Sang Begawan Media

Normal Risma

Tri Rismaharini menyapu jalanan, peduli kebersihan lingkungan. (FOTO: Instagram.com/tri.rismaharini - liputan6.com)

COWASJP.COM – BERAPA kali Bu Risma marah di depan kamera? Tentu lebih banyak lagi kalau yang tidak terekam ikut dihitung. Semakin bertambah-tambah pula kalau masa sebelum menjadi Menteri Sosial dimasukkan.

Orang Surabaya sudah menganggap normalnyi Bu Risma ya seperti itu.

Orang Surabaya tidak mencelanyi. Tidak pula menganggapnyi aneh. Prestasi Risma yang tinggi telah mengalahkan gaya kasarnyi. Dia sampai dua kali menjabat Wali Kota Surabaya.

Bu Risma adalah orang yang punya kemauan –besar dan keras. Dan dia bekerja habis-habisan untuk mewujudkan kemauannyi itu.

Carilah Risma di saat hujan deras: dia hampir pasti bisa ditemukan di lokasi pompa-pompa penyedot genangan. Dia temukan genset yang ngadat. Pipa yang buntu. Listrik yang tidak nyambung.

Dia pakai jas hujan. Tapi tetap saja basah kuyub. Dia ikut bekerja. Bukan hanya memeriksa. Itu dia lakukan tanpa terlihat untuk pencitraan. Dia benar-benar ingin banjir teratasi. Dia bukan ingin foto basah kuyubnyi beredar di media keesokan harinya.

Risma –Ir Tri Rismaharini– memang orang yang tahu detail. Memperhatikan detail. Mengontrol detail. Menyelesaikan detail. Sebagai arsitek dia terbiasa dengan perencanaan dan pekerjaan detail. Dia juga selalu mencari jalan termurah untuk proyek dengan mutu yang diinginkan. Arsitek dididik dan dibiasakan berpikir begitu.

Angka-angka orang miskin pasti dia perhatikan sampai detail. Apalagi setelah dia menjadi menteri sosial. Dia tahu cara memanfaatkan kemampuan komputer. Dia pasti marah kalau ada detail yang salah.

Jangankan angka-angka kemiskinan yang begitu penting. Penari yang akan tampil di panggung Pemkot Surabaya pun dia kontrol sampai ke pakaian tarinya.

Dan Risma tidak terlihat memupuk kekayaan dari jabatannyi. Dua periode dia jadi wali kota. Di kota metropolitan pula: Surabaya. Rumahnya biasa saja. Di daerah yang termasuk kelas 3-nya Surabaya: Wiyung. Nun di Surabaya Barat banget. Itu bukan daerah kelas 2 apalagi kelas 1. Dia sudah di situ sejak masih menjadi kepala dinas.

RISMNYAR.jpgTri Rismaharini Wali Kota Surabaya saat memimpin kerja bakti di kawasan Kecamatan Sawahan, Selasa 24/11/2020. (FOTO: Humas Pemkot Surabaya - suarasurabaya.net)

Rumah orang tuanyi –yang menjadi rumah pertamanyi– juga di daerah kelas 3. Di dekat Pasar Burung, Nginden. Yang sampai sekarang tanahnya masih belum berstatus hak milik.

Di rumah inilah, awalnya, dibangun museum sederhana: Historisma. Di situ pula dibuat warung kopi. Waktu itu Risma mengira tidak ada jabatan apa-apa lagi setelah dua periode itu berlalu. (Baca juga: Historisma)

Ternyata Risma menjadi menteri sosial. Saya pernah berpikir untuk mengadakan acara selama satu minggu. Temanya: Surabaya Berterima Kasih Kepada Risma. Tapi ada pandemi. Tidak mungkin ada kerumunan. Apalagi sebelum habis masa jabatan itu ternyata dia sudah dilantik sebagai menteri. Praktis tidak ada waktu bagi warga Surabaya untuk berterima kasih kepadanyi.

Saya memang melihat Bu Risma juga orang yang normal: ingin jabatan yang lebih tinggi. Sejak dulu. Tapi yang seperti itu kan boleh-boleh saja.

Kemajuan sering datang dari orang yang punya kemauan.

RISMANYAR1.jpgMensos Tri Rismaharini (Risma) bersama Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam sebuah acara partai. (FOTO: DOK.SINDOnews)

Saya pernah makan satu meja bertiga: dengan Bu Risma dan Ibu Mega.

Saya rasakan hubungan istimewa kedua wanita itu. Bu Mega terlihat sudah terbiasa dengan gaya Bu Risma yang ceplas-ceplos: Suroboyoan. Dengan gerak tubuh yang tidak perlu disopan-sopankan. Yang untuk ukuran orang sebagian orang Jawa bisa saja dianggap kurang sopan. Toh tidak terlihat ada sedikit pun keberatan Bu Mega dengan gaya Risma seperti itu.

Marahnyi Bu Risma memang keras. Agak kasar. Tapi mulutnyi tidak kotor. Tidak ada harta dari toilet yang keluar dari mulut marahnyi. Tidak ada pula kebun binatang di lidahnyi.

Saya pun akan marah: kalau melihat data orang miskin yang harus salah terus. Sudah sekian tahun. Sudah di zaman komputer dan Wi-Fi seperti ini.

Harus ada yang marah di negeri ini: asal marahnya tetap yang ikhlas. (*)

Penulis: DAHLAN ISKAN, Sang Begawan Media.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : disway

Komentar Anda