Mega Utus Dua Menteri Tonton Wayang di Blitar

Mendagri Tjahjo Kumolo disaksikan Menkumham Yasonna Laloy, Gubernur Soekarwo, Wagub Gus Ipul, bupati dan walikota Blitar menyerahkan gunungan kepada Ki Anom Suroto. (Foto: Arif Afandi/CoWasJP.com)

COWASJP.COM – ockquote>

O l e h: Arif Afandi

---------------------------

INDONESIA tidak akan seperti sekarang apabila tidak ada Pancasila. "Provinsi Jawa Timur tidak akan menjadi daerah termaju di Indonesia apabila tidak ada Pancasila. Karena itu kita semua wajib bersyukur karena kita memiliki Pancasila," kata Mendagri Tjahyo Kumolo pada acara pembukaan Festival Wayang Nusantara, hari Selasa (2/8) malam, sebelum pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Anom Suroto lakon 'Bimo Labuh' di Alun-alun Kota Blitar. 

Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Sukarnoputri meskipun berhalangan hadir tetapi mendukung penuh acara ini, dengan mengirim utusan yang terdiri dari dua menteri dari PDI-P yaitu Mendagri Tjahyo Kumolo dan Menkum HAM Yasonna Laoly, serta Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto dan Ketua Fraksi PDI-P di DPR-RI Ahmad Basarah.

wayang-hastoEfjMX.jpg

Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto (kiri) ketika menghadiri  pagelaran wayang kulit di Blitar. (Foto: Arif Afandi/CoWasJP.com)

Hadir pula Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Wagub Jatim Saifullah Yusuf yang menggagas acara syukuran ini. Belasan Bupati/Walikota serta Wakil Bupati/Wakil Walikota se Jatim juga nampak di kursi kehormatan, termasuk Bupati Blitar Herry Noegroho dan Walikota Blitar Samanhudi Anwar.

Ditambahkan oleh Mendagri, Ketua Umum PDI-P amat menghargai syukuran dengan acara menggelar wayang kulit ini. "Bung Karno sebagai Proklamator sekaligus Presiden pertama RI, dalam berbagai pidatonya sering mengutip dialog-dialog Bhagawat Gita, antara kain dialog yang terjadi dalam kisah Baratayudha. Jadi sangat tepat apabila syukuran ditetapkannya 1 Juni 1945 sebagai hari kelahiran Pancasila ini dilakukan dengan pagelaran wayang," kata Tjahyo Kumolo.

wayang-tjahyo-kumoloMkV0L.jpg

Mendagri Tjahyo Kumolo saat memberikan sambutan sebelum acara dimulai. (Foto: Arif Afandi/CoWasJP.com)

Sebelumnya Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laloy menjelaskan, proses ditetapkannya tanggal 1 Juni 1945 sebagai hari kelahiran Pancasila adalah proses perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan.

"Karena itu kita bersyukur tanggal 1 Juni 2016 lalu Presiden Jokowi akhirnya mengeluarkan Keppres No.24 tahun 2016 yang menetapkan hari kelahiran Pancasila. Ini adalah akhir dari proses perjuangan yang tak kenal lelah," kata Yasonna.

Gubernur Jatim Soekarwo dalam sambutan berbahasa Jawa juga menyatakan rasa syukurnya karena 1 Juni 2016 telah ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila. "Terima kasih ada acara seperti ini. Sangat luar biasa. Kita memang wajib bersyukur dan berterimakasih kepada Bung Karno yang telah mencetuskan Pancasila. Dan saya bahagia karena kita menyukurinya dengan acara ini," kata Pak De Karwo.

wayang-pak-de-karwoQWJlj.jpg

Gubernur Jatim Soekarwo juga ikut hadir di pagelaran wayang kulit. (Foto: Arif Afandi/CoWasJP.com)

Sebelumnya, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf sebagai ketua panitia menjelaskan wayang kulit semalam suntuk ini digelar sebagai rasa syukur telah ditetapkannya tanggal 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahirnya Pancasila.

"Kita wajib bersyukur karena kita punya Pancasila dan wayang. Banyak negara yang setiap hari ada kerusuhan, ada pertikaian dan penduduknya saling berperang. Kenapa? Karena negara-negara itu tidak memiliki Pancasila dan wayang. Dengan wayang kita bisa duduk bersama semalam suntuk. Kita tidak pernah pernah mendengar ada kerusuhan gara-gara wayang," kata Gus Ipul. 

Gerimis lembut yang turun di kota Blitar sejak siang hingga sore seakan memang untuk menyiram alun-alun sehingga terasa segar bagi belasan ribu orang yang memadati alun-alun. Pukul 21.00, Mendagri Tjahyo Kumolo menyerahkan gunungan kepada dalang Ki Anom Suroto untuk memulai pagelaran. Sebagai selingan, Anom Suroto juga membawa grup lawak antara lain Percil, Gareng, Indah Laras dan Eko.

wayang-sindenMYuv.jpg

Suasana gelar wayang kulit Anom Suroto di Blitar, Selasa (2/08/2016). (Foto: Arif Afandi/CoWasJP.com)

Pertunjukan wayang kulit ini rencananya akan digelar di sepuluh kota di Jawa Timur. Selain sebagai ungkapan rasa syukur,  safari pagelaran ini juga bertujuan untuk mempertahankan sekaligus melestarikan budaya adi luhung nusantara ini agar tidak tergerus modernisasi. (*)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda