Laporan dari Swiss (9)

Di Wengen Semua Kendaraannya Harus Tenaga Listrik

Foto: Dokumen Pribadi

Bagi penggemar film barat bertema action pasti familiar dengan film The Lord of the Ring. The Lord of the Ring adalah salah satu film bioskop terpopuler pada awal tahun 2000an. Film yang menceritakan tentang seorang bocah bernama Frodo yang mempunyai misi menghancurkan cincin di lembah api yang dikuasai dengan Sauron.

***

COWASJP.COM – Penikmat film ini pasti masih hafal dengan salah satu lokasi yaitu Rivendell. Tempat tinggal kaum Elves dan Kerajaan Elrond. Ya, salah satu inspirasi keindahan dari Rivendell yang terdapat banyak air terjun adalah Lauterbrunnen Swiss. Terletak sekitar 70 kilometer dari Bern - ibukota Swiss. 

Pesona itulah yang membuat weekend kami kali ini adalah mengunjungi desa cantik tersebut. Rute kami dimulai dari Lausanne - Lauterbrunnen - Wengen - Interlaken - Lausanne. 

Kami telah membeli tiket Day Pass seharga 59 CHF = Rp 932.200/orang yang bisa digunakan all in untuk naik kereta, bus, kereta gantung, dan juga kapal. Dan tiket ini bisa digunakan seharian penuh di tempat tujuan tersebut. 

Kadang kalau kita membeli jauh bulan (bukan jauh hari, he he he) sebelumnya bisa mendapatkan harga lebih murah, yaitu 29 CHF atau 39 CHF. Jadi liburannya sudah direncanakan secara matang terlebih dahulu agar bisa dapat diskon banyak. 

Kami berangkat dari Lausanne Gare (stasiun kereta api Lausanne) dengan kereta IR90 pukul 07.44 waktu setempat. Diperlukan 3 jam perjalanan untuk tiba di Lauterbrunnen. Ini pertama kalinya kami naik kereta jarak jauh yang cukup banyak transitnya. Dan, yang menantang: waktu untuk transit hanya 3-5 menit. Bismillah semoga nututi (cukup waktu) pindah kereta dengan membawa 2 anak kami: Zirco dan Zygmund. 

Rute perjalanan transit kereta melalui Lausanne Gare - Visp - Spiez - Interlaken Ost - Lauterbrunnen. Waah, banyak kaan. Tapi ternyata seluruh jadwal ini sudah diatur dengan perhitungan matang. Kedatangan kereta sangat tepat waktu, proses transfer kereta yang beda jalur juga begitu mudah cuma lumayan ngos-ngosan lari sambil dorong stroller ya. Takut telat ketinggalan. Hehe. 

Kami terpesona sekali dengan sarana transportasi di Swiss ini. 

ocky.jpgPemandangan di Lauterbrunnen. (FOTO: Okky Putri Prastuti)

Sebenarnya kalau telat tidak apa-apa sih karena ada kereta selanjutnya yang akan datang dan tiket day pass juga masih berlaku. Tapi sayang saja rasanya kalau waktu terbuang untuk menunggu kereta yang datang 30 menit kemudian. Belum lagi kalau dua bocah rewel selama perjalanan, jadi tambah tidak tenang waktu liburannya.

Alhamdulillah kami tiba di Lauterbrunnen pukul 11.00 dengan disambut cuaca cerah. Suhu kala itu mencapai 16 C. Dingiiiin sekali. Tapi kami sudah memakai jaket tebal karena sudah diingatkan teman harus membawa jaket. Kebetulan saya juga baru membeli second hand jaket winter berwarna pink ini dengan harga cukup terjangkau. Hanya 10 CHF = Rp 158.000 (1 CHF = Rp. 15.800). Saya membelinya dari teman kantor suami yang kebetulan akan kembali ke Indonesia dan menjual beberapa jaket winternya. Lumayan bisa menjadi OOTD (Outfit of The Day = pakaian hari ini) di liburan kali ini. 

Masya Allah, pemandangan di Lauterbrunnen sungguh luar biasa cantik dan mempesona. Selama ini saya hanya bisa memandang lewat Instagram ataupun searching melalui google. Namun sekarang bisa berkesempatan melihat keindahan ciptaan Tuhan secara langsung. Swiss memang salah satu kota terindah di dunia. 

Turun dari stasiun, kami langsung menyusuri desa Lauterbrunnen dengan jalan kaki. Sepanjang perjalanan kami menjumpai restoran, hotel, toko souvenir, dan juga tempat persewaan hiking. Layaknya Bali dan Lombok, desa ini merupakan salah satu wisata terkenal di Swiss yang tidak boleh terlewatkan. Tak heran di sini banyak turis yang berasal dari banyak negara.

ocky-kereta.jpgYellow Train di Wengen yang terkenal. (FOTO: Okky Putri Prastuti)

Menurut review yang kami baca, lokasi Chalet Pironnet adalah spot foto terbaik yang memiliki pemandangan indah desa Lauterbrunnen:  gereja dengan bangunan estetik, dan air terjun. Jepret sana jepret sini, foto berkali-kali untuk mendapatkan hasil terbaik. Sayangnya kami tidak bisa foto berempat, karena kalau selfie jadi tidak terlihat dengan jelas pemandangannya. Kami juga tidak terbiasa meminta bantuan orang lain untuk mengambil foto. 

Setelah puas berfoto kami melanjutkan perjalanan mengunjungi Staubbach Falls atau Air Terjun Staubbach. Air terjun terbesar di Lauterbrunnen. Kami berfoto di bagian bawah saja, tidak naik ke atas karena membawa bayi yang masih belum berumur 1 tahun. Kami memilih tempat wisata yang stroller friendly saja. Kenapa kok tidak digendong saja moms kan masih bayi? Iya sih, bisa juga digendong, tapi dorong stroller lebih gak capek moms, hehe. 

Sebelum melanjutkan ke destinasi wisata selanjutnya, kami istirahat makan siang terlebih dahulu. Kalau di Indonesia pasti sudah cek google untuk mencari makanan daerah apa yang menjadi tempat favorit kuliner. Kalau di sini karena tidak ingin uang belanja mingguan terpotong banyak, maka kami memutuskan untuk membawa bekal dari Lausanne. Bekal kami cukup sederhana yaitu nasi, ayam bakar, dan indomie goreng. Rasanya semakin mantab karena makan siang ditemani pemandangan yang sungguh luar biasa indahnya. 

Zirco ingin coba menaiki kereta gantung atau cable car dari Lauterbrunnen ke Wengen. Tapi ternyata stasiun kereta gantungnya masih tutup karena jam istirahat. Akhirnya kami memilih naik kereta. Jadwal keretanya setiap 30 menit sekali dengan waktu tempuh hanya 11 menit. Kereta yang didominasi warna kuning ini atau biasa dikenal dengan yellow train. Adalah salah satu kereta yang menjadi ikon di daerah Wengen. Wajib dicoba. 

ocky-wisata1.jpgLake Breinz (FOTO: Okky Putri Prastuti)

Kereta ini dilengkapi dengan jendela yang bisa dibuka sehingga penumpang bisa mengambil gambar atau video saat kereta melintasi tikungan-tikungan pegunungan yang pemandangannya sangat menakjubkan. Tapi kami kurang beruntung karena selalu salah dalam memprediksi arah laju kereta dan tempat pengambilan gambar yang terbaik. Kalau nawak (kawan) naik yellow train ini, ambil kursi sebelah kiri ya supaya rekaman videonya instagramable, hehe. 

SEMUA KENDARAAN BERMOTOR DILARANG MASUK WENGEN

Sesampai di Wengen - Desa Swiss Alpine, kami disambut udara yang lebih dingin, bisa mencapai 14 C. Kami langsung berburu tempat duduk yang terkena sinar matahari. Supaya tubuh terasa hangat dan tidak kedinginan. 

Suasana di Wengen lebih tenang dan udaranya sangat bersih. Mengapa? Tidak ada kendaraan bermotor di sini. Semua kendaraannya bergerak dengan tenaga listrik. Hanya mobil/kendaraan listrik yang boleh beroperasi. Itulah cara Swiss menjaga kebersihan alam wisata mereka. 

Apabila ada turis yang datang menggunakan kendaraan bermotor, maka kendaraan bermotor tersebut wajib diparkir di Lauterbrunnen. Semua kendaraan bermotor diharamkan masuk Wengen!

Banyak sekali turis yang membawa koper untuk menginap di sini. Ada pasangan muda, keluarga kecil, dan bahkan keluarga besar yang ingin berpesta. Kebetulan kami melihat sekelompok keluarga sedang membawa kue tart, balon, dan juga kado yang sepertinya akan merayakan pesta ulang tahun di Wengen.

Sudah cukup puas berwisata di Wengen sekitar 1 jam, kami memutuskan untuk kembali ke bawah dan melanjutkan perjalanan ke Interlaken. Ternyata dari Wengen ke Lauterbrunnen tidak tersedia kereta gantung. Kereta gantungnya hanya oneway Lauterbrunnnen – Wengen. Sayang sekali Zirco belum kesampaian menaikinya. But, it is okay, naik kereta pun juga tidak kalah menarik.

ocky-suami.jpg

Lauterbrunnen – Interlaken Ost hanya ditempuh selama 20 menit. Cukup dekat dan cepat. 

Kami sudah punya agenda untuk naik kapal yang menyusuri Brienz Lake (Sungai Brienz) menuju ke Iseltwald. Kami dibuat terpukau dengan Brienz Lake di mana airnya berwarna turquoise (hijau kebiruan) yang sangat jernih. Para penggemar Drakor (Drama Korea) pasti tak asing dengan nama Interlaken dan Iseltwald, khususnya yang pernah melihat Film Crash Landing on You. Diperankan oleh Hyun Bin sebagai Kapten RI seorang tentara dari Korea Utara dan Son Ye-Jin sebagai Yoon Se-ri seorang pengusaha muda berasal dari Korea Selatan. Yang belum nonton cus kepoin film tersebut. Lokasi syutingnya di Swiss yang salah satunya di Interlaken dan Iseltwald.

Namun lagi-lagi kami kurang beruntung untuk bisa naik kapal dari Interlaken Ost – Iseltwald. Hal ini dikarenakan jadwal pemberangkatan kapal pada hari Sabtu hanya pukul 19.10. Sudah terlalu malam bagi kami karena harus kembali ke Lausanne dengan kereta pukul 18.30. 

Tapi beda lagi buat kalian pembaca yang solo traveling ya, silakan coba kesempatan ini karena di Swiss saat musim panas matahari baru tenggelam pukul 21.00. Jadi, meskipun malam hari cuacanya masih cerah terang. Serta jadwal kereta dan bus pun masih ada hingga pukul 24.00. Tapi frekuensi kedatangannya sudah berkurang.

ocky-anaknya.jpg

Terus ngapain dong di Interlaken?? Tenaang, kami coba menuju ke Iseltwald menggunakan bus yang menurut google map jarak tempuhnya hanya 20 menit. Iseltwald adalah tempat Kapten Ri bermain piano di ujung dermaga untuk terakhir kalinya. Tapi akhirnya tidak jadi lagi kita ke sana karena lagi-lagi jadwal bus yang tidak begitu fleksibel. Waktu masih menunjukkan pukul 16.00. Kedatangan bus pukul 17.00, dan frekuensinya tidak sering. Menurut kami Lausanne – kota tempat tinggal kami -- adalah kota dengan transportasi publik yang sangat fleksibel. Setiap beberapa menit sekali ada dan pilihan rutenya pun banyak. 

Yang kami heran, mengapa Interlaken yang merupakan tempat wisata frekuensi angkutan umumnya rendah? Voila!! Kami memutuskan untuk pergi ke pusat kota Interlaken. Sama halnya di Bern, sepanjang jalan pusat kota banyak sekali toko-toko sebagai pusat perbelanjaan. Tapi kami tidak membeli apa-apa kali ini.  Zirco hanya ingin membeli es krim dan papi Fariz Hidayat ingin membeli kebab sebagai menu makan malam kami. Kebab di sini ukurannya sangat besar dengan harga sekitar 10an CHF. Bisa untuk 2 porsi orang Jawa, hehe, bukan porsi orang bule. 

ocky-wisata2.jpg

Saat mengunjungi tempat wisata seperti ini kami tidak perlu bertanya terlebih dahulu ke penjual seperti: “Apakah bisa Bahasa Inggris?” Atau kalau dalam Bahasa Prancis “pouvez-vous parler anglais?” Sebab ini tempat wisata yang banyak turis berdatangan dari berbagai negara. Maka kebanyakan dari warga Interlaken bisa berbahasa Inggris.  Bahkan di fasilitas umum seperti toilet tersedia 5 bahasa, yaitu Inggris, Jerman, Prancis, Cina, dan Jepang.

Waktu telah menunjukkan pukul 18.30, kami bersiap untuk naik kereta kembali ke Lausanne dengan menempuh jarak sekitar 160 kilometer. Cuaca masih cerah jadi masih bisa menikmati pemandangan danau turquoise yang indah serta pemandangan gunung yang terbentang menakjubkan. Semoga di musim dingin tiba nanti, kami bisa kembali ke sana untuk melihat keindahan bukit, gunung, danau yang tertutup oleh salju. Aamiin.(*

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda