Laporan dari Swiss (10)

Saat Terpepet, Jiwa Bonek Membara

Foto: Dokumen Pribadi

COWASJP.COMTouring kali ini terasa spesial. Ada 3 kespesialan:

Pertama, pas bersamaan dengan ulang tahun pertama Zygmund. Orion Zygmund Okfarizi. Anak kedua kami, adik dari Omera Zirco Okfarizi (anak sulung kami). Yaitu tanggal 11 September 2021 hari Sabtu. 

Kedua, ini merupakan touring musim panas yang hampir berakhir. Tanggal 20 September 2021 sudah masuk musim gugur. Yang memungkinkan hujan tiap hari. Zirco pun sudah diminta oleh gurunya memakai jaket anti air dan sepatu boots

Ketiga, baru kali ini suami saya -- Mas Fariz Hidayat ST MT -- berani mengemudikan mobil sendiri di Swiss!! Mobilnya: mobil rental. 

Dengan pilihan touring yang baby friendly

Tentu ultah Zygmund tidak dirayakan seperti di Indonesia. Mengundang keluarga besar dari Surabaya dan Kota Batu seperti biasanya. Ultah Zirco 11 September lalu, ya cukup dirayakan berempat saja. 

Selamat-Ulang-Tahun-Zygmund.jpgSelamat Ulang Tahun Zygmund

Tapi di Indonesia nan jauh di sana, Uti Yuni dan Tante Nugky di Surabaya membikinkan tumpeng nasi kuning. Sedangkan Mbah Uti Alfiah dan Budhe Elok di Kota Batu bikin nasi kotak imut kesukaan anak anak. Nasi kuning juga. Barokallah. 

Tempat liburan baby friendly yang kami maksud berlokasi di Gruyeres (baca:Gruyer) – sebuah kota kecil di Kanton Fribourg Swiss. Kota ini terletak di puncak bukit setinggi 82 meter. Menghadap ke lembah Saane dan Danau Gruyère. 

BACA JUGA: Di Wengen Semua Kendaraannya Harus Tenaga Listrik

Ada dua tempat destinasi yang kami kunjungi, yaitu Le Maison de Gruyeres atau The Gruyeres Cheese Factory dan Maison Cailler Swiss Chocolate Factory. Coklat dan keju adalah perpaduan yang pas dan pasti dinikmati oleh anak-anak. 

Karena spesialnya momen ini, touring ke Gruyeres yang baby friendly itu saya tayangkan lebih dulu. Yang saya kunjungi lebih dulu terpaksa ngalah dulu. Yaitu kunjungan ke museum dan kantor pusat Olimpiade. IOC. Sebetulnya tempat wisata inilah yang paling populer di Kota Lausanne. 

Seperti biasa, di pagi hari tanggal 11 September kami berangkat dari tempat pemberhentian bus Cedres --yang letaknya di depan apartemen kami-- menuju Lausanne Gare atau Stasiun Kereta Api Lausanne. Waktu menunjukkan jam 07.00 CEST (Central European Summer Time). Kami berangkat tidak tergesa-gesa karena kereta menuju Gruyeres Gare berangkat pukul 07.44 CEST. Sedangkan waktu tempuh dari Cedres ke Gare hanya 10 menit (750 meter), melewati 5 tempat pemberhentian bus. 

Stasiun-kereta-api-Gruyeres.jpgStasiun kereta api Gruyeres

Waktu tempuh dari Lausanne Gare – Gruyeres adalah 1 jam 21 menit dengan melalui rute Lausanne – Romont FR – Bulle – Gruyeres. Harga tiket perjalanan kali ini cukup terjangkau sebesar 11 CHF = Rp 173.800 per orang. (1 CHF = Rp 15.800). Sedangkan untuk anak-anak usia di bawah 6 tahun masih gratuit (Bahasa Prancis) alias gratis. 

Meskipun transitnya cukup banyak, namun waktu di kereta sangat singkat, rata-rata 20 menit. Sehingga kami memutuskan perjalanan kali ini tidak memakai stroller. Cukup digendong pakai hip seat saja. Bagaimana dengan waktu transit dari satu kereta ke kereta yang lain??? Tetep doong, hanya diberi waktu 5 menit untuk berjalan ganti kereta. 

Berbeda dengan cerita di Lauterbrunnen dan Wengen minggu lalu (baca koran NMP edisi Senin, 13 September 2021 atau CoWasJP.com edisi 12 September 2021- Laporan dari Swiss ke-9). Letak lajur kereta sangat berdekatan sehingga masih bisa dijangkau dengan cepat. Tapi di saat transit kereta Romont FR ke Bulle ternyata lajur pindahnya sangat jauh dan hanya diberi waktu 5 menit. 

Awalnya kita jalan agak cepat, namun langkah kaki kami sangat berbeda jauh dengan kecepatan langkah orang bule. Sampai dibalap puluhan orang. Setelah waktu menunjukkan kurang 2 menit, saya mencoba berlari sambil menggendong Zygmund. Kereta sudah di hadapan saya, namun Papi Fariz dan Zirco masih tertinggal di belakang. Saya berteriak: “Cepat pi kak, kereta berangkat 1 menit lagi”. 
Langsung mereka berdua berlari dan kami masuk kereta bersama-sama. Saya tidak berani masuk terlebih dahulu karena takut tiba-tiba pintu tertutup dan kami berpisah. Hahaha. 

Tidak sampai 10 detik kami di dalam kereta, sudah jalan saja keretanya. Sangat tepat waktu.

LAUSANNE SATU-SATUNYA KOTA KECIL BERSTANDAR METRO

Nyamannya transportasi di kota Lausanne ini sengaja sering saya ungkapkan. Nyaman sekali dan sangat terorganisir rapi. Ternyata memang transportasi di Lausanne sangat istimewa. 

Lausanne adalah satu-satunya kota kecil di dunia yang transportasinya sudah standard Metro.  Terintergrasi dengan jumlah penduduk Lausanne yang hanya sekitar 150.000 orang.  
Voila, sampailah kita di stasiun Gruyeres tepat pada pukul 08.52 CEST. 

Kami langsung menuju Cheese Factory yang letaknya tepat di depan stasiun. Seperti layaknya di Cimory Indonesia, kita bisa melihat proses pembuatan keju secara langsung. Produk keju yang dijual juga bernama Gruyeres dan bisa dibeli di seluruh supermarket Swiss. Biaya tiket masuk untuk paket keluarga (2 dewasa dan 2 anak) dikenakan biaya 12 CHF = Rp 189.600. (1 CHF = Rp 15.800). Namun sebenarnya anak usia di bawah 6 tahun masih gratis sih. 

Fasilitas yang didapatkan adalah free product keju gruyeres, mengunjungi museum sejarah keju, dan juga melihat produksi secara langsung. Tidak ada tour guide yang mendampingi kami, namun sebuah alat yang berisi rekaman audio dipinjamkan kepada kami selama mengunjungi pabrik keju ini. Penggunaan alatnya sangat mudah. Tinggal dipencet angka yang tertera di papan cerita, maka otomatis kami bisa mendengarkan penjelasannya. 

Audio penjelasan juga tersedia dalam banyak bahasa, tapi tidak ada Bahasa Indonesia ya. Cuplikan suasana di dalam Le Maison de Gruyeres sudah saya rekam melalui IG Reels dengan caption Gruyeres, silahkan dicek di @Okkyputri.

JIWA BONEK MEMBARA

Sudah cukup puas di pabrik keju, kami lanjut mengunjungi pabrik coklat. Ternyata oh ternyata jaraknya cukup jauh, meskipun sudah ditempuh menggunakan bus. Dari tempat pemberhentian bus terdekat juga masih memerlukan jalan kaki yang cukup jauuh. Oooh tidaaaak. 

Maison-Cailler---Pabrik-Coklat-Nestle-cowas.jpgMaison Cailler - Pabrik Coklat Nestle

Nah, ketika terpepet situasi seperti inilah jiwa Bonek suami saya muncul dan membara. 

Suami saya tiba-tiba nyeletuk: “Bagaimana kalau kita pinjam rental mobil?” 

Langsung cek lokasi terdekat tempat rental mobil dan akhirnya memutuskan oke naik mobil rental. Jiwa Bonek (bondo nekat) kami keluar. Sebenarnya di Swiss penggunaan baby car seat wajib hukumnya untuk anak di bawah umur 12 tahun. Namun apa daya rental mobil yang Bernama Mobility ini tidak menyewakan perlengkapan car seat tersebut. Hanya berbekal Bismillah dan keberuntungan semoga tidak ditangkap polisi dan tidak kena denda. Jangan ditiru ya nawak (kawan). 

Yang pasti, inilah kali pertama suami saya berani setir mobil sendiri di Swiss. Wouuw. 

Cailler House atau Maison Cailler merupakan produk coklat dari Nestle Switzerland. Orang Indonesia pasti tak asing dengan produk Nestle kan? Maison Cailler menyajikan banyak sekali aneka ragam coklat yang mengalami perubahan dari masa ke masa. Seluruh sejarah ini dapat dinikmati oleh turis yang masuk ke dalam museum. Tiket masuk museum sebesar 15 CHF = Rp 237.000 per orang dewasa.

Kami mendapatkan fasilitas mengunjungi museum sejarah coklat, melihat produksi coklat secara langsung, serta yang paling menarik boleh mencicipi segala macam jenis coklat yang mereka produksi. Ada gak sih para ibu yang tidak mau rugi seperti saya, hahaha. Karena boleh mencicipi segala jenis coklat dan sudah bayar tiket masuk di depan. Alhasil, kantong jaket kulit warna hitam yang saya pakai ini sudah penuh coklat dengan berbagai macam. Kok gak malu sih moms nanti dilihat banyak orang lhoo??? Yo wis emboh (Biarin aja hahaha). 

Museum ini sangat menarik untuk anak-anak, tapi tidak di bagian sejarah awal mula coklat. Awal mula coklat berasal dari suku Aztec puluhan abad lalu. Sehingga suasana museum dibuat gelap, bernuansa hutan-hutan lengkap dengan pohon buatan serta ada orang-orangan yang berjalan. Suasana terasa mencekam seperti layaknya mengunjungi rumah hantu karena diiringi lantunan musik yang cenderung seram, hiiiiii. Zirco langsung nangis ketakutan di dalam museum dan Zygmund yang awalnya tidur lelap di gendongan langsung bangun terheran-heran. Di manakah aku kok gelap-gelap begini? 

Setelah melewati beberapa spot cerita, maka sampailah kami di ruangan yang terang benderang menandakan perjalanan coklat sudah masuk ke zaman modern. Tapi kami tidak merekam keadaan di dalam museum karena takut dilarang dan takut kena denda. Pengunjung lain pun juga sama, tidak ada yang memegang HP untuk mengambil gambar atau video. Mereka semua fokus mendengarkan penjelasan sejarah coklat melalui alat perekam suara yang kami dapatkan di pintu masuk.

Hari sudah semakin sore, saatnya kami mengembalikan mobil sewaan yang didominasi warna merah ke tempat semula. Biaya per jam Mobility (brand di seluruh Swiss atau kalau di Indonesia sama dengan GrabCar) adalah 2 CHF = Rp 31.600 dan per kilometernya dikenakan biaya 0.1 CHF = Rp 1.580. Kami menggunakan mobil tersebut selama 3 jam dan menempuh jarak sekitar 29 kilometer. 

Suasana-diluar-Maison-Cailler.cowas.jpgSuasana diluar Maison Cailler

Oh ya, sewa mobil ini tanpa memakai kunci dan bertemu dengan pemilik mobil lho. Untuk membuka pintu mobil kita cukup menempelkan kartu SwissPass (kartu sakti untuk naik bus, kereta, sewa mobil, kapal, dll) di kaca bagian depan. Bip bip, mobil langsung terbuka. Sebelum memakai wajib melakukan pengecekan kepada seluruh body kendaraan, apakah ada yang cacat atau tidak.

Penumpang melakukan verifikasi memulai perjalanan dan mengakhiri perjalanan dari aplikasi yang sudah diinstal di HP. Sudah seperti supir GoCar atau GrabCar saat menjemput dan mengantar penumpang. Kami benar-benar terpesona dengan sistem yang sudah canggih seperti ini. 

Perut sudah mulai keroncongan. Kami kembali ke pabrik keju untuk coba menikmati hidangan perkejuan yang tersedia di restoran mereka. Pilihan kami tertuju pada Cheese Fondue. Sepanci keju yang disajikan dengan potongan roti khas Swiss yang teksturnya tebal, empuk di bagian tengah, namun keras di bagian pinggirnya. (Jangan dibayangkan roti kompyang yang tebal dan keras ya). Plus baby potatoes rebus yang masih hangat. Zirco suka sekali roti dan keju, sedangkan Zygmund lebih memilih kentang rebusnya. Rasa kejunya benar-benar asin.  Namun beda halnya saat dimakan bersamaan dengan roti dan kentang. Rasa asinnya agak dibuat netral dengan kedua hidangan pendamping ini. 

Kami melihat harga menu Cheese Fondue ini sebesar 26,5 CHF = Rp 418.700. Lengkap dengan gambarnya sudah ada keju sepanci, roti, dan kentang. Pelayan bertanya: “Untuk berapa orang?”. Langsung kami jawab: "Untuk 3 orang."

Menikmati-Cheese-Fondue.jpgMenikmati Cheese Fondue

Dalam benak kami seperti halnya makan di restoran, biasanya saat kita pesan nasi putih ditanyai untuk berapa orang. Maka akan disesuaikan penyajian dalam bentuk wakul atau piring biasa. 

Ternyata saat bayar di kasir harga 26,5 CHF tersebut dikalikan 3. Aduuh. Alhasil makan cantik sore kami ber-4 menghabiskan dana lebih dari Rp 1,5 juta. Langsung kami membantin, tahu gitu bilang 2 saja ya, kan Zirco makannya juga belum banyak sekali. Ya, betul-betul ini merupakan pengalaman berharga dan mahal Hehehe. 

Keluar dari restoran kami langsung tertawa, kok bisa kami menganggap itu sebagai menu paket dan sama sekali tidak terpikir kalau itu porsi per orang. But Papi Fariz berkata: “It is okay, sekali-kali makan mewah tidak apa-apa. Kita bukan hanya membeli makanan, melainkan membeli pengalaman pernah menikmati Cheese Fondue di tempat pembuatan keju yang terkenal di Switzerland”. 

Saya sarankan setelah baca cerita-cerita saya ini dilanjut googling dan cari Youtube-nya tentang lokasi-lokasi wisata yang kami kunjungi. Saya belum nge-vlog dan main YouTube

Produk-Keju-khas-Gruyeres.jpgProduk Keju khas Gruyeres

Kami pulang dengan perut kenyang dan hati super senang. Meskipun Zygmund belum memahami apa arti ulang tahun, namun kami sudah punya kenang-kenangan foto di hari ulang tahun pertamanya. Beberapa tahun lagi dia akan menyadari betapa spesialnya merayakan ulang tahun di salah satu negeri terindah di dunia, yaitu Switzerland. 

Kakak Zirco belum lega kalau belum ada acara tiup lilin. Maka kami mampir terlebih dahulu ke supermarket Migros untuk membeli kue tart rasa coklat. Sesampai di rumah kami tiup lilin bersama dan potong kue. Happy Birthday Zygmund. Wish you all the best. We love you.(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda