Kesaksian Guntur atas Penembakan Bung Karno

Penulis (kiri) dan Guntur Soekarnoputra, putra sulung Bung Karno. (Foto: istimewa)

COWASJP.COM – ockquote>

O l e h: Roso Dara

--------------------------

MOMEN shalat Idul Adha di pagi hari tanggal 14 Mei 1962, menjadi momen bersejarah. Betapa tidak, hari itu, terjadi aksi pembunuhan terhadap Bung Karno, ketika shalat berlangsung. Benarkah penembakan dilakukan dari jarak enam shaf di belakang shaf pertama tempat Sukarno shalat?

“Tidak benar. Dari kak Mangil saya dapat informasi, bahwa penembaknya berada tiga shaf di belakang Bapak,” ujar Guntur Soekarnoputra, putra sulung Bung Karno. Hari itu, Guntur mengaku tidak ikut shalat, ia masih berada di dalam kamar tidurnya, ketika terdengar suara letusan.

“Saya tidak mengira itu suara tembakan. Saya mengira itu suara knalpot motor besar. Waktu itu, motor-motor besar detasemen pengawal bapak, kalau distarter pasti terdengar suara kayak ledakan di knalpotnya,” kata Guntur, beberapa hari lalu, di kediaman keluarga, Jl. Kemang Timur VI, Jakarta Selatan.

Sejurus kemudian, Guntur melanjutkan kisah yang terjadi 54 tahun lalu itu. Ia tak urung membuka jendela kamar, menengok apa yang terjadi di luar, ketika terdengar suara ribut di luar kamar. “Saya liha dari jendela, pasukan pengawal menyeret orang yang kemudian saya ketahui sebagai pelaku penembakan Bapak. Ia diseret dan dipepetkan di sebuah pohon, persis di samping kamar bu Mega (Megawati Soekarnoputri, adiknya, red),” kata Guntur pula.

Dari balik jendela pula, Guntur menyaksikan si pelaku menerima bogem-mentah dari para pengawal bertubi-tubi. Wajahnya lebam dan berdarah. Pukulan diarahkan ke bagian perut dan wajah pelaku. “Begitu bertubi-tubi, sampai saya lihat kak Mangil datang melerai. “Persisnya sih bukan melerai. Ia hanya mengingatkan anggotanya, agar pelaku jangan sampai mati,” kenang Guntur yang waktu itu masih berusia 18 tahun.

Mangil Martowidjojo, adalah polisi kesayangan Bung Karno. Ia mengawal sejak tahun 1945, hingga menjelang dilengserkannya Sukarno. Itu pun karena Soeharto membubarkan Resimen Cakrabirawa, kemudian membubarkan DKP, dan mengembalikan personelnya ke kesatuan Brimob. 

roso-daras-satum0zYp.jpg

Penulis (kiri) dan Guntur Soekarnoputra, putra sulung Bung Karno. (Foto: istimewa)

Guntur melanjutkan kisahnya. Pasca kejadian 1962 itu, Mangil makin menyempurnakan organisasi DKP. “Ketika itu, selain Cakrabirawa, memang ada DKP. Nah, DKP pimpinan kak Mangil inilah yang paling dekat dengan Bapak. Usai penembakan Idul Adha, kak Mangil membagi DKP ke bidang tugas yang lebih spesifik. Ada yang khusus mengawal Bapak, ada yang khusus mengawal istri-istri Bapak, ada yang mengawal putra-putri Bapak, dan terakhir pengawal khusus yang antara lain bertugas mengiringi Bapak menari lenso,” papar Guntur sambil tersenyum.

Nah, kembali ke peristiwa penembakan Bung Karno saat Idul Adha, 14 Mei 1962. Menurut Guntur, atas penuturan Mangil, penembaknya berada di shaft ketiga. Bung Karno dan pejabat serta jemaah lain, berdiri di shaft terdepan. Shaft kedua, persis di belakang Bung Karno, berdiri –antara lain-- dua petugas DKP. Mangil dan satu anggota lain tidak ikut shalat. Mereka berdiri di depan, matanya terus tertuju ke arah Bung Karno.

Di tengah-tengah shalat didirikan, tiba-tiba, seorang pelaku dari shaft ketiga mencabut pistol dan menembak ke arah Bung Karno. Akan tetapi tembakan meleset dan mengenai orang yang berdiri di sebelah Bung Karno. Tembakan kedua pun dilancarkan, kali ini mengenai pengawal Bung Karno yang langsung menubruk Bung Karno saat tembakan pertama. Beruntung, tidak ada yang tewas dalam insiden itu.

Ada banyak versi menyusul peristiwa ini. Pelaku yang bernama Haji Bachrum itu, diketahui anggota Darul Islam, gerakan separatis Negara Islam Indonesia pimpinan Kartosuwirjo. Ketika diinterogasi, Bachrum mengaku saat hendak menembak, ia melihat dua bayangan Sukarno. Guntur berpendapat lain, “Ah... yang pasti, dia gemetar saat menembak, makanya tembakannya meleset.”

Guntur menambahkan, sebenarnya, kejadian itu harus menjadi kajian soal terorisme di Indonesia. Ingat, bahwa terorisme di Indonesia itu bukan hanya akhir-akhir ini. Dia sudah ada sejak zaman pemerintahan Bung Karno. **

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda