Cerita Wayang Ringan

Prabu Duryudana Pusing

Prabu Duryudana (kanan) dan Patih Sengkuni. (FOTO: mediaindonesia.com)

COWASJP.COM – Penghuni kerajaan Astinapura sangat resah. Banyak orang meninggal secara mendadak. Pagi sakit malam meninggal dunia. Jumlah korban tiap hari terus meningkat.  

Sang raja Prabu Duryudana melihat Astinapura merasa sedih. Sebab pagebluk (pandemi) telah terjadi di mana-mana. Bahkan sudah melanda kerajaan sekitar Astinapura. 

Melihat situasi yang memprihatinkan, Sang Prabu tidak tinggal diam. Semua tabib yang ada di negeri ini dipanggil Sang Prabu Duryudana ke Istana. Para tabib pun menyampaikan segala upaya untuk menyembuhkan warga Astinapura yang sakit dan mendadak meninggal. 

"Apakah kalian sudah mendengar negeri ini sedang dilanda pagebluk?" tanya Prabu Duryudana.

"Mohon maaf Sang Prabu. Semua tabib yang hadir di sini sudah berusaha untuk menyembuhkan warga yang sakit," kata seorang tabib mewakili rekannya.

"Coba kamu ceritakan usaha kalian apa saja!" perintah Sang Prabu.

Ki Andana salah seorang tabib yang kesohor di Astinapura mengatakan kepada Sang Prabu bahwa pagebluk ini bukan penyakit sembarangan. Penyakit ini bukan berasal dari Astinapura. Pagebluk ini asalnya dari benua yang terkenal dengan nama kerajaan Tirai Bambu. 

"Ya kalau begitu apa usahamu sebagai seorang tabib?" pinta sang Prabu. 

Sambil menahan napas dan terdiam sejenak, Ki Andana mengatakan : "Maaf Sang Prabu. Saya sudah coba melawan pagebluk ini dengan membuat obat dari hasil alam yang ada di Astinapura. Namun pagebluk yang berasal dari negeri Tirai Bambu ini lebih ganas."

Prabu Duryudana tambah pusing mendengar penjelasan tabib  Ki Andana dan kawannya. Sang Prabu memang amat sayang kepada rakyatnya. Pagebluk tidak akan dibiarkan terus menerus melanda Astinapura.

Pada malam hari pun Prabu Duryudana sering menyendiri. Dia keluar Istana pada malam hari. Sang Prabu ingin cepat pagebluk di Astinapura ini segera menyingkir.

Prabu Duryadana memperoleh ide. Pagi harinya Sang Prabu Duryudana, penguasa Astinapura menggelar paseban agung.  Masalah yang dibahas hanya satu. Yaitu melawan pagebluk yang berasal dari kerajaan  Tirai Bambu. 

Para Penasihat Istana dikumpulkan. Mereka yang diundang untuk hadir adalah Resi Durna yang berasal dari padepokan Sokaliman, Patih Sengkuni  dari Plasajenar, dan tidak ketinggalan diundang Prabu Baladewa dari Mandura.  

Prabu Duryudana  mengatakan bahwa Astinapura sekarang ini lagi dilanda pagebluk.  "Rakyatku di sini sudah banyak yang meninggal. Pagi sakit sore meninggal," keluh Prabu Duryudana. 

Saat Resi Durna ditanya oleh Sang Prabu, Resi Durna langsung menjawab singkat. "Pagebluk yang terjadi ini akibat dampak dari tapa brata para Pandawa. Hawa panas dan dingin tak menentu. Banyak orang sakit pilek dan sesak napas. Pengaruh tapa brata ini sangat besar," kata Resi Durna.

Prabu Duryudana tanpa pikir panjang langsung menjawab uraian yang disampaikan Resi Durna.
“Resi Durna, apa benar dan ada faktanya laporan yang sampean sampaikan ini Ah ... jangan gampang menuding Pandawa yang lagi tapa brata. Mereka bertapa mempunyai tujuan suci dan mulia," kata Sang Prabu Duryudana. 

Patih Sengkuni yang mendengar jawaban Prabu Duryadana hanya manggut-manggut. Tak banyak komentar, hanya terdiam. Sifat asli Sengkuni tak terlihat saat pertemuan paseban agung di Astinapura. 

Prabu Baladewa yang memiliki sifat di antaranya tegas, jujur dan pemberani mulai angkat bicara. 
"Prabu Duryudana, sahabatku. Menyelesaikan masalah pagebluk ini tidak bisa diam. Kita harus mencari  akar permasalahannya," katanya

"Saudaraku. Apa ada usul darimu?" tanya Prabu Duryudana.

"Ini sekadar saran kalau Prabu dan yang hadir di paseban ini setuju," kata Prabu Baladewa.

"Silakan saudaraku. Jangan sungkan-sungkan, " timpal Prabu Duryudana. 

"Begini saudaraku. Perlu ada orang Astinapura yang harus berangkat ke  kerajaan Tirai Bambu," kata Prabu Baladewa.

Resi Durna dan Patih Sengkuni hanya terdiam. Kepalanya terlihat tertunduk. Keduanya sekali-kali melihat wajah Prabu Duryudana dan Prabu Baladewa. Ini sebagai isyarat dari Resi Durna dan Patih Sengkuni sangat setuju dengan apa yang disampaikan Prabu Baladewa. 

"Idemu bagus saudaraku," kata Prabu Duryudana

"Siap ... melaksanakan perintah saudaraku demi kemanusiaan," kata Prabu Baladewa.

Pertemuan di paseban Astinapura tak berlangsung lama. Pagi harinya Prabu Baladewa langsung berangkat ke kerajaan Tirai Bambu. Prabu yang pemberani ini langsung menghadap penguasa kerajaan Tirai Bambu. Tujuannya mencari tahu pagebluk yang sampai menyebar ke Astinapura. 

Walhasil .... Prabu Baladewa bisa mendapatkan penawar pagebluk yang berasal dari kerajaan Tirai Bambu tersebut. 

Hati Prabu Baladewa sangat senang ketika mendapat penawar dari penguasa kerajaan negeri Tirai Bambu tersebut.

"Saudaraku dari kerajaan seberang jangan keburu pulang dulu ke negerimu. Ayo kita lihat pemandangan alam di sekitar kerajaanku," kata penguasa kerajaan Tirai Bambu.

"Terima kasih saudaraku. Hamba harus bergegas pulang. Rakyat di Astinapura sedang menunggu penawar ini. Korban berjatuhan sudah banyak. Bukan saja masyarakat, tabib pun banyak yang terkena pagebluk ini," kata Prabu Baladewa. 

"Baiklah. Salamku kepada Prabu Duryudana di Astinapura," kata penguasa di kerajaan Tirai Bambu.

Di kerajaan Tirai Bambu, pagebluk yang menyerang Astinapura itu dikenal dengan virus Nano. Sedangkan bahasa di kerajaan benua barat dikenal dengan nama Coronavirus Disease (Covid-19).

Prabu Baladewa mendapat pesan khusus dari penguasa kerajaan Tirai Bambu sebagai berikur : 

1/ Sejak adanya pegebluk ini, warga Astinapura wajib menggunakan tutup muka dari hidung sampai mulut (masker).

2/ Rajin mencuci tangan dengan sabun.

3/ Selalu menjaga jarak. 

Warga Astinapura pun tidak boleh berkerumun. Boleh juga kalau lagi ngopi di warung, tapi tidak lebih dari lima orang dan menjaga jarak. 

Mendengar berita ini sebagian warga Astinapura senang. Dan berharap pagebluk akan berakhir. Entah berapa lama lagi. (*) 

Penulis: K. Sudirman, Wartawan Senior di Surabaya.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda