Laporan dari Swiss (13)

Banyak Negara Eropa Tak Akui Vaksin Sinovac

Senin 11 Oktober 2021 tepat tiga bulan kami tinggal di Swiss. Berangkat dari Surabaya tanggal 11 Juli 2021 lalu sampai Lausanne - Swiss tanggal 12 Juli 2021 jam 13.00 CEST (Central European Summer Time). Via Surabaya – Singapura – Zurich menumpang Singapore Airlines.

***

COWASJP.COM – Lanjut perjalanan darat Zurich – Lausanne. Planning tiga bulan ke depan jalan-jalannya ke lintas negara sekitaran Swiss. Apalagi sudah memiliki visa EU (European Union), sehingga tidak perlu mengurus visa lagi apabila berkunjung ke negara-negara Eropa. 

Ada 27 negara yang termasuk pada daerah EU. Contohnya Prancis, Jerman, Belanda, Swedia, Spanyol, Portugal, Denmark, Italia, Austria, dan sebagainya. 

Tujuan pertama yang pengin kami kunjungi adalah Prancia – Paris. Lausanne - Swiss bisa ditempuh dengan menaiki kapal selama kurang lebih 1 jam. 

Namun rencana tersebut tidak berjalan dengan mulus. Mereka mewajibkan turis yang berkunjung harus sudah vaksin dan menunjukkan tes negatif Covid. Sebenarnya kedua syarat ini tidak menjadi masalah untuk kami. Karena kami sudah vaksin 2 dosis di Indonesia menggunakan vaksin Sinovac. Ternyata oh ternyata, Sinovac tidak termasuk di daftar syarat. Vaksin yang diperbolehkan atau diakui adalah Pfizer, Moderna, AstraZeneca, dan Janssen Pharmaceutica. 

Swiss sendiri masih mengakui Sinovac. Karena itu saat kedatangan kami bulan Juli lalu masih aman-aman saja. Akhirnya kami urungkan dulu niat mengunjungi negara yang berbatasan dengan Swiss ini. 

BACA JUGA: Siapa Bilang Orang Eropa Individualis?​

Kami berencana untuk vaksin lagi di Lausanne – Swiss untuk dosis ketiga. Setelah browsing untuk mencari info, saya mantab mendaftar vaksin di salah satu farmasi pada tanggal 7 Oktober 2021. Suami sudah ambil cuti karena mengantarkan saya ke tempat vaksin di pagi hari, dan juga sudah agenda untuk kontrol ke dokter anak pada siang harinya. 

Pukul 10.00 CEST (Central European Summer Time) kami menuju ke Pharmacieplus de Marterey (nama farmasi tempat vaksin) yang letaknya di pusat kota Lausanne. Sekitar 2,7 km dari apartemen. Meskipun kami harus naik bis 1x dan oper naik kereta metro, tempatnya sangat terjangkau. Hanya berjalan sekitar 90 meter dari stasiun pemberhentian kami sudah tiba di tempatnya. 

Sebelum proses pemberian vaksin, si dokter menanyakan data diri seperti halnya di Indonesia, yaitu nama lengkap, tanggal lahir, nomor telepon, alamat email, dan satu lagi yaitu asuransi kesehatan di Swiss. Di Indonesia mungkin jarang sekali bertanya terkait asuransi kesehatan, namun di Swiss wajib hukumnya setiap orang punya asuransi kesehatan. 

Kemudian juga ada pertanyaan lain seputar kesehatan seperti apakah ada obat yang dikonsumsi setiap hari, ada penyakit bawaan, dan apakah ada alergi obat. 

oki-10-okt.jpgSelesai vaksin, Zirco senang sekali. (FOTO: Okky Putri Prastuti)

Di farmasi ini tidak ada pengecekan suhu, tekanan darah, maupun tes antibodi. Hanya pertanyaan tersebut yang diberikan.

Proses administrasi tersebut memakan waktu agak lama karena saya menjelaskan bahwa sebenarnya saya sudah mendapatkan vaksin di Indonesia. 

Si dokter bertanya: "Mengapa ingin vaksin lagi?" 

Saya jelaskan: "Beberapa negara di Eropa tidak mengakui Sinovac." 

Untuk mendapatkan perijinan, sampai ada 2 dokter yang bertanya ke saya untuk memastikan apakah saya diperbolehkan vaksin lagi atau tidak. Sertifikat vaksin yang dapat diakses melalui aplikasi PeduliLindungi juga saya tunjukkan ke mereka sebagai bukti telah vaksin 2 dosis. 

BACA JUGA: Saat Terpepet, Jiwa Bonek Membara​

Setelah mereka berdiskusi, akhirnya vaksin saya yang ketiga atau dosis ke-1 Moderna telah disuntikkan dengan baik ke lengan bagian kiri. Dokter berkata bahwa 28 hari lagi harus kembali lagi untuk vaksin dosis ke-2 Moderna. 

Pada hari tersebut suami tidak ikut vaksin juga. Kami sengaja mengatur jadwal vaksin pada hari yang berbeda karena takut terjadi efek demam setelah vaksin. Sedangkan kami harus mengasuh 2 anak balita yang sungguh aktif setiap harinya. Kebanyakan teman kami di sini timbul efek demam setelah vaksin Moderna. Sedangkan pengalaman kami kemarin setelah mendapat Sinovac, Alhamdulillah efeknya hanya ngantuk dan nafsu makan bertambah. Setelah sampai rumah saya mendapatkan telepon dari farmasi bahwa ternyata saya cukup mendapatkan 1 dosis saja. Sertifikat yang berisi QR Code akan dikirimkan melalui email paling lambat 14 hari kerja.

OKI-10--oktober.jpg1.jpg2.jpgKakak adik (Zirco dan Zygmund) serius bermain bersama. (FOTO: Okky Putri Prastuti)

Sementara saya sudah mendapatkan verifikasi melalui SMS yang menyatakan telah melakukan vaksin di farmasi yang bersangkutan pada tanggal 7 Oktober 2021. 

Hari ini tidak saya saja yang melakukan vaksin. Zirco – anak pertama kami juga terjadwal kunjungan ke dokter anak. 

Oh ya, di cerita minggu lalu saya sempat bercerita terkait bagaimana tantangan mencari dokter anak di sini (Swiss). Sedikit berbeda dengan di Indonesia bahwa pasien bisa langsung berkunjung ke dokter sesuai jam praktek. Melakukan pendaftaran sebagai pasien baru, diperiksa oleh dokter, dan melakukan pembayaran. Sedangkan di Swiss prosesnya melalui 3 tahapan yaitu: 

Pertama: mencari dokter yang bisa melayani dengan Bahasa Inggris. Kita bisa mengecek di google atau situs klinik apakah dokter tersebut hanya menerima pasien berbahasa Prancis atau bahasa lainnya (Inggris, Italia, dan Jerman). 

BACA JUGA: Di Wengen Semua Kendaraannya Harus Tenaga Listrik​

Kedua: menelpon ke dokter yang bersangkutan, apakah masih menerima pasien baru atau tidak? Dokter berhak menolak pasien baru apabila dirasa sudah penuh slotnya. Kalau ditolak harus mencari dokter lain yang masih bersedia. 

Ketiga: apabila si dokter berkenan menerima pasien baru, maka perlu membuat janji terlebih dahulu. Tidak bisa tiba-tiba langsung datang, kecuali ada sesuatu yang sangat mendesak. Alhamdulillah kami telah mendapat dokter anak untuk Zirco dan Zygmund yang tempat kliniknya di daerah CHUV, sekitar 4,7 kilometer dari apartemen.

OKI-10--oktober.jpg1.jpg2.jpg3.jpgKudapan manis yang lezat. (FOTO: Okky Putri Prastuti)

Bagi kami pelayanan yang diberikan kepada pasien sangat istimewa. Di awal kedatangan seperti biasa dilakukan pengecekan berat badan dan tinggi badan pada Zirco. Saat melakukan pengecekan berat badan seluruh baju wajib untuk dilepas. Selain itu dilakukan pengecekan detail terhadap mata, telinga, mulut, hidung, gigi, dan juga punggung tulang belakang. Zirco dites melihat suatu gambar yang diletakkan agak jauh dengan menutup 1 mata. Hal ini sangat baru bagi saya karena selama kontrol di Indonesia tidak ada pemeriksaan seperti ini. 

Dokter juga meminta Zirco untuk meloncat dengan dua kaki dan juga satu kaki untuk melihat keseimbangan motoriknya. 

Tidak hanya itu, Ibu Dokter yang telah memiliki 2 anak perempuan ini juga mengajak Zirco mengobrol dalam Bahasa Inggris terkait makanan kesukaan, tebak-tebakan warna, dan juga memberikan secarik kertas dan pensil warna untuk melihat segi kognitif Zirco. 

Zirco yang sudah bisa menuliskan namanya sendiri, sangat PD saat menjawab pertanyaan dokter terkait bentuk benda dan angka-angka. Bahkan Zirco juga bercerita sudah hapal angka 1-15 dalam Bahasa Prancis dan memamerkannya kepada dokter. Saat diperiksa pun, si dokter mengajari Zirco Bahasa Prancis dari perut, dada, jantung, dan punggung, Intinya dokternya sangat ramah, berusaha mengenal si pasien lebih dalam karena di sini sistemnya seperti dokter keluarga yang tidak ganti-ganti dokter. Karena mencarinya pun susah, kecuali kalau pindah tempat tinggal ya. 

BACA JUGA: Tempe Jamuan Persahabatan​

Setelah mengecek buku vaksin Zirco dari Indonesia, si Dokter berkata bahwa vaksin sudah sangat komplit sesuai dengan jadwal di Swiss. Sejak Zirco lahir hingga berumur 4 tahun tidak satu pun jadwal vaksin yang terlewat. Dokter Mahendra Tri Sampurna yang memiliki jadwal praktek di RSIA Kendangsari Merr Surabaya selalu memberikan vaksin kualitas terbaik yang sudah berstandar internasional. Sehingga saat dokter di Swiss melihat label vaksin yang ditempel di buku kontrol anak, sudah bisa langsung mengenali vaksin yang dimaksud.

Pada umur Zirco yang hampir genap 5 tahun tinggal ditambahkan vaksin anti tique (sejenis serangga yang ada di Swiss). Dosis ini diberikan dalam 3 tahap, hari ini Zirco mendapatkan dosis yang pertama. Dosis kedua akan diberikan pada bulan depan. Sedangkan dosis ketiga akan diberikan 6 bulan kemudian sejak dosis pertama. 

OKI-10--oktober.jpg1.jpgZygmund bermain masak-masakan. (FOTO: Okky Putri Prastuti)

Selesai proses pemeriksaan kami diarahkan menuju meja registrasi untuk membuat jadwal kunjungan lagi bulan depan. Dan anehnya kami sama sekali tidak disuruh membayar, apakah memang sudah dicover oleh asuransi kesehatan atau mungkin tagihan dikirimkan ke rumah. Karena budaya di Swiss adalah mengirimkan tagihan atau denda melalui pos ke alamat rumah atau email. 

Di area klinik juga disediakan berbagai macam permainan yang menunjang dari segi motorik. Zirco dan Zygmund asyik sekali bermain sampai tidak mau pulang. Maklum, Zirco sudah kangen sekali bermain di area playground seperti ini. Kalau main di Kidzoona - Surabaya sudah ambil paket seharian full yang bisa main sepuasnya. Sebelum Covid melanda pastinya. 

Sedangkan Zygmund yang hampir setiap hari selalu ikut maminya ke dapur, sangat excited dengan 1 set mainan masak-masakan. Terlihat wajah sumringah mereka saat bermain di area bermain anak. 

Bila Zirco memang sudah komplit vaksinnya dengan standar internasional, tapi lain dengan Zygmund. Dia seharusnya lagi intensnya Imunisasi. Ini sudah tiga bulan belum ada vaksin tambahan. Terakhir saat usia 9 bulan. Pas usia 10 bulan pas hari keberangkatan ke Swiss, dan kebetulan juga dokter Mahe juga sedang ke Belanda untuk ujian doktoralnya. Hari ini sebenarnya Zygmund – anak kedua kami -- juga memiliki jadwal vaksin. Namun karena masih batuk pilek maka ditunda terlebih dahulu. 

Oh ya, di sini anak berumur di bawah 2 tahun tidak diberikan obat batuk pilek berupa sirup layaknya di Indonesia. Dokter hanya memberikan resep saline water atau larutan garam yang berfungsi untuk membersihkan lender-lendir yang ada di hidung. Dan ternyata di koper bawaan dari Indonesia tidak ada obat pilek atau batuk untuk umur 1 tahun. Sepertinya saya terlewat beli atau bisa saja terlewat dipacking masuk koper. 

Bagi pembaca yang akan tinggal di luar negeri pastikan membawa obat-obatan untuk anak ya dan minyak telon atau minyak kayu putih dibawa juga. Karena di sini tidak ada yang jual minyak-minyak seperti itu. Kalau ada pembaca yang berencana ke Swiss tolong kabar-kabari ya, DM ke IG, @okkyputri. Saya ingin titip perlengkapan bayi dari Indonesia nih, hehe. 

Habis vaksin lapar. Di dekat klinik anak ada sebuah café yang menjual aneka kue, pizza, salad, dan juga minuman. Terlihat sepertinya enak dan rame pengunjung keluar masuk. Kami mencoba masuk dan membeli 2 dessert dan segelas coklat panas. Pesanan diantar ke meja dan kebetulan pengunjung di dalam kafe juga sepi. Hanya kami berempat. Pelayan langsung bertanya terkait Covid pass atau sertifikat vaksin. Sejak 20 September 2021, Swiss menerapkan peraturan bahwa adanya pengecekan sertifikat vaksin apabila memasuki restoran, hotel, tempat wisata, dan tempat-tempat indoor lainnya. 

Kami tidak beruntung karena QR Code sertifikat vaksin yang diunduh dari aplikasi PeduliLindungi tidak bisa terbaca oleh sistem. Sehingga kami diarahkan untuk makan di area luar café. Bagi kami tidak masalah karena ini adalah suatu pengalaman baru. Untungnya setelah ini kami akan mendapatkan QR Code Vaksin Moderna di Swiss. Coklat hangat dan kudapan manis menemani nongkrong kita di sore hari dengan diiringi angin sepoi-sepoi pada suhu 12 derajat Celcius. Meskipun cuaca cerah dan matahari bersinar, tapi dinginnya tetap terasa sampai ke tulang. 

Menurut informasi yang baru saja kami dapat, ternyata kami bisa mendaftarkan sertifikat vaksin kami untuk diconvert ke QR Code yang berlaku di Swiss. Tapi kami belum mencobanya. 

Nanti kalau sudah berhasil, Insya Allah saya share siapa tahu ada yang membutuhkan info tersebut. 

Bulan Oktober ini harus jadi bulan adaptasi kesehatan bagi kami. Kebetulan mulai juga pergantian musim. Dari musim panas ke musim gugur. Awalnya kami PD aja toh tiga bulan pertama aman. Awal musim gugur kami genjot ke Jungfraujoch – The Top of Europe (stasiun kereta tertinggi di Eropa). Cerita ke Jungfraujoch sudah terbit 2 minggu lalu ya kawan. Jangan sampai ketinggalan cerita seru saat mengunjungi gunung yang bersalju dalam satu tahun penuh. Capek poll. Satu per satu drop. Dimulai dari Zirco pingpong ke adiknya lanjut papinya akhirnya sang mami juga ikut tepar. Ketambahan dampak dari vaksin Moderna. Demam, pusing dan nyeri. 

Alhamdulillah sekarang sudah menuju pulih semua. Sehat walafiat. Bisa menjalani aktifitas masing masing yang semakin padat. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda