Redaktur di Era Orde Baru

Terjepit di Antara Dua Kepentingan

Amang Mawardi (kiri) pernah dicopot dari jabatannya sebagai Wapimred.

Jadi redaktur di zaman Orde Baru bagaikan makan buah simalakama. Bahkan juga terjepit di antara dua kepentingan yang berbeda. Berikut pengalaman Santoso, wartawan senior di Madiun, yang pernah menggawangi halaman Jawa Timur Jawa Pos di zaman Pak Harto berkuasa.

***

COWASJP.COM – Saya menyimak tulisan mas Amang Mawardi, seorang wartawan senior di Surabaya. Ia pernah dicopot dari jabatannya sebagai wakil pemimpin redaksi di sebuah harian. Ini gara-gara halamannya katutan (memuat) berita yang dianggap miring oleh penguasa.

Tentu ini bukan karena perusahaannya. Namun tentu ada campur tangan kuat yang membuat mas Amang Mawardi harus merelakan jabatan  moncer dan strategis di sebuah media mainstream itu.

Tapi mas Amang masih beruntung hanya dicopot dari jabatan. Pengalaman tidak enak pernah dialami oleh anak buah saya dari Pasuruan. Dia diciduk dari rumahnya, kemudian ‘’diamankan’’ (baca: ditahan) di salah satu institusi bukan hukum. Apalagi tanpa melalui prosedur hukum. Gara-garanya apalagi kalau bukan berita yang dianggap miring

Hampir sebulan ia diamankan di Surabaya. Begitu dibebaskan, ia tampak kurus dan pucat. Bukan karena tidak dijamin makanannya, atau menerima perlakuan buruk. ‘’Saya dijamin makan minum dengan sangat baik, saya juga tidak mengalami kekerasan fisik. Bahkan saya juga bebas mondar-mandiri di stu. Tapi mental saya dibuat down,’’ katanya kepada saya.

Setiap malam menjelang tidur, ada saja yang bicara di luar tempat dia tidur, yang membuat nyalinya jadi ciut. ‘’Sudahlah wartawan itu kita tembak saja di belakang situ,’’ begitu yang ia dengar. Tentu saja hal itu membuat pikirannya tidak tenang.  Pikirannya, bisa pulang apa tidak.

Bagaimana proses pemeriksaannya?

‘’Saya tidak pernah diinterogasi. Ya cuman diamankan itu,’’ katanya tertawa. Namanya wartawan, dalam kondisi seperti itupun masih bisa dijadikan guyonan.

Jadi redaktur atau penanggungjawab halaman di zaman itu memang lumayan berat. Apalagi di media besar sekelas Jawa Pos waktu itu. Dan saya pegang rubrik Jawa Timur yang beritanya beragam, menyangkut poleksosbudhankam. Betul-betul posisinya terjepit antara dua kepentingan. Baik dari unsur ekstern maupun intern.

Dari ekstern. Kalau ada berita yang menyangkut institusi tertentu, maka bisa dipastikan saya ditelepon oleh petingginya. ‘’Pak San, tolong ya berita hari ini dicermati,’’ katanya. ‘’Siap ndan,’’ begitu pasti jawab saya. Saya paham, ‘’dicermati di sini artinya jangan dimuat.

Biasanya kalau berita seperti itu, saya gampang memberikan pengertian kepada wartawan yang menulis berita. Karena sudah sama-sama maklum. Kondisinya memang begitulah. Bebas bertanggungjawab.

Yang agak sulit kalau ada campur tangan  intern. Khususnya kalau ada demo di sebuah perusahaan besar. Sore-sore bagian iklan mendatangi ruangan saya dan bilang, ‘’Pak San, berita di perusahaan XXX tadi tolong dipending ya. Karena langganan pasang iklan besar,’’ begitu katanya. 

AMANG1.jpgSantoso, masih culun saat jadi redaktur Jawa Timur Jawa Pos.

Lagi-lagi saya hanya bisa menjawab, ‘’Siap cik.’’

Kalau sudah begitu, esok harinya saya ganti harus berhadapan dengan wartawan. Ia pasti mencak-mencak.  ‘’Gimana kita capek-apek di lapangan, panas-panas nungguin satu berita. Kok beritanya tak dimuat. Kalau kecolongan berita dimarahi habis-habisan, begitu dapat berita bagus gak dimuat,’’ teriaknya.

Itu masih belum cukup, wartawan itu menilai kami membunuh karakternya (character assassination) sebagai wartawan 

‘’Saya di lapangan menghadapi masyarakat. Belum lagi penilaian wartawan lainnya. Dikira saya disogok oleh perusahaan, agar tidak menulis berita itu,’’ katanya menggebu-gebu. 

‘’Dan mereka tidak mau tahu alasan kita,’’ tambahnya.

Saya tak menyalahkan wartawan. Saya paham. Sebagai market leader di Jawa Timur, Jawa Pos termasuk koran yang disegani. Dan ditunggu beritanya. 

Sudah jamak kalau banyak pihak yang ngelus-elus dan berbaik-baik dengan wartawan di daerah. Selain itu, garda selanjutnya yang didekati adalah redaktur daerahnya sebagai pengendali pemberitaan, sekaligus orang yang dianggap berkuasa untuk menurunkan atau tidak menurunkan sebuah berita.

IMING-IMING FASILITAS

Jujur saya katakan, kalau ingin lebih kaya lagi, saat jadi redaktur Jawa Timur Jawa Pos itulah merupakan kesempatan emas. Betapa tidak. Banyak pejabat daerah yang ngiming-imingi berbagai fasilitas woowoww ..... Mereka sering menghubungi, dari sekedar minta nomor rekening sampai fasilitas lain. ‘’Pak San, di sini sedang dibangun perumahan baru. Monggo silakan ambil, urusan lain gampang nanti,’’ begitu salah satu penawaran dari seorang pejabat daerah.

Tapi saya bersyukur, tak pernah tergiur dengan iming-iming semacam itu. Selain di Jawa Pos ada aturan tidak boleh menerima fasilitas termasuk amplop, saya selalu ingat nenek saya yang mewanti-wanti ‘’ojo nguber uceng kelangan deleg’’ (jangan memburu ikan kecil tapi kehilangan ikan besar). 

Karena itu saya biasa saja dan hanya tersenyum ketika ada teman yang heran, mantan redaktur Jawa Pos kok sampai rumah saja ngontrak. Yah namanya perjalanan hidup. Saya masih beryukur, yang diambil Tuhan hanya harta. Saya tak bisa bayangkan seperti korban tsunami, bukan hanya harta yang lenyap, tapi nyawa sekeluarga pun ikut diambilNya. Karena itulah,.. sampai sat ini dalam kondisi apa pun, saya tetap bersyukur.(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda