Surabaya Barat Berkembang Pesat

Foto dan ilustrasi: CoWasJP

COWASJP.COMCAK DURASIM (alm) tokoh Legendaris Ludruk Surabaya terkenal dengan kidungannya: “ Bekupon Oma-e Doro Melok Nippon Tambah Soro”.  Artinya: Bekupon rumahnya burung  Merpati ikut Nippon (Jepang) tambah sengsara. Menurut cerita: Setelah mendengar kidungan yang menyindir penjajah Jepang di Surabaya, Cak Durasim diciduk Kempentai (tentara Jepang) dan dipenjara hingga meninggal dunia.

Entah, dia  disiksa atau dibunuh. Cak Durasim habis riwayatnya. Tokoh Ludruk Surabaya yang tinggal kenangan ini sekarang makamnya di Pemakaman Umum Tembok.

Pada suatu hari, saya meluangkan waktu untuk Kya-Kya (Jalan2) ke kompleks  Super Mall PTC, Surabaya Barat. Ketika akan memarkir sepeda motor, ada pemandangan yang “ganjil”.

surabaya-baratT6oi1.jpg

Indah dan semaraknya Surabaya Barat dan gedung yang menjulang tinggi. (Foto: Sudirman/CoWasJP)

Di sebelah lapangan parkir sepeda motor terdapat dua Bekupon ukuran besar. Bekupon tersebut dicat warna warni, sehingga memancing padangan orang yang lalu lalang di jalan sana. Dua pekupon berukuran besar itu  terdapat beberapa burung merpati.

Di saat melihat Bekupon  dia atas, saya teringat kidungan alm Cak Durasim.. Paling tidak Bekupon tetap rumahnya burung  merpati, tapi bangunan aparteman  di samping super mall PTC tetap jadi rumahnya orang berduit  yang kebanyakan humi  bermata sipit (bukan orang Nippon ...lo). 

bekuponDocN.jpg

Bekupon ikut bersaing dengan gedung-gedung menjulang tinggi di Surabaya Barat. (Foto: Sudirman/CoWasJP)

Di wilayah Surabaya Barat lima tahun terakhir ini berkembang pesat. Di kompleks PTC saja ada beberapa gedung apartemen yang terdiri beberapa blok. Rata-rata bangunan apartemen di sana  lebih dari 20 lantai. Aktifitas penghuninya  juga luar biasa. Sebagian penghuni apartemen tersebut punya usaha di Super maal PTC. Di sebelah barat terdapat kompleks perumahan mewah Pakuwon Indah. 

Fasilitas pusat perbelanjaan di PTC memang memadai. Mulai dari parkir sepeda motor hingga parkir mobil bertingkat. Sementara semua kebutuhan sudah tersedia di pusat perbelanjaan modern tersebut. Bahkan masyarakat wilayah Surabaya tak perlu lagi harus ke pusat kota untuk mencari barang kebutuhannya.

Tak jauh dari PTC (sebelah utara), sepanjang  jalan Bolevard sudah berdiri bangunan bertingkat untuk perkantoran. Hampir semua bangunan di sana sudah banyak yang ditempati untuk kegiatan bisnis. Praktis jalan Boleverd setiap hari padat namun masih terkendali. Jalan Bulevard memang merupakan jalan anternatif untuk menuju pusat kota.

Masyarakat yang tinggal di daerah Wiyung, dan Lakarsantri bisa melalui jalan tersebut.

siolaUyosl.jpg

Siola (Foto: istimewa)

BERGESER

Pada tahun 1970-an Jalan Tunjungan yang terelatak di jantung kota Surabaya merupakan pusat perbelanjaan yang padat. Selain itu, masih ada lagi pusat perbelanjaan yang favorite yaitu di pasar Atom dan Pasar Turi (sebelum terbakar). Pusat perbelanjaan di Surabaya kini bergeser ke mall-mall yang ada di Surabaya Selatan, Timur,  dan Barat 

Jalan Tunjungan memang merupakan pusat perbel anjaan yang dinenal sampai luar kota. Saking terkenalnya penyanyi Keroncong Cak Mus Mulyadi menciptakan Lagu “ Rek Ayo Rek Mlaku Mlaku Nang Tunjungan …… “. Bahkan lagu   yang diciptakan penyanyi legendaris ini dijadikan salah satu ikon kota Surabaya.

tunjungan3oWme.jpg

Tunjungan di malam hari. (Foto: istimewa)

Saya masih ingat waktu Jalan Tujungan menjadi pusat perbelanjaan warga kota Surabaya.  Di sepanjang jalan tersebut ada Pasar Tunjungan, Toko Setral, Toko Nam, Toko Metro, Siola, dll.  Sebagian toko yang ada di jalan tersebut kini tinggal kenangan. Pasar Tujungan milik Pemkot sekarang mati suri, Siola yang gedungnya dijadikan salah satu cagar budaya tersebut beralih fungsi menjadi pelayanan publik satu atap  Pemkot Surabaya. (*)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda