1 Oktober Hari Berkabung Bagi Bangsa Indonesia

COWASJP.COM – MELIHAT deretan Bendera Merah Putih dipasang dalam posisi setengah tiang pada 30 September, diteruskan tanggal 1 Oktober 2021 benderanya dinaikkan menjadi satu tiang penuh, menjadi teringat kepada guru saya dan sahabat saya, almaghfurllah Mas Kyai Ngabehi Agus Sunyoto, Ketua Umum LESBUMI PBNU.

Sudah sangat lama. Mungkin sudah 10 tahun lebih. Beliau memberi tahu saya, bahwa pemasangan bendera setengah tiang pada tanggal 30 September dan pemasangan bendera satu tiang penuh pada tanggal 1 Oktober yang dilakukan isntansi dan masyarakat Indonesia, tidak tepat.

Saya kaget. Di mana tidak tepatnya?

“Tanggal 30 September 1965 itu belum terjadi apa-apa. Pak Harto pada tanggal itu, sekitar jam 10 malam sampai jam 12 malam di Rumah Sakit Gatot Subroto, menunggui Tommy yang sakit. Sedangkan penculikan dan pembunuhan para Pahlawan Revolusi, terjadi subuh dini hari. Berarti sudah tanggal 1 Oktober 1965. Itu di buku Pak Harto dan buku Sejarah TNI ditulis,“ kata Mas Kyai Agus Sunyoto.

Dalam benak saya bertanya, “Tenan pora yo sing diomongne Mas Agus iki?” (Apakah betul yang disampaikan Mas Agus ini?). 

Terus terang saja saat itu pemahaman saya masih seperti kebanyakan orang-orang seumuran dan di bawah saya. 

Bahwa tanggal 30 September kita memasang bendera setengah tiang, karena hari itu para Pahlawan Revolusi gugur, diculik dan dibunuh. 

Tanggal 1Oktober kita Bangsa Indonesia memasang bendera satu tiang penuh, sebagai ekspresi merayakan kemenangan dan kejayaan, karena kekuatan Pancasila hari itu sudah menang. 

Antara percaya dan tidak, saya kemudian membeli buku Pak Harto berjudul: SOEHARTO Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Saya masih ingat, membeli buku itu di toko buku bekas, di Jalan Prapatan, Jakarta Pusat. Barat Pasar Senin, timur Patung Tani.

Saya buka halaman 118 berjudul: 18. Mengatasi G.30.S/PKI. Pak Harto menulis : 

“Tanggal 30 September 1965. Kira-kira pukul sembilan malam saya bersama istri saya  berada di Rumah Sakit Gatot Subroto. Kami menengok anak kami, Tommy, yang masih berumur empat tahun, dirawat di sana karena tersiram air sup yang panas. Agak lama juga kami berada di sana, maklumlah menjaga anak yang menjadi kesayangan semua.

Kira-kira pukul sepuluh malam saya sempat menyaksikan Kol. Latief berjalan di depan zaal tempat Tommy dirawat. Kira-kira pukul 12 seperempat tengah malam saya disuruh oleh istri saya cepat pulang ke rumah di Jln. Haji Agus Salim karena ingat kepada Mamik, anak perempuan kami yang bungsu yang baru setahun umurnya.

Saya pun meninggalkan Tommy dan ibunya tetap menunggui di rumah sakit. Sesampai di rumah berbaring dan cepat tidur”. 

Jelaslah, bahwa tanggal 30 September 1965 sampai berakhir, berganti hari tidak terjadi perstiwa apa-apa.

soeharto.jpg

Di lain waktu, saya ke Solo untuk sebuah urusan. Saya mampir di toko buku bekas langgananan saya, di utara Alun-alun Karaton Solo. Alhamdulillah menemukan buku “Monumen Pancasila Cakti”. Langsung saya beli. Di buku ini sangat lengkap dan rinci, menulis peristiwa yang berkaitan dengan peristiwa yang disebut G.30.S/PKI.

Di buku yang terbit pada 1975 ini kata sambutannya adalah Presiden Jenderal TNI Soeharto. Mayor Jenderal TNI dr. Soedjono sebagai Perwira Proyek Monumen Pancasila Cakti, dalam kata pengantarnya dia menulis, buku “Monumen Pancasila Cakti” ini disusun sebagai buku sejarah untuk dijadikan sumber autentik dari sejarah pengkhianatan G 30 S/PKI, yang mengakibatkan gugurnya Para Pahlawan Revolusi pada 1 Oktober 1965 dini hari, agar tidak dapat diputarbalikkan lagi seperti pernah dilakukan oleh PKI terhadap pemberontakan PKI/Madiun pada 1948.   

Jelas sekali bahwa di pengantarnya saja, ditulis bahwa gugurnya para Pahlawan Revolusi pada 1 Oktober 1965. Sebagai seorang wartawan juga melakukan cek and ricek. Saya ziarah ke makam para Pahlawan Revolusi di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Semua batu nisan para Pahlawan Revolusi ditulis “GUGUR TANGGAL 1 OKTOBER 1965”.

Di buku “Monumen Pancasila Cakti” halaman 81 ditulis, tanggal 1 Oktober 1965 jam 02.30,

seluruh pasukan dari Cakrabirawa yang akan ditugaskan menculik 7 pimpinan TNI-AD berkumpul di Lubang Buaya. Para pimpinan TNI AD yang akan diculik adalah Jenderal Nasution, Mayjen S. Parman,  Brigjen Soetojo, Letjen A. Yani, Brigjen D.I. Panjaitan, Mayjen Harjono M.T, dan Mayjen Soeprapto.

Mulai jam 03.00, pasukan penculik berangkat menuju sasaran. Penculikan dan pembunuhan terhadap para petinggi TNI-AD terjadi sekitar jam 04.00 subuh dini hari. 

Dari tujuh pimpinan TNI-AD yang menjadi sasaran penculikan, enam berhasil diculik dan gugur sebagai Kusuma Bangsa. Yakni, Jenderal Ahmad Yani, Mayjen S. Parman, Brigjen Soetojo, Brigjen D.I. Pandjaitan, Mayjen Harjono M.T, dan Mayjen Soeprapto.

Sedangkan Jenderal A.H. Nasution selamat. Namun Lettu Pierre Tendean, ajudan Jenderal

Nasution gugur sebagai Kusuma Bangsa. Keluarga Pak Nas, begitu biasa beliau dipanggil, juga  kehilangan putri tercintanya, Ade Irma Suryani yang gugur dalam peristiwa penculikan tersebut. 

Untuk mengenang, menghormati dan menghargai jasa-jasa para pemimpin TNI-AD dan seorang Perwira Pertama TNI yang gugur pada tanggal 1 Oktober 1965 tersebut, Presiden RI Ir. Soekarno pada hari itu, tanggal 4 Oktober 1965, menetapkan dan mengangkat mereka sebagai “Pahlawan Revolusi”, dan menaikkan pangkat mereka satu tingkat secara Anumerta. 

Jadilah nama dengan pangkatnya, 7 Pahlawan Revolusi tersebut menjadi :

Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani. 

Letjen TNI Anumerta R. Soeprapto. 

Letjen TNI Anumerta MT Harjono. 

Letjen TNI Anumerta Soewondo Parman.

Mayjen TNI Anumerta DI.Pandjaitan. 

Mayjen TNI Anumerta Soetojo Siswomihardjo. 

Kapten CZI Anumerta Pierre Andries Tendean. 

Tanggal 5 Oktober 1965 adalah Hari Ulang Tahun ABRI yang ke-20. Perayaan Ulang Tahun

ABRI yang direncanakan akan dirayakan secara besar-besaran, berubah menjadi Hari Berkabung Nasional bagi Bangsa Indonesia. Upacara peringatan Hari Ulang Tahun ABRI ke-20, diundur sampai tanggal 10 November 1965. Tanggal 5 Oktober 1965 digunakan untuk memakamkan jenazah 7 Pahlawan Revolusi di Taman Makam Pahlawan Kalibata. 

Satu tahun gugurnya 7 Pahlawan Revolusi, tepatnya tanggal 1 Oktober 1966, masih dilaksanakan upacara memperingati setahun gugurnya para Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya. Selain unsur ABRI, hadir pula dalam upacara peringatan tersebut, pemimpin-pemimpin Organisasi Kemasyarakatan, Partai Politik, serta tokoh-tokoh terkemuka masyarakat lainnya.

MUSLICH-4-OKTOBER.jpg1.jpgKang Abu Muslich memberikan sambutan.(FOTO: istimewa)

Pada tanggal 27 September 1967, Pak Harto yang saat itu telah menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia, mengeluarkan SURAT KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, No. 153 THN. 1967, TENTANG HARI KESAKTIAN PANCASILA. 

Dalam Kepres ini di kolom MEMUTUSKAN ditulis, Menetapkan :

Pertama : Tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai HARI KESAKTIAN PANCASILA.

Kedua : HARI KESAKTIAN PANCASILA diperingati oleh seluruh RAKYAT INDONESIA secara khidmad dan tertib.

Setelah dikeluarkan SURAT KEPUTUSAN penetapan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila, pada tanggal 30 September 1967 disosialisikan agar memasang bendera setengah tiang.

Secara berjenjang mulai instansi tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa sampai masyarakat terbawah, pada tanggal 30 September diperintahkan agar memasang Bendera Merah-Putih setengah tiang. 

Maka, untuk kali pertama, tanggal 30 September 1967, Bangsa Indonesia memasang bendera setengah tiang. 

Dan sejak itu, setiap tanggal 30 September, semua kantor instansi sipil maupun militer di

semua tingkatan dan masyarakat secara luas, memasang Bendera Merah-Putih setengah tiang. Pengibaran bendera setengah tiang adalah tanda berkabung.

Pertanyaannya adalah, setiap tanggal 30 September kita memasang bendera setengah tiang 

sebagai tanda berkabung tersebut, berkabung untuk gugurnya siapa? Kalau yang dimaksud adalah berkabung atas gugurnya 7 Pahlawan Revolusi, para petinggi TNI-AD tersebut gugur pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965. Tanggal 30 September 1965, sampai jam 00.00 tidak terjadi apa-apa. Tidak ada setetes darah pun mengalir.

Kebijakan Pemerintah, utamanya Pemerintah saat itu, ada kecenderungan untuk menggiring masyarakat luas agar memiliki persepsi seakan-akan penculikan dan pembunuhan 7 Pahlawan Revolusi terjadi pada tanggal 30 September 1965.

Dan itu berhasil. Kalau kita bertanya kepada anak-anak muda zaman sekarang, kenapa

tanggal 30 September kita Bangsa Indonesia memasang bendera setengah tiang, sangat banyak yang menjawab, karena para Pahlawan Revolusi diculik dan dibunuh pada 30 September 1965. Sedangkan tanggal 1 Oktober memasang bendera satu tiang penuh, adalah merayakan kemenangan kekuatan Pancasila.

Untuk pertama kalinya tanggal 1 Oktober 1967 dilaksanakan Upacara Hari Kesaktian

Pancasila dengan mengibarkan bendera satu tiang penuh. Pengibaran bendera satu tiang penuh adalah ekspresi merayakan kemenangan dan kejayaan. Sejak itu, Bangsa Indonesia tidak menjadikan tanggal 1 Oktober sebagai hari berkabung untuk memperingati gugurnya 7 Pahlawan Revolusi yang gugur pada 1 Oktober 1965. 

selamatan.jpgSelamatan mendoakan arwah 7 Pahlawan Revolusi.(FOTO: istimewa)

Kebijakan Pemerintah setiap tanggal 1 Oktober memasang bendera satu tiang penuh, sebagai ekspresi merayakan kemenangan dan kejayaan, sejak tanggal 1 Oktober 1967 perlu dikritisi. Bahkan perlu ditinjau kembali.

Bagaimana mungkin, pada tanggal di mana 7 Pahlawan Revolusi gugur, diculik dan dibunuh secara kejam, justru kita Bangsa Indonesia merayakannya sebagai hari kemenangan dan kejayaan dengan mengibarkan bendera satu tiang penuh, dengan alasan tanggal itu adalah Hari Kesaktian Pancasila.

LESBUMI PCNU Kabupaten Kediri setuju dan mendukung adanya Hari Kesaktian Pancasila.

Tapi tidak di tanggal 1 Oktober. Karena tanggal 1 Oktober, sebenarnya adalah Hari Berkabung bagi Bangsa Indonesia. Para Pahlawan Revolusi gugur, diculik dan dibunuh secara kejam pada tanggal 1 Oktober 1965.

Dalam etika masyarakat Jawa, jika ada orang tua atau tokoh yang dihormati meninggal, hari saat beliau wafat itu, disebut Hari Na-as. Selanjutnya setiap Hari Na-as tersebut, anak cucu dan keluarga berkabung, dengan tidak boleh menyelenggarakan pesta, seperti menikahkan anak, mengkhitankan anak, mendirikan rumah dan penghelatan pesta lainnya.

Jika ada orang menikahkan anak, mengkhitankan anak dan mendirikan rumah pada Hari Na-as tersebut, disebut ora ilok. Atau tidak indah. Jelasnya tidak sopan. Tidak memiliki etika. Tidak beradab.

Karena itulah, Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PCNU Kabupaten 

Kediri, tanggal 1 Oktober 2020, dan tanggal 1 Oktober 2021 lalu, menggelar upacara bendera setengah tiang di Kantor NU Jalan Imam Bonjol 38 Kediri, memperingati gugurnya 7 Pahlawan Revolusi yang gugur pada 1 Oktober 1965.

Upacara ini adalah bentuk penghormatan LESBUMI atas jasa-jasa dan pengorbanan 7

Pahlawan Revolusi. Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai dan menghormati jasa para Pahlawan.(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda