambahkan, untuk produksi motor listrik Si Gesits ini, Kemenristekdikti mengalokasikan anggaran sekurangnya Rp 5 miliar sekaligus guna mendapatkan sertifikasi kelayakan atas produk motor listrik tersebut.

Rektor ITS Surabaya Prof Joni Hermana, PhD mengatakan Selasa (8/11/2016), peluncuran mobil listrik Si Gesit tersebut diharapkan menjadi tonggak baru bagi bangsa kita untuk memajukan pembangunan industri. Para mahasiswa ITS yang kini sedang belajar pun akan semakin bergairah dalam belajar untuk nantinya ikut andil memajukan kehidupan masyarakat.

Kualitas Dosen dan Sarana

 Meskipun sarana dan prasarana di ITS terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya, jumlah mahasiswa yang terus bertambah. Seperti dilaporkan ITS Online, kampus ITS Sukolilo sebenarnya dirancang untuk 10.000 mahasiswa. Namun sekarang jumlah mahasiswa ITS seluruhnya sudah lebih dari 18.000 mahasiswa.

Menurut ITS Online, penambahan jumlah mahasiswa tiap tahunnya tak bisa dikatakan signifikan. Namun dampak yang dihasilkan cukup berpengaruh pada kegiatan pembelajaran. “Jumlah mahasiswa yang besar nyatanya tak sebanding dengan fasilitas dan jumlah dosen yang tersedia. Sehingga sering kali pembelajaran tidak bisa berlangsung maksimal,” tulis ITS Online..

Pertama, masalah muncul dari fasilitas yang tersedia. Pertambahan jumlah mahasiswa mestinya juga diimbangi dengan pertambahan jumlah fasilitas. Utamanya pada sektor ruang kelas. Namun, kenyataannya tidak demikian, jumlah ruangan yang ada tidak sebanding dengan jumlah mahasiswanya.

Untuk sementara, solusi yang diterapkan ITS yakni dengan menambah jam kerja tiap dosen. Karena itu, masih sering terlihat di beberapa jurusan kuliah jam kuliah berlangsung hingga malam hari. Cara lain yaitu dengan memaksimalkan ruangan-ruangan kosong yang saat itu tidak digunakan untuk pembelajaran.

Perbandingan antara jumlah dosen dan mahasiswa tampaknya akan tetap menjadi PR pimpinan ITS. Dengan jumlah mahasiswa lebih dari 18.000, dosen yang jumlahnya kurang dari 1.000 orang jelas masih kurang sekali.Meskipun, katakanlah, kualitas dosen-dosennya terus ditingkatkan.

Menurut Rektor ITS, Prof.Ir. Joni Pernama, jumlah gurubesar (profesor) ITS sekarang 98 orang, sedang jumlah doktornya sekitar 400 orang. Jumlah tersebut akan terus meningkat dengan lulusnya sejumlah dosen yang sekarang sedang melanjutkan studinya di program doktor di dalam maupun luar negeri.

Namun bagaimana pun, segala kekurangan ITS tersebut tentunya malah akan dijadikan alasan bagi sivitas akademika ITS untuk memajukan diri, sebagai menggunakan segala kreativitas dan kemampuannya. Sebuah tulisan menarik muncul dalam laporan di ITS Online, Dosen, Mahasiswa, dan Fasilitas, Sudahkah Sebanding? (https://www.its.ac.id/berita/12827/en).

Beberapa nilai yang diambil dari Deskripsi Model Pendidikan Karakter Bangsa di ITS di antaranya adalah :

1. Etika dan Intregitas. Dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, beragama, maupun dalam menjalankan profesinya, Seorang yang cerdas-amanah-kreatif selalu berpegang teguh pada norma-norma yang berlaku di masyarakat, negara, dan agama. Marilah berusaha menjaga amanah ini supaya jangan sampai label cak menjadi negatif karena etika dan ulah minoritas.

2. Kreativitas dan Inovasi. Mahasiswa yang kreatif tentunya selalu mencari ide-ide segar yang mampu menghasilkan inovasi dalam mengerjakan tugas dan menjalankan perannya dengan baik.

3. Ekselensi. Dengan ekselensi, seseorang akan berusaha secara maksimal untuk mencapai hasil yang sempurna. Walaupun kesempurnaan hanyalah milik Tuhan, namun sebagai makhluk hendaknya selalu berusaha yang terbaik dalam setiap aksinya.

4. Kepemimpinan yang kuat. Kepemimpinan yang kuat akan menunjukkan prilaku yang visioner, kreatif, inovatif, pekerja keras, berani melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Selain itu, mereka juga harus bertanggungjawab dengan segala tindakannya.

5. Sinergi. Mampu bekerjasama untuk dapat memanfaatkan semaksimal mungkin potensi yang dimiliki.

6. Kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Ini menyangkut kemampuan menjaga kerukunan dan peduli terhadap masyarakat sekitar. Sebuah tanggung jawab sosial yang cukup berat untuk seorang berlabel CAK. Karena mereka akan dituntut menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya.

Menurut laporan ITS Online itu, mungkin masih banyak lagi nilai yang terkandung di dalam tiga kata sederhana itu. Dengan jargon CAK, sivitas akademika ITS diharapkan mempunyai karakter yang amanah dalam menjalankan tugasnya, mampu mengabdikan diri kepada masyarakat sekitar. “Dan yang pasti, hendaknya mempunyai mindset dan tindakan yang cerdas dan kreatif,” tulis laporan itu.

Penulis laporan yang tak disebutkan namanya itu  pun menutup tulisannya dengan warna bahasa khas Suroboyoan. Sebuah penutup yang sangat bagus:

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenang jasa pahlawannya
Bangsa yang hebat adalah bangasa yang berani melakukan perubahan
ITS, sebuah bangsa bagi pejuang muda masa depan.

Tetap berkaca ke depan CAK,
tanpa meninggalkan sejarah CUK . . .
(*)

Penulis adalah : 

Djoko Pitono, veteran jurnalis dan editor buku.
Ilham Himawan, alumnus PENS ITS

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda