Alim

Oktila Leani Ratri (kiri) dan Sadiyah Khalimatus dengan medali emas ganda putri Paralympic Games Tokyo 2020, Sabtu, (4/9/2021) di Tokyo, Jepang. (FOTO: AP/ Yohei Nishimura - cnbcindonesia.com)

Namanya Khalimatus Sadiyah, panggilan akrabnya Alim. Gadis 21 tahun ini asli Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Siapa dia? Kalau sekarang Alim jalan-jalan di mal Jakarta atau Surabaya hampir pasti tidak banyak yang mengenali. Mungkin tidak akan ada orang yang mengajaknya selfie atau meminta tanda tangan.

***

COWASJP.COM – Coba bayangkan, kalau yang jalan-jalan di Plasa Tunjungan adalah Greysa Polii, pasti dia bakal diserbu dan dikerumuni banyak orang. Tidak peduli ada larangan berkerumun, publik pasti mengenali Greys dan berebutan minta selfie atau minta tanda tangan.

Greysia menjadi selebritas olahraga paling digandrungi masyarakat Indonesia sekarang ini, setelah berhasil memenangkan medali emas cabang bulutangkis pada Olimpiade Tokyo, Agustus lalu. Berpasangan dengan Apriyani Rahayu, Greys menjadi pasangan atlet yang paling dikenal oleh masyarakat Indonesia karena keberhasiannya itu.

Alim sebenarnya tidak kalah moncer prestasinya dibanding Greys dan Apriyani. Dia juga baru saja memenangkan medali emas cabang bulutangkis di arena Olimpiade internasional. Cuma, bedanya, Greys-Apriyani memenangkan medali emas Olimpiade, Alim yang berpasangan dengan Leani Ratri Oktila memenangkan medali emas Paralimpiade, olimpiade khusus untuk para difabel.

Bagi sebagian masyarakat, Paralimpiade dianggap sebagai ajang olahraga kelas dua, atau malah kelas tiga, dibanding Olimpiade. Karena itu kemenangan pasangan Alim-Leani tidak disambut gegap-gempita seperti kemenangan Greys-Apriani.

Setiap perhelatan olahraga multi-event selalu diikuti oleh perhelatan multi-event yang sama untuk kalangan difabel. Di level nasional, setiap ajang olahraga PON (Pekan Olahraga Nasional) langsung diikuti dengan pelaksanaan Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas). Demikian pula SEA Games di level Asia Tenggara dan Asian Games di level Asia, semuanya diikuti dengan pekan olahraga ASEAN Para Games dan Asian Paralympic.

Olimpiade Tokyo kali ini juga langsung diikuti dengan Paralympic di tempat yang sama. Bagi masyarakat internasional, even ini sama meriahnya dengan Olimpiade. Atlet-atlet difabel di negara-negara maju memperoleh status yang sama dengan atlet non-difabel. Para atlet difabel pemenang emas Paralimpiade memperoleh perngharagaan yang sama dengan pemenang emas Olimpiade.

Di Indonesia belum terjadi seperti itu. Karena itu kemenangan Alim-Leani tidak menimbulkan euforia nasional. Liputan media nasional juga kalah jauh dibanding liputan terhadap Olimpiade. Alim-Leani tidak akan mendapatkan guyuran hadiah sebagaimana yang diterima atlet Olimpiade.

Pesta Paralimpiade resmi ditutup Minggu malam (5/9). Kontingen China menjadi juara umum, disusul Inggris dan Amerika. Indonesia berada di urutan ke-43 dengan dua emas, tiga perak, empat perunggu. Dua emas didapat dari bulutangkis. Leani memborong emas bulutangkis ganda campuran bersama Hary Susanto. Capaian Leani ini tidak pernah dicapai oleh atlet lain dari Indonesia.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sudah menyampaikan ucapan selamat kepada Alim dan Leani. Capaian Alim, kata Khofifah, membuat bangga masyarakat Jawa Timur. Belum ada pernyataan pemberian bonus atau hadiah dari Khofifah.

Sekadar mengingatkan, atlet pemenang emas Olimpiade menerima bonus dari Presiden Jokowi sebesar Rp 5,5 miliar. Belum lagi bonus tambahan dari pengusaha dan kepala daerah. Rumah dan mobil menjadi bonus tambahan bagi atlet pemenang medali Olimpiade. Kali ini pemerintah Indonesia juga menjanjikan jumlah yang sama untuk atlet Paralympic.

ALIM.jpg

Atlet difabel Indonesia masih menjadi atlet kelas dua, yang masih sering mendapatkan perlakuan diskriminatif. Alim bercerita bahwa sejak masih kanak-kanak dia bertekad menjadi atlet profesional. Ia berlatih keras dan bergabung bersama atlet-atlet non-difabel. Banyak yang menyarankan agar ia berlatih terpisah dari atltet non-difabel, tapi Alim keukeuh berlatih dengan para atlet non-difabel.

Para atlet difabel dinaungi secara khusus oleh organisasi NPC (National Paralympic Committee) yang langsung dibawahi oleh organisasi paralimpik internasional IPC (International Paralympic Committee) yang sejajar dengan IOC (International Olimpic Committee) yang menyelenggarakan Olimpiade. Di Indonesia organisasi NPC terpisah dari KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) yang membawahi atlet-atlet non-difabel.

Di masa lalu olahraga para difabel dikategorikan sebagai olahraga rekreasi. Tapi, sejak 2005 diputuskan bahwa ajang olahraga difabel adalah ajang olahraga prestasi yang sama dengan Olimpiade. Ajang olahraga difabel internasional diselenggarkan oleh IPC dengan waktu penyelenggaraan berurutan dengan Olimpiade.

Di Indonesia kompetisi atlet difabel kali pertama diselenggarakan pada 1957 dengan nama Pekan Olahraga Penyandang Cacat (POR Penca). Lalu pada awal 1990-an pekan olahraga ini diubah menjadi Porcanas (Pekan Olahraga Cacat Nasional).

Penyebutan istilah cacat bagi atlet difabel terasa sebagai diskriminasi. Lalu pada 2005, seiring dengan terbentuknya IPC, Indonesia pun menyelenggarakan Pekan Paralimpiade Nasional (Papernas). Dengan ajang Papernas ini diharapkan diskriminasi terhadap atlet difabel bisa dihilangkan, dan para atlet difabel bisa diperlakukan sejajar dengan atlet non-difabel lainnya.

Diskriminasi di dunia olahraga menjadi penyakit yang diperangi secara internasional. Tindakan rasisme masih selalu terjadi dalam berbagai even olahraga. Dalam sepakbola, rasisme terhadap pemain berkulit hitam menjadi penyakit yang diperangi mati-matian, tapi sampai sekarang masih tetap bermunculan.

Dalam pertandingan sepakbola kualifikasi Piala Dunia antara Hungaria melawan Inggris Jumat (3/9/2021) dua pemain Inggris berkulit hitam, Raheem Sterling dan Jude Belingham, menjadi korban serangan rasisme suporter Hungaria. Setiap kali Sterling membawa bola suporter tuan rumah menirukan suara monyet untuk menghina Sterling.

Ketika kedua tim melakukan ritual berlutut sebelum pertandingan suporter Hungaria juga meneriakkan ‘’Booo’’. Berlutut sebelum pertandingan menjadi simbol yang dilakukan untuk melawan diskriminasi dan rasialisme di dunia sepakbola. Ritual ini diilhami oleh gerakan BLM (Black Lives Matter) di Amerika setelah kematian George Floyd karena disiksa polisi kulit hitam, Mei 2020.

Perlakuan diskriminatif juga dialami oleh atlet putri yang memperoleh perlakuan beda dari atlet putra. Kesetaraan gender masih menjadi isu yang diperdebatkan. Dalam turnamen tenis Grand Slam, misalnya, besaran hadiah antara petenis putra dan putri masih menjadi kontroversi.

Turnamen Amerika Serikat Terbuka sudah memberikan hadiah sama besar antara putra dan putri sejak 1973. Tetapi turnamen Wimbledon baru menyamakan besaran hadiah putra dan putri pada 2005. Berbagai federasi olahraga internasional didesak untuk menerapkan kesetaraan gender, tetapi dalam praktiknya hal itu sangat sulit diterapkan dan diskriminasi masih tetap berjalan.

Seorang atlet superstar sepakbola seperti Lionel Messi –yang sekarang bermain di Paris Saint Germain– bisa menerima bayaran 700 ribu Euro per minggu atau sekitar Rp 11,76 Miliar. (1 Euro = Rp 16.800). Karena bayaran yang sangat tinggi itu klub lama Messi, Barcelona, tidak mampu membayar meskipun Messi sudah menurunkan tarifnya.

Para atlet olahraga profesional di Eropa dan Amerika banyak yang bergelimang uang. Tapi, di Indonesia banyak atlet nasional yang miskin setelah tidak lagi menjadi atlet. Banyak mantan atlet berprestasi yang terlunta-lunta hidupnya, meskipun ia pernah mengharumkan nama bangsa.

Alim dan Leani telah membuktikan diri sebagai pahlawan nasional, dengan keberhasilannya menaikkan Merah Putih di arena Paralympic Tokyo. Lagu Indonesia Raya pun berkumandang seiring dengan naiknya Sang Saka Merah Putih.

Para pahlawan olahraga difabel ini layak mendapatkan penghargaan yang sama dengan para atlet lainnya. Kita tunggu. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda