Dul Hedi Mimpi Via Valen

Foto: Dokumen Pribadi

COWASJP.COM – Namanya Dul Hedi. Di Madura Dul Hedi aslinya Abdul Hadi. Ia asli Sampang, dari ibu asal Bangkalan. Baru 5 tahun. Masih di TK B. Menulis dan membaca masih sering dieja. 

Dia suka musik. Tayangan musik di TV dilahapnya. Tiap youtube yang diincar musik dan sosok penyanyinya.  Siapakah idola Dul Hedi? Si Via Valen nan ngetop itu. 

Penyanyi diva dangdut asal Sidoarjo itu memang sedang di puncak popularitas. Ia telah meraih jiwa Dul Hedi. Menjadi idola. 

Sama seperti kebanyakan ABG di sini, di Amerika, di Jepang, atau Eropa, jiwa Dul Hedi terbaring dalam “pangkuan” si Via Valen. 

Dia membayangkan bisa jumpa dengan pemilik tubuh atletis yang video klipnya seolah penghipnotis fans-nya. Ingin jabat tangan dengan pedangdut pop yang ngetop itu. 

"Ebuk (ibu) ayo ketemu Via Valen",  suatu hari Dul Hedi merengek pada ibunya.

"Kalau ketemu Via Valen mau diapakan Hedi?" tanya si ibu menggoda anaknya.

"Engko (Aku) mau salaman dan foto selfie buk," jawab anak TK itu polos.

***

Siapakah Via Valen, Ariana Grande, Shakira, Jeniffer Lopez (Je Lo), atau Agnes Mo? 

Penyanyi ataukah fenomena? Para artis penyanyi itu ibarat barang kemasan. Mereka mengubah otot perutnya dari montok lentur menjadi kenyal menggemaskan. Mereka cat bibirnya, tubuh, penampilannya, lalu meraih jiwa kita dengan tubuh mengelinjang yang memancing pesona.

Popularitas Via Valen, Ariana Grande, Shakira, Jeniffer Lopez, atau Agnes Mo, bukan semata-mata karena talenta menyanyinya. Kecuali itu, mereka all out sadar bahwa zaman kini adalah zaman kemasan. Era instant. Era serba cepat dan membuang.

Ketika popularitas mereka rengkuh dari nyanyi dan aksi panggung, film, dan dari lentur bibirnya saat menyanyi yang mereka tawarkan bukanlah kepiawaian buat menikmati seni dari balik alunan musik atau melodinya.

agnes.jpgAgnez Mo. (FOTO; instagram/agnesmonica.mo - okezone.com)

ABG, ibu-ibu, atau balita macam Dul Hedi tak sepenuhnya mengerti seni yang sarat estetika itu. 

Bagi anak-anak muda musik dan nyanyian Via Valen, Ariana Grande, Shakira, Jeniffer Lopez, atau Agnes Mo adalah trendi zaman dan kehidupan era milenial. Dan, sang idola adalah etalase dari kemasan gaya hidup.

Musik, hiburan, busana, informasi, pariwisata, dan produksi teknologi adalah komoditas dari kemasan gaya hidup masa kini. Ia produksi pasar. Cirinya, kata Adorno, bersifat erzat (semu). Instant, kata Alvin Toffler di zaman dulu. Nilai guna tunduk pada nilai kesan dan image. Kekuatan produksi kapitalisme modern terletak pada kemampuannya dalam mengubah rasionalitas nilai guna (kegunaan berdasarkan kebutuhan ekonomi dan konsumsi) menjadi rasionalitas makna, kesan, image, dan brand. 

via-valen.jpgVia Vallen salah seorang artis pembawa era baru dari kemasan gaya hidup instan. (FOTO: grid.id)​

Gejala yang mencuat dari gaya hidup instant ialah serba membuang. Begitu makna, kesan, dan image telah menjadi usang akan segera dilupakan. Musik, hiburan, informasi, busana, produksi teknologi menjelaskan dengan cukup sempurna berjalannya kolaborasi uang, pasar, teknologi, untuk produksi makna, kesan, dan image, serta brand tentang gaya hidup kemasan. Gaya hidup yang serba instant.

Mike Featherstone menulis: kolaborasi uang, pasar, teknologi, informasi, dalam rupa musik, hiburan, wisata, busana, dan sport (olahraga) telah menciptakan corak baru budaya dengan basis rasionalitas konsumsi massa.”

Hasilnya? Masyarakat materialis. Di sana nilai kehidupan diukur bukan lagi dari pemborosan konsumsi barang massa, tetapi justru yang paling utama ialah tersedianya liberte (kebebasan). Serba boleh. Dan, hedonis. 

***

Via Valen, Ariana Grande, Shakira, Jeniffer Lopez, atau Agnes Mo pembawa era baru dari kemasan gaya hidup instant. Mereka mendekonstruksi hubungan antarorang (baca: kaum muda) yang terikat oleh persyaratan etik, norma, tradisi, dan mungkin birokrasi sopan santun di masyarakat.

Lewat musik, nyanyian, busana, dan gerak tubuh mereka di atas pentas, dan film, atau video klip mereka membawa api revolusi gaya hidup milenialist. Mereka tawarkan liberalism. Hedonisme, atau cenderung serba boleh. Dan jangan lupa serba membuang. Semua atas produksi dan untuk konsumsi massa.(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda