Catatan di Tahun Kedua Terserang Stroke

STROKE, Harta Bukan Segalanya

Sudah bisa berjualan di embongan lagi.(FOTO: Dok. Santoso)

Tak terasa, bulan September ini, 2 tahun sudah stroke menyapa diri. Tepatnya 11 September. Keterpurukan dan sekaligus kebangkitan dialami. Berikut catatan Santoso, wartawan senior Madiun yang menuliskan pengalaman pribadinya sebagai penyintas stroke.

***

COWASJP.COM – Saya benar-benar depresi dan merasa terpukul ketika tiba-tiba saya terserang stroke 2 tahun lalu. Betapa tidak. Di usia saya 63 tahun waktu itu, saya masih termasuk seorang yang punya segudang aktivitas.

Setiap hari mengajar jurnalistik dan melatih teater anak-anak sekolah. Belum lagi aktif dalam berbagai kegiatan. Termasuk blusukan ke pelosok desa terpencil untuk memberikan motivasi dan inspirasi kepada anak-anak pendidikan dasar, melalui Kelas Inspirasi (KI). Sebuah aktivitas sosial di bidang pendidikan anak desa terpencil bersama teman-teman dari berbagai profesi.

Mungkinkah saya bisa beraktivitas lagi?? Dan bagaimana seandainya tidak bisa??? Itulah pertanyaan yang selalu berkecamuk dalam benak. Apalagi kalau ingat banyak penderita stroke yang mengalami kelumpuhan. Hingga bertahun-tahun tak mampu beraktivitas.

Tapi saya termasuk seorang wartawan yang terbiasa bekerja berburu berita. Pantang menyerah. Hingga akhirnya punya satu tekad: ‘’lawan!!’’. Tapi bagaimana caranya?? Sedang saat itu saya juga masih lumpuh separuh badan. Kaki dan tangan kiri tak bisa digerakkan. Bisanya hanya tergolek di ranjang.

Sampai di rumah setelah 14 hari dirawat di rumah sakit,  saya minta cucu untuk memindah komputer ke dekat saya tidur. Setiap hari kucari artikel tentang stroke.

Dari situ saya paham. Stroke bagai pisau bermata 3. Satu mata menyerang fisik, satu mata menyerang psikis, dan satu mata lagi menyerang ekonomi kita.

SANTOS1.jpgMenghibur diri naik motor roda 3 bersama cucu.(FOTO: Dok Santoso)

Pertama: Stroke menyerang fisik, kita lumpuh, kita tak bisa bergerak, kita tidak bisa beraktivitas lagi.

Kedua: Stroke menyerang psikis. Diakui atau tidak, kita pasti mengalami depresi. Apalagi bagi orang yang aktif seperti saya,. Semua aktivitas itu harus  terhenti.

Ketiga: menyerang ekonomi kita. Paling tidak kita tak bisa mencari nafkah. Apalagi orang swasta seperti saya, bekerja hari ini untuk makan hari ini. Belum lagi kalau kena serbuan para penjual obat atau terapis partikelir yang  mengubah kesempitan kita menjadi kesempatan.

Saya memasukkan unsur ketiga lantaran saya sering baca di grup stroker, bahwa sampai habis harta bendanya lantaran pingin segera sembuh. Maka tawaran apa pun dengan biaya berapa pun langsung ditangkap saja. Meski untuk itu harus menjual harta bendanya.

Saya bersyukur termasuk seorang literat (bisa memahami masalahnya karena banyak membaca, meski tipis-tipis). Sehingga saya mengatasi stroke dari membaca literatur. Khususnya banyak yang saya dapat dari internet. Dengan demikian, saya bisa menghindari pisau bermata tiga itu. 

BERPACU DENGAN WAKTU

Stroke penyakit yang  boleh dikata berpacu dengan waktu. Golden hour-nya hanya 1 sampai 4 jam saja sejak serangan. Percepatan pemulihan antara 1 sampai 3 bulan. Setelah itu pemulihannya melambat. Apalagi setelah 1 tahun, salah-salah malah bisa berhenti hingga membuat cacat permanen.

Saya masuk rumah sakit tak sampai 2 jam setelah serangan. Sehingga kondisinya masih cukup baik. Padahal saya kena stroke hemoragik atau pecah pembuluh darah di otak. Tidak sampai 2 jam sudah 11 mili darah menggenang. Logikanya, semakin lama tak tertangani, semakin banyak darah menggenang di otak. Hingga kerusakan jaringan semakin luas. Pasti lebih parah kondisinya. Bahkan bisa sampai kematian.

Dalam sebuah literatur saya membaca, bahwa stroke hemoragik kemungkinan mati atau hidup 80 dibanding 20 persen. Bandingkan dengan iskemik (penyumbatan) yang 50 : 50. Dari 20 persen yang bertahan hidup, separuhnya bisa pulih, separuhnya lagi cacat permanen.

Saya sendiri alhamdulillah masuk 20 persen yang bisa bertahan. Hanya saja saya belum tahu, apakah saya termasuk yang bisa pulih seutuhnya, atau masih menyisakan kecacatan. Yang jelas, sekarang ini berjalan masih sedikit pincang. Tapi saya berusaha untuk tetap belajar berjalan dengan pola yang benar.

SANTOSO3.jpgBeraudiensi dengan Pak Parni Hadi, mantan Direktur Radio Republik Indonesia, juga pendiri Harian Republika serta inisiator Dompet Dhuafa yang membantu saya membiayai modifikasi motor roda 3. (FOTO: Dok. Santoso)

Kondisi saya agak diuntungkan dari kebiasaan hidup. Saya  bukan perokok, tak pernah nenggak miras atau bahkan nge-drug. Sehingga dalam catatan medis saya, masih cukup baik. Saat itu dokter di RS Sogaten memanggil istri saya. ‘’Mumpung kondisi bapak masih baik, saya rujuk ke Rumah Sakit Soedhono (Madiun) ya bu,’’ katanya. RS Soedhono merupakan rumah sakit provinsi yang peralatannya lebih lengkap.

Selama 4 hari saya masuk High Care unit (HCU) dan lebih seminggu di ruang perawatan. Begitu keluar rumah sakit, saya pun berpacu dengan waktu. Mengejar 3 bulan sebagai golden period pemulihan itu. 

BAGAI HANTU MENAKUTKAN

Stroke bagai hantu yang menakutkan. Bayangan tak mampu berjalan lagi, takut tak mampu menulis lagi, bahkan lebih jauh takut tak bisa beraktivitas kembali. Saya cari akar permasalahannya, yakni depresi. Harus segera diatasi depresi yang saya rasakan. Karena depresi merupakan hambatan utama untuk pulih. Lantaran bawaannya malas dan hanya ingin tiduran saja.

Untuk mengatasi itu, saya tak hanya sekadar memompa semangat, tapi juga motivasi. Khususnya melihat istri saya yang setiap hari mulai jam 01.00 sudah harus bangun memasak untuk jualan nasi di pagi hari. Setelah itu masih harus mengurusi saya, mandi, BAB dan sebagainya. 

‘’Kalau saya tak segera bisa melakukan kebutuhan pribadi sendiri, kasihan dia.’’

Penyemangatnya saya peroleh usai tampil sebagai pembicara dalam pelatihan literasi mandiri di SMPN 12 Kota Madiun. Di situ semangat saya mulai meroket. ‘’Ternyata saya bisa. Ternyata saya masih berguna,’’ kata saya dalam hati. 

Padahal saat itu baru sebulan saya mengalami stroke dan hanya bisa duduk di kursi roda.

Saya harus berusaha keras untuk pulih. Tak peduli malam hari, ketika semuanya tidur, saya merayap cari pegangan dan berjalan ‘’trantanan’’ seperti bayi baru belajar berjalan. 

Pada bulan kedua saya sudah bisa berjalan tanpa alat bantu, dan bulan ketiga jari tangan sudah bisa gerak dan bisa mengetik di tuts keyboard komputer. Sejak itu saya bisa mulai menulis buku: ‘’MELAWAN STROKE.’’

Bulan-bulan berikutnya saya isi dengan melatih dan memperbaiki pola gerak. Karena saya menganalogikan sebagai seorang bayi yang harus belajar gerak. Termasuk berjalan. Sampai sekarang,... terus .. terus dan terus .... berlatih agar bisa berjalan dengan baik lagi.

SANTOSO2.jpgMengajar jurnalistik di SMPN 12 Kota Madiun.(FOTO: Dok. Santoso)

Saya pun sudah  tidak menganggap diri stroke lagi. Tapi menganggap diri sebagai anak-anak yang sedang latihan jalan. Saya sering bergurau dengan ibu-ibu di perumahan. ‘’Jalan saya kok kayak orang stroke ya.’’

Mereka heran, dalam kondisi stroke sementara ada beberapa tetangga yang senasib masih enak-enak tiduran, saya malah sudah berjualan nasi bungkus keliling kampung. Naik motor yang saya modifikasi menjadi roda 3. Mereka mana tahu, bukan uang yang saya kejar. Tapi saya justru melakukan terapi mandiri. Melatih keberanian dan kepercayaan diri lagi untuk bergaul dengan masyarakat.

Saya tak ingin mengungkung diri. Saya harus kembali ke tengah pergaulan masyarakat. Saya tak mau seperti yang lain. Hanya pasrah dan berkeluh kesah. 

stroke.jpg

Jujur saya bercermin dari Begawan Media Dahlan Iskan. Mau operasi ganti hati pun masih bisa bergurau. Masih bisa menulis. Sedang saya, hanya berupaya bagaimana memulihkan anggota badan yang error'. Maka, harus bisa.

Dari pengalaman sakit itulah,  saya —dan mungkin juga Pak Dahlan— punya satu pemahaman lebih terhadap kehidupan,  bahwa harta itu bukan segalanya.

SUPORT DARI TEMAN

Rasanya orang-orang sekelilingku sangat membantu dalam pemulihan stroke saya. Termasuk teman-teman yang memberi kesempatan kepada saya untuk menulis. Seperti mas Slamet Oerip Prihadi dari cowasJP.com, mas Juniarno Djoko Poerwanto dari New Malang Pos, dan mas Harry Tjahjono, dari Seide.id Jakarta.

Saya merasakan, ternyata menulis merupakan sebuah terapi untuk membantu pemulihan stroke saya. Dan dengan menulis membuat kepercayaan diri meningkat dan ......... MENJADIKAN HIDUP LEBIH HIDUP.(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda