Bindara

Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari (kanan) dan suaminya Hasan Aminuddin. (FOTO: Instagram/ @hasan_aminuddin - seputartangsel.pikiran-rakyat.com)

Bindara adalah sebutan masyarakat Madura terhadap seseorang yang punya kedudukan ningrat yang tinggi. Sebutan itu bisa juga dipakai untuk menyebut seorang ulama yang dihormati. Logat Madura mengucapkannya sebagai ‘’bindereh’’, lidah orang Jawa mengucapkannya ‘’bendoro’’ atau ‘’ndoro’’, yang berarti tuan.

***

COWASJP.COM – Bindara adalah sebutan feodalistik warisan sejarah di Madura. Sekarang sebutan ini sudah jarang dipakai, kecuali untuk sebutan-sebutan informal dalam pergaulan sehari-hari. Sebutan bindara saat ini punya arti mirip dengan bos untuk menyebut orang kuat. 

Penangkapan Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari dan suaminya, Hasan Aminuddin, menjadi kejutan politik paling besar di Jawa Timur tahun ini. Ketika KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sedang ramai disorot karena berbagai problem internal, operasi tangkap tangan ini seperti menjadi air segar bahwa KPK masih bertaji, setidaknya sampai sekarang.

Masyarakat belum tahu bagaimana jadinya KPK pasca-pemecatan Novel Baswedan dan kawan-kawan. Operasi tangkap tangan Probolinggo ini merupakan hasil kerja lama dari tim KPK di bawah Harun Al Rasid yang masuk dalam gerbong pemecatan.

Hasan Aminuddin dikenal sebagai orang kuat di Probolinggo. Selama 20 tahun terakhir ia menguasai perpolitikan Probolinggo. Setelah dua periode menjadi bupati yang tidak terkalahkan, Hasan mewariskan kekuasaannya kepada istri sambungnya, Puput Tantriana Sari.

Karena posisinya yang kuat di Probolinggo, Hasan sering disebut sebagai bindara. Ia mendesain istrinya untuk meneruskan kekuasaan sejak 2013. Di bawah pengaruh sang bindara, pemerintahan Puput berjalan lancar dan bisa berlanjut sampai dua periode sampai 2023.

Selepas menjadi bupati, Hasan menjadi anggota DPR RI dari Partai Nasdem, dan sekarang memasuki periode kedua setelah kembali memperoleh kursi pada pemilu 2019 yang lalu. Meskipun sudah tidak menjabat bupati, tapi pengaruh Bindara Hasan tetap dominan melalui sang istri.

Kisah perjalanan pasangan ini bisa menjadi serial sinetron yang menarik. Perpaduan antara cerita politik dan cerita pribadi yang penuh warna. Hasan bercerai dari istri pertama dan kemudian menikahi Puput. Ketika dinikahi Hasan, Puput adalah karyawan di Bank Jatim. Ia melepas jabatan itu untuk menjadi ‘’ibu negara’’ di Probolinggo.

cowas.jpgBupati Tantri kukuhkan 74 anggota Paskibraka Kabupaten Probolinggo. (probolinggokab.go.id)

Kisah fairytale Puput mirip drama korea. Sebagai wanita yang tidak punya pengalaman politik, Puput belajar cepat. Terbukti Puput adalah pembelajar yang baik. Meskipun tidak punya pengalaman politik yang cukup, tapi dengan dukungan sang suami dia bisa memenangkan kontestasi politik lokal dua kali.

Kali ini drakor Puput tidak happy ending, tapi malah menemui tragic ending. Karir politiknya melesat cepat seperti meteor, tapi kemudian jatuh dengan cepat ke bumi hancur berantakan. Kolaborasinya dengan Hasan seperti kolaborasi ‘’family in arms’’ bahu-membahu mengendalikan kekuasaan politik lokal.

Hasan Aminudin adalah tipe politisi lokal yang cerdik dan pintar. Probolinggo adalah daerah tapal kuda dengan mayoritas penduduk berlatar belakang budaya Madura. Orang-orang Madura daratan ini sering disebut sebagai ‘’pendalungan’’. Tradisi politik kalangan pendalungan ini hampir sama masyarakat Madura mainland yang kental dengan tradisi santri khas nahdhliyyin.

Sebagai politisi yang berbasis tradisi nahdhliyyin, Hasan memulai karir politiknya bersama PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) di Jawa Timur. Pada masa-masa awal reformasi itu generasi muda politisi nahdhliyyin bermunculan di Jawa Timur. Selain Hasan Aminudin ada Choirul Anam yang ketika itu menjadi rising star. Ada juga Saifullah Yusuf, Khofifah Indar Parawansa, dan beberapa kader muda berbakat lainnya.

Mereka adalah ‘’The Gus Dur Boys’’, anak-anak muda yang dikader oleh Gus Dur, langsung maupun tidak langsung. Saifullah Yusuf dan Muhaimin Iskandar, misalnya, dikader langsung oleh Gus Dur dengan membawa mereka ke Jakarta. Dua orang ini adalah kader elite karena mempunyai hubungan darah dekat dengan Gus Dur.

cowas1.jpgBupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas. (FOTO: Ipuk for TIMES Indonesia)

Para kader muda ini menjadi tulang punggung perkembangan awal PKB. Tapi, dalam perjalanannya para kader ini mengambil jalan sendiri-sendiri. Masing-masing bersaing memilih jalan politiknya sendiri. Hasan Aminudin keluar dari PKB dan sekarang bergabung dengan Nasdem. Choirul Anam, sempat menjadi ketua PKB Jatim, tapi kemudian keluar dan mendirikan partai baru PKNU (Partai Kebangkitan Nahdhatul Ulama), tapi tidak terlalu sukses.

Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, bersaing dengan Khofifah dalam perebutan kursi gubernur Jatim pada 2019. Khofifah yang menjadi Ketua Muslimat NU pusat menguasai jaringan suara ibu-ibu nahdhliyyin, sehingga bisa mengungguli Gus Ipul.

Gus Ipul yang sudah cukup matang di bawah tempaan Gus Dur, masih bisa survive dengan menarik diri ke pertarungan politik lokal. Pada pilkada 2020 Gus Ipul maju sebagai calon walikota Pasuruan, kampung halamannya, dan sukses mengalahkan petahana. Gus Ipul sekarang menjalani periode pertama sebagai walikota Pasuruan.

Hasan Aminuddin juga lebih memilih fokus pada politik lokal. Setelah terlibat dalam kemelut panjang dengan PKB, Hasan keluar dari partai yang membesarkannya. Tapi, Hasan terbukti punya kecerdikan dan kejelian politik tinggi. Ia bisa menjadi bupati dua periode dan nyaris mutlak menguasai politik lokal Probolinggo.

Hasan sudah mendesain masa depan politiknya dengan cermat. Puput Tantriana Sari terbukti bisa menjalankan skenario dengan baik. Selama memimpin Probolinggo Puput termasuk pemimpin yang populer. Wajahnya yang cantik dan pembawaannya yang luwes membuat Puput sangat populer di kalangan warga Probolinggo.

Hasan Aminuddin bukan satu-satunya tokoh yang menerapkan politik dinasti di Jawa Timur. Di beberapa daerah lain di Jawa Timur juga banyak kepala daerah yang mewariskan kekuasaan kepada istri untuk membentuk dinasti baru.

Di Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas yang menjabat dua periode sekarang pensiun dan mewariskan kekuasaannya kepada istrinya, Ipuk Fiestiandini. Di Kota Batu, Eddy Rumpoko yang sudah menjabat dua periode mewariskan kekuasaan kepada istrinya, Dewanti Rumpoko, menjadi walikota baru. Eddy Rumpoko sekarang masih menjalani hukuman karena kasus korupsi.

cowas2.jpgWalikota Batu Dra. Hj. Dewanti Rumpoko MSi (FOTO: Muhammad Dhani Rahman/TIMES Indonesia)

Praktik politik dinasti tidak semuanya berjalan mulus. Penangkapan Hasan Aminuddin menunjukkan bahwa ada sisi-sisi gelap dalam praktik-prktik politik dinasti. Orang-orang kuat di politik lokal seperti Hasan pada akhirnya harus jatuh karena jebakan korupsi.

Kasus mantan bupati Bangkalan, Fuad Amin Imron juga menjadi bukti bahwa politik dinasti lokal banyak menyimpan praktik-praktik gelap. Fuad Amin menjadi bupati Bangkalan selama dua periode. Sebagaimana Hasan, Fuad adalah penguasa politik lokal yang ‘’undisputed’’, seng ada lawan, nyaris tidak ada yang bisa melawan.

Setelah selesai dua periode Fuad mewariskan kekuasaannya kepada sang anak dan Fuad kemudian hijrah ke Jakarta menjadi anggota DPR RI. Fuad kemudian ditangkap tangan oleh KPK dan divonis 13 tahun penjara. Fuad meninggal dunia di tahanan pada 2019.

Fuad adalah contoh ‘’local political warlord’’ yang sangat powerful. Meskipun sudah tidak menjabat sebagai bupati, dia masih tetap mengendalikan politik Bangkalan. Bahkan, saat berada di penjara pun Fuad masih menjadi orang yang sangat berpengaruh dalam politik lokal.

Politik selalu punya sisi-sisi gelap yang menjadi jebakan yang memakan tuannya sendiri. Dua orang bindara yang powerful seperti Fuad Amin dan Hasan Aminudin, akhirnya harus jatuh karena permainannya sendiri. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : kempalan.com

Komentar Anda