Katib Aam PBNU Jadi Pembicara Peringatan Serangan WTC 9/11 di Regent University

Ketika Katib AamPBNU, KH Yahya C Staquf bertemu dengan Paus Fransiskus, Minggu 12 Januari 2020. (FOTO: Dok Istimewa - republika.co.id)

COWASJP.COM – Katib Aam PBNU Gus Yahya -- sapaan akrab KH Yahya Cholil Staquf -- kembali dipercaya menjadi pembicara di pertemuan tingkat internasional, yang membahas tentang pentingnya perdamaian global dan Serangan WTC 9/11. Kamis (9/9/2021). 

Gus Yahya diundang secara khusus oleh Regent University, Virginia, Amerika Serikat. 

Gus Yahya menjadi narasumber peringatan 20 tahun atas Serangan Gedung World Trade Center (WTC) New York, 11 September 2001.

Pembicara lain pada acara yang disiarkan secara internasional ini antara lain mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Pat Robertson, pendiri Regent University, tokoh-tokoh dari kalangan diplomatik, ahli dan pemegang wewenang militer, keamanan dan hukum, serta intelektual  AS. 

Dalam paparannya, Gus Yahya, sapaan akrabnya, menekankan bahwa pasca serangan WTC tatanan dunia membutuhkan pengelolaan yang semakin tangguh. Di antaranya adalah dengan menjaga keutuhan negara-bangsa yang ditopang lewat tradisi keagamaan dan budaya lokal yang kokoh dari serangan ideologi-ideologi transnasional. Ideologi itu bisa didasarkan pada identitas agama, etnik atau ras, maupun gagasan-gagasan sekuler. 

kusnin1.jpgGus Yahya. (FOTO: istimewa)

“Ini krusial sekali karena senyawa antara negara-bangsa, tradisi keagamaan dan budaya lokal adalah satu-satunya struktur dasar yang tersedia dalam tata dunia saat ini untuk mengelola proses negosiasi global menuju peradaban yang harmonis,” kata Gus Yahya yang memberikan paparannya melalui rekaman video.

Melalui kecermatan dalam pola adaptasi terhadap globalisasi tersebut, maka tatanan dunia diyakini akan semakin membaik. Namun sebaliknya, jika negosiasi ini gagal, maka ketegangan-ketegangan baru bisa saja tak terhindarkan.

"Negara-bangsa adalah pondasi tata dunia pasca Perang Dunia Kedua yang menopang stabilitas dan keamanan global saat ini,” tandas kakak kandung  Yaqut Cholil Qoumas Menteri Agama  RI ini.

Pada kesempatan itu, Gus Yahya juga menjelaskan potensi besar yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU) dengan tradisi keagamaan lokalnya yang kokoh serta bangsa Indonesia dengan visi “Bhinneka Tunggal Ika” membangun peradaban umat manusia. Melalui tradisi keagamaan lokal dan visi bangsa itu, Gus Yahya menilai proses perwujudan konsensus menuju peradaban global yang harmonis bukanlah impian.

Acara peringatan Serangan WTC 9/11 yang digelar Regent University ini dipandu langsung oleh Michele Bachmann, Dekan di The Robertson School of Government di kampus tersebut. Pada kesempatan itu, Michele Bachmann menyampaikan kekagumannya dan memberikan apresiasi pada pidato Katib Aam PBNU Gus Yahya. Bahkan Bachman menyebutnya sebagai suara muslim terdepan dalam menghadapi ekstremisme.(*) 

Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda