Laporan dari Swiss (11)

The Top of Europe, Tiada Hari Tanpa Salju

Musim gugur atau autumn telah benar-benar datang tepat pada 20 September 2021. Daun mulai berubah warna, kekuningan dihiasi dengan guguran bunga dan daun. Suhu udara menjadi lebih dingin 12 – 15 derajat Celsius.

***

COWASJP.COM – Pemanas di rumah belum bisa berfungsi. Menurut pihak apartemen pemanas ruangan hanya diaktifkan pada musim dingin. 

Tapi, musim gugur selalu dinanti dan dirayakan oleh mereka yang mempunyai 4 musim. Kami saja yang belum genap tiga bulan di Swiss sepanjang hari harus brukutan (memakai) sweater, celana panjang, kaos kaki yang tidak pernah lepas. Dan minum selalu hangat untuk menghangatkan badan.

Dinginnya Kota Lausanne, Swiss, tidak mengendorkan semangat kami untuk tetap melakukan traveling. Kali ini kita sengaja memilih tempat liburan yang sangat dingin, yaitu Jungfraujoch – THE TOP OF EUROPE. 

The Top of Europe adalah bangunan dataran tinggi yang terletak di kanton Swiss Valais - menghadap ke salju abadi Gletser Aletsch dari sisi selatan Jungfraujoch. Valais merupakan kanton (wilayah) terbesar ketiga di Swiss yang dibentuk secara resmi pada tahun 1815. 

Luas area kanton Valais yang mencapai 5,224 km2 berbatasan dengan kanton Vaud dan Bern di bagian utara, kanton Uri dan Ticino di timur, Italia di selatan dan Prancis di barat. Karena adanya salju abadi, maka pada musim apapun, pengunjung tetap bisa menikmati keindahan salju. 

BACA JUGA: Saat Terpepet, Jiwa Bonek Membara​

The Top of Europe yang memiliki stasiun kereta tertinggi di Eropa terletak pada ketinggian 3.454 meter (11.332 kaki) di atas permukaan laut. 

Di pagi hari yang belum begitu cerah karena matahari masih malu-malu untuk muncul, kami telah bersiap berangkat dari apartemen. 

Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 CEST (Central European Summer Time), sedangkan kereta kami akan berangkat pada pukul 07.20 CEST. Rute kereta kali ini hampir sama dengan perjalanan menuju Lauterbrunnen. Perbedaannya adalah saat di Interlaken Ost harus memilih kereta yang arah ke Grindelwald. Sehingga rute lengkapnya adalah Lausanne Gare – Bern – Interlaken Ost – Grindelwald – Grindelwald Terminal - Jungfraujoch. Harus ganti kereta 4 kali, dan nanti akan naik cable car 1kali. 

Jarak tempuh 164 km. Kami memerlukan waktu 4 jam untuk bisa tiba di Jungfraujoch. 

FT5.jpgNaik Eiger Express Gondola, kami bisa menikmati pegunungan yang sangat indah. (FOTO: Okky Putri Prastuti)

Sebetulnya Lausanne tidak terlalu strategis sebagai homebase traveling jelajah Swiss, karena harus mengulang-ulang rute. Lebih tepat di Bern atau Luzern. Tapi hampir semua jelajah bisa ditempuh sehari PP (pergi-pulang) dari semua kota di Swiss.

Persiapan kali ini lebih lengkap dari biasanya karena kita harus membawa seperangkat pakaian musim dingin seperti topi rajut, syal, jaket tebal, serta kaos tangan. Selain itu kami berempat dari apartemen telah memakai pakaian 3 lapis. 

Lapisan pertama yaitu long john (seperti manset dan legging yang berfungsi untuk mempertahankan tubuh tetap hangat). 

Long john ini kami beli di salah satu toko di Galaxy Mall - Surabaya yang bernama Lints Boutique. Tenant ini khusus menjual segala perlengkapan musim dingin. Masing-masing dari kami sudah punya 1 pasang long john. Nanti apabila kurang bisa beli lagi di sini (Swiss) sesuai kebutuhan. 

Lapisan kedua yaitu baju lengan panjang dan celana jins. Tidak harus yang sangat tebal karena kita sudah dilindungi long john sebelumnya. 

Sedangkan lapisan ketiga yaitu jaket winter. Beberapa orang di Swiss bilang bahwa jaket winter yang dibeli di Asia tidak akan kuat hingga suhu minus. Mari kita akan membuktikannya!!!

Perjalanan dari Lausanne hingga Interlaken Ost Alhamdulillah sangat lancar. Kami sudah belajar dari pengalaman sebelumnya sehingga sudah tidak terlalu gupuh (tergesa-gesa) lagi saat harus pindah-pindah kereta. Namun tidak pada pergantian kereta di Interlaken Ost – Grindelwald. Kami telah tiba di jalur nomor 2 sekitar 7 menit sebelum jadwal keberangkatan kereta. Kami segera masuk ke dalam kereta dan melihat papan jadwal pemberhentian kereta. Namun ternyata menunjukkan arah ke Lauterbrunnen. 

Foto-1.jpgOkky Putri Prastuti (penulis) dan anak sulung: Omera Zirco Okfarizi. (FOTO: Fariz Hidayat)

Kami sempat bingung apakah ini sama atau beda? Kemudian suami saya segera menginstruksikan keluar kereta. Pada aplikasi SBB (Swiss Federal Railways) dinyatakan kereta berangkat pada jalur 2B. Kami hanya punya waktu 2 menit untuk mencari lajur 2B sebelum kereta berangkat. 

Ternyata oh ternyata warna kereta jurusan Lauterbrunnen dan Grindelwald itu sama, yaitu dominasi kuning biru. Kereta yang kami maksud berada di belakang kereta Lauterbrunnen. Lari marathon lah kami. Yups, selang beberapa detik kami masuk kereta dengan napas ngos-ngosan. Yang masih sangat terasa usai pintu kereta langsung tertutup.

Perjalanan kali ini kereta penuh penumpang. Berbeda dengan minggu lalu yang penumpangnya cenderung sepi sehingga bisa memilih tempat duduk sesuka hati. Swiss sudah mulai kedatangan banyak turis. Dari wajahnya terlihat mereka berasal dari India dan sekitarnya. Namun dari informasi yang didapat bisa saja mereka adalah pelajar ataupun warga yang tinggal di Prancis dan sekitaran Eropa. 

BACA JUGA:  Di Wengen Semua Kendaraannya Harus Tenaga Listrik

Buat teman-teman yang ingin berlibur di Swiss mulai bisa dipersiapkan nih. Selalu cek regulasi pemerintahan Swiss terkait sertifikat vaksin, karantina, tes PCR dan sebagainya. Karena pada kota-kota tertentu, seperti di Bern dan tempat wisata sudah ada pengecekan. Sedangkan kami yang sudah memiliki surat izin tinggal atau KTP (kartu tanda penduduk) bahasa keren-nya tidak ada pengecekan. 

Ada dua alternatif untuk bisa sampai ke Jungfraujoch: 

Pertama, pilih destinasi (tujuan) Grindelwald Terminal (di papan hanya tertulis Terminal). Kemudian naik kereta gantung “Eiger Express Gondola” dan lanjut Kereta dari Eigergletscher ke Jungfraujoch. 

Kedua, pilih destinasi Grindelwald (pemberhentian terakhir), kemudian lanjut naik kereta ke Kleine Scheidegg – Eigergletscher – Jungfraujoch. 

Kami memilih opsi pertama karena Zirco – anak pertama kami ingin sekali naik gondola. Pada tahun 2018 silam, dia pernah naik gondola ke Genting, Malaysia, dan ketagihan selalu bertanya terus kapan bisa naik gondola lagi, hehe.

Suasana di Grindelwald Terminal mirip dengan bandara. Identik dengan adanya travelator (eskalator mendatar), tenant yang menjual souvenir, dan antrian pembelian tiket gondola yang seperti area check-in bandara. 

ft2.jpgPenulis: Okky Putri Prastuti ST MT dengan latar belakang hamparan gunung salju dan sinar matahari yang terik. (FOTO: Fariz Hidayat ST MT)

Pengunjung bisa membeli tiket secara online dan offline. Sedangkan untuk offline sendiri juga ada 2 cara, yaitu antri di kasir dengan menekan nomor antrian dan self-buying melalui smart panel pemesanan seperti di McD. 

Pembayaran juga bisa dilakukan secara cash ataupun tunai. Untuk tiket per orang dikenakan biaya 95 CHF = Rp 1.501.000 (1 CHF = Rp 15.800). Wooow, mahal yaaa. Yes, mahal sekali. Untuk 2 orang saja kami sudah mengeluarkan biaya Rp 3 juta rupiah. Sedangkan untuk DoubleZ – begitu panggilan Zirco dan Zigmund kedua anak lanangku -- masih gratis. 

Fasilitas yang kita dapat adalah tiket pergi-pulang dari Grindelwald Terminal dengan naik Eiger Express Gondola dan Kereta Jungfraujoch. 

Kami bisa menikmati pemandangan pegunungan yang sangat indah dari atas sekitar 20 menit. 

Gondola berjalan dengan sangat mulus, tidak ada suara bising rel yang membuat kita khawatir, hehe dan juga dilengkapi dengan audio yang menjelaskan kita sedang berada di ketinggian berapa. Ukuran gondola sangat besar, muat untuk kurang lebih 20 orang. Tapi saat berangkat hanya diisi 6 orang dan 1 ekor anjing. Sangat tenang dan kami benar-benar menikmatinya. 

ZIRCO KEDINGINAN DAN MENANGIS

Setelah keluar gondola kami harus mengantri untuk naik kereta. Cukup lama kami mengantri sekitar 20 menit karena menunggu kereta yang balik dari gunung. Oh ya, penumpang yang naik kereta ini dibedakan menjadi 3 sektor yaitu: grup kecil (A), penumpang dengan reservasi tempat duduk (B), dan tanpa reservasi (C). Kami penumpang di sektor C. 

Tibalah kami di Jungfraujoch – stasiun kereta api tertinggi di Eropa. Suhu menunjukkan - (minus) 10 derajat C, tapi masih ada sinar matahari yang cerah sekali. Terasa hangat cukup membantu, namun dinginnya ampun-ampuuun gak kuat. Tangan terasa beku. Padahal sudah pakai sarung tangan. Untungnya kaki aman karena sudah dilindungi dengan kaos kaki tebal dan sepatu winter. 

Jaket winter yang beli di Surabaya ternyata berhasil melindungi tubuh tidak kedinginan yang berlebihan.

Zirco yang awalnya sangat antusias ingin bermain salju alhasil malah rewel karena kedinginan dan nangis ketakutan dengan ketinggian. Hahaha. 

Dia ingin segera minta kembali ke dalam dan melarang saya untuk mengambil foto yang berkali-kali. Namanya juga bocah ya, belum tahu kalau ini wisata yang harus merogoh kocek sangat dalam, malah minta segera pulang. Huff. Di tempat ini saya juga sempat mengambil video untuk memberikan sambutan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru Universitas Internasional Semen Indonesia – Gresik. Beberapa waktu lalu panitia penerimaan mahasiswa baru menghubungi saya untuk bisa memberikan sepatah dua kata motivasi dari Switzerland. 

ft3.jpgJungfrajoch. (FOTO: Okky Putri Prastuti)

Para turis dapat melihat Pegunungan Alpen yang terletak di barat Swiss atau biasa disebut Bernese Alps. Terlihat hamparan salju putih nan indah yang membuat tak henti-hentinya mengagumi ciptaan Tuhan. Kami sekeluarga sangat bersyukur memiliki kesempatan untuk mengunjungi tempat wisata ini. 

Papi Fariz berkata, “Suatu saat Insya Allah kami akan ke sini lagi saat anak-anak sudah besar. Saat Zirco sudah tidak takut ketinggian, dan saat Zygmund sudah bisa menikmati jalan-jalan”. 

SANGAT LELAH

Sudah puas menikmati pemandangan ini, kami kembali ke bawah dengan menaiki lift yang akan menempuh jarak 108 meter dengan super cepat. Kami menawari Zirco untuk bisa bermain salju secara langsung. Namun ternyata dia minta pulang karena sudah kedinginan, ketakutan, dan kelaparan. Sediih deh ya, padahal sudah dibelani beli sepatu winter baru, tapi tidak jadi main salju, haha. Jadi di sini teman-teman bisa mengunjungi banyak spot wahana. Ada yang hanya melihat pemandangan seperti kami, bermain salju secara langsung, mendaki gunung es, dan lain-lain Jadi bisa menghabiskan waktu seharian di Jungfraujoch, dan tidak perlu khawatir dengan asupan makanan karena mereka juga menyediakan restoran. 

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 14.30 CEST. Sebelum kembali ke Lausanne, kami menyempatkan untuk mengunjungi Grindelwald terlebih dahulu. Hanya 1 kali pemberhentian naik kereta dari Grindelwald Terminal. Ternyata Grindelwald adalah tempat wisata yang banyak dikunjungi pecinta hiking atau pendaki gunung. Kami memutuskan untuk membeli es krim dan menikmatinya di bawah terik matahari dengan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Suasana di kota Grindelwald sangat indah, berlatar belakang perbukitan yang mempesona.

Sedikit info liburan dari saya, Jungfraujoch - Grindelwald - Lauterbrunnen - Wengen - Interlaken ini merupakan 1 daerah yang bisa dipilih sebagai tempat wisata. Banyak sekali penginapan dengan letak yang strategis, dekat dengan stasiun dan tempat wisata. Selain itu juga masih ada Gimmelwald, Iseltwald, Lake Brienz, Lake Thun yang masih ada di list destinasi liburan kami. 

Para wisatawan bisa membeli day pass atau saver day pass untuk sarana transportasi di sini. Oh ya, harga-harga yang selalu saya tuliskan itu sudah setengah harga ya. Karena saya dan suami memiliki Half-Fare Travelcard yang berlaku untuk 1 tahun.  

ft4.jpgTiba di stasiun kereta Jungfrajoch. (FOTO: Dok.  Keluarga Okky Putri Prastuti)

Perjalanan kali ini sungguh terasa sangat melelahkan dan capek luar biasa. Selain lelah karena menempuh jarak jauh juga badan terasa lemas karena sudah berusaha melawan dinginnya suhu -10 C. Saat di Grindelwald kami tidak menemukan kudapan yang cocok untuk bisa dibuat makan malam. 

Tubuh ini juga tak sanggup rasanya untuk memasak makan malam sesampai di rumah nanti. Meskipun hanya semangkok mie kuah panas. Akhirnya kami membeli McD di Lausanne Gare. McD selalu menjadi penyelamat di mana pun kami berada. Entah di Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand dan sekarang di Switzerland. Paket komplit burger, kentang, dan ayam sudah melengkapi makan malam kami. 

Malamnya kami ini masih terheran-heran mengapa kereta sungguh padat dan susah sekali mencari tempat duduk (salah satu yang membuat kami terasa lelah). Ternyata Minggu-Senin, 19-20 September 2021 adalah hari libur di Swiss “Federal Day of Thanksgiving, Repentance and Prayer”. Sehingga minggu ini adalah long-weekend. Banyak pengunjung yang nongkrong di McD sambil membawa bir untuk menikmati malam yang panjang. Bonne Soiree!! (baca: Bon Suare). Atau dalam Bahasa Inggris “Have a good evening”!! (*

Tulisan: OKKY PUTRI PRASTUTI ST MT, Kontributor di Swiss.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda