In Memoriam H. Iwan Syafie'i

Berakhir Sudah ”Renungan” Kiriman Promotor Dermawan Itu

Cover buku tentang Mas Iwan Syafie'i berjudul: Adzan Tengah Malam. (FOTO: Tokopedia)

COWASJP.COM – Hari ini, Senin (19/07/2021), “Renungan” yang setiap hari dikirim via japri WA (WhatsApp) itu tak lagi terbit. Pengirim pesan penuh hikmah, yang aktif nge-share hasil copasan (copy paste) ini, sehari sebelumnya, masih sempat beraktivitas.

Kiriman terakhir “Renungan” itu, tertera di sudut kanan bawah tertulis pada jam 02.05. Ahad dinihari 18/7/2021. Materi renungannya sangat istimewa. 

Selalu diawali dengan ucapan salam, ”Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh.” Dan, pesan penutupnya senantiasa diakhiri dengan kalimat dan bahasa yang santun, serta menyejukkan hati.

Kalimatnya seperti ini:
Sebagai Penutup
Marilah kita sekarang ini berdoa dan bertobat, sekaligus membuat komitmen baru untuk menjalani hidup ini dengan lebih berarti
Semoga dengan niat baik ini Allah SWT memberikan kelancaran dalam segala urusan kita... 
Keberkahan dalam rezeki kita... 
Dijaga dari segala mara bahaya... 
Diluaskan rezeki kita... 
Dijaga aqidah kita beserta keluarga dan anak cucu dari segala aliran dan ajaran yang menyimpang... 
Dan ditutup umur kita semua dlm keadaan husnul khotimah... 
Aamiin Yaa Robbal Aalamiin..
Monggo Tahajud Tahajud

*

Sungguh! Saya tak menyangka, H Iwan Syafie’i, si pengirim pesan dan pemilik nomor WA itu, hari itu juga, Ahad (18/07/2021) dikabarkan meninggal dunia. Kabar ini saya peroleh dari japri rekan seprofesi, Dhimam Abror Djuraid.

Kaji Abror, biasa saya memanggilnya, mengirim berita duka yang sudah ditayang di media online miliknya. “Asww. Akhi, tlg nulis obituary almarhum untuk kempalan.com syukron…”

“Ya Allah … Inna lillahi wainna ilaihi rooji’uun,” tulis balas saya kepada Kaji Abror yang dibalas lagi olehnya, ”Husnul khatimah insyaAllah.”

“Saya balas lagi, ”Bismillahi Masya Allah.”

Almarhum Iwan Syafie’I yang biasa saya panggil Mas Iwan, belakangan dikenal sebagai tokoh sepak bola. Selain pernah mendirikan PS Mintorogo, klub yang dihuni karyawan PT Bentoel Malang di Surabaya, dia juga pemilik PS Bentoel Galatama di Jember.

Sebelum akrab dengan pemain-pemain sepak bola, Mas Iwan sebenarnya lebih banyak berkiprah di dunia artis sebagai promotor. Entertainment. Tak heran jika gaya dan penampilannya selalu trendi. Elegan!

iwanfd9df.jpgH. Iwan Syafie'i.(FOTO: Facebook)

Perangkat pakaian dan asesori yang dikenakan bak seorang artis. Perawakan dan wajahnya sangat mendukung untuk hidup di lingkungan mereka. Apalagi parfumnya cukup semerbak. Harum!

Suatu kali, Mas Iwan ingin menunjukkan kepada saya, bahwa dirinya bukan hanya dekat dengan pemain sepak bola top di Jawa Timur. Pria kelahiran Blimbing-Malang ini, mengajak saya untuk menjadi asistennya. Sebagai co-promotor para artis.

Event yang digelar Mas Iwan kala itu di Banjarmasin. Dia mengundang pelawak beken Surabaya. Ada Tessy, ada Bambang Gentolet dan pelawak Srimulat lainnya. 

Penyanyi yang dihadirkan Ayu Laksmi. Lady rocker jelita. Adik kandung penyanyi lokal Ayu Wedayanti. Laksmi masa itu, lagi naik daun. Ia pemeran utama film remaja. “Lupus” yang  Box Office itu.

Di gelaran itu, Mas Iwan berharap sukses. Stadion yang disewa penuh sesak. Penonton meluber. Eh, ternyata?

Estimasi penjualan tiket tak mencapai target. Event besar tersebut tak bisa diselamatkan. Jika diteruskan panitia babak belur.

Mas Iwan ambil keputusan. Event bergengsi itu dia batalkan dengan berbagai alasan. 

Namun, Mas Iwan tidak lari dari tanggungjawab. Dia tetap komit. Semua urusan diselesaikan.

iwan24f436.jpgIwan Syafie'i (no 2 dari kiri) bersama mantan bintang dan tokoh sepakbola di Jatim. (FOTO: istimewa)

Saya sebagai Co-Promotor ditugasi membayar honorarium artis. Bayaran mereka tak dikurangi. Tetap seusai komitmen di awal. Sehingga tidak ada komplain. Malah mereka berterima kasih.

“Bos Iwan orangnya fair. Kasihan dia, walau event gagal, dia tetap bayar kita-kita he he,” ujar Laksmi disambut senyum Ayu Weda, kala itu.

Bambang Gentolet dan Tessy pun pulang dengan senyum. Malah kedua pelawak ini menyebut Mas Iwan sosok promotor yang dermawan. 

“Bukan hanya saat manggung, di luar panggung pun, kami sering ngrepoti dan dia bantu. Makanya, diundang kemana pun saya berangkat,” aku Gentolet.

KYAI AS’AD SYAMSUL ARIFIN

Di kalangan pesepakbola, Mas Iwan juga kondang di usia mudanya. Saat masih menjabat sebagai salah satu manajer promosi PT Bentoel Perwakilan Surabaya, dia bersama bosnya mengelola klub sepak bola karyawan PS Mintorogo.

Klub internal yang berlatih di Gelora 10 Nopember Tambaksari ini, juga diikuti pemain bintang Persebaya yang tergabung dalam Klub Suryanaga. Maklum, salah satu bosnya, aktif sebagai pengurus klub anggota Kelas Utama Persebaya itu.

Di mana pun berada, naluri bisnis Mas Iwan tidak pernah pudar. Begitu akrab dengan pemain dan tokoh sepak bola, dia nekad bikin event. Membuat turnamen sepak bola.

Turnamen yang digekar tidak ecek-ecek. Mulai Piala Bentoel sampai Piala Surabaya. Awal pesertanya klub-klub besar di Surabaya. Kemudian berkembang menjadi turnamen nasional, karena diikuti tim perserikatan dan Galatama.

iwan3704b6.jpgIwan Syafie'i bersama isteri dan puterinya saat menunaikan ibadah haji tahun 2004.(FOTO: Facebook)

Tidak sampai di sini. Obsesi Mas Iwan untuk memiliki klub sepak bola sendiri sangat kuat. Ia melihat peluang untuk itu paling besar ada di Jember. Apalagi di kota ini penduduknya banyak yang merokok.

Maka, PS Bentoel Galatama berdiri. Mantan Kapten Persebaya dan bintang Niac Mitra Rudy William Kelces ditunjuk sebagai manajer coach. Mas Iwan yakin, PS Benteol bakal bekibar.

Agar semua lapisan masyarakat bisa menerima keberadaannya, Mas Iwan mengajak saya dan wartawan Memorandum Joko Tetuko, memohon ijin tokoh masyarakat di Situbondo. KH As’Ad Syamsul Arifin.

Apa hubungannya? “Wah otak dan akal sampeyan pancen encer,” seloroh saya ketika ide itu muncul di tengah kami lagi kongkow-kongkow di sebuah klub malam.

“Wis ojo kakean omong ayo budal saiki. Abis Subuh sudah sampai pondok beliau,” ajak Mas Iwan, yang malam itu juga kami bertiga bertolak ke Ponpes Salafiyah Syafi’iyah di Desa Sukorejo, Asembagus itu.

Betul estimasi Mas Iwan. Kami sampai di pondok Sang Kyai, yang lahir di Mekkah dan kondang dengan ilmu metafisiknya ini, pas saat santri dan santriwatinya usai subuhan.

Pas, waktu duha, Kyai As’ad keluar dari kamarnya, menuju serambi yang sudah ditunggu banyak jamaah. “Sampeyan dari mana?” tanya kyai yang langsung dijawab Mas Iwan dari Surabaya. “Wah jauh ya,” imbuh Kyai As’ad, ramah.

Tamu yang lain terkesima, melihat kedatangan kami. Sama-sama tidak diundang, tapi, kami dapat perhatian lebih. Dipanggil lebih dulu. 

iwan450b81.jpgH Iwan Syafie'i yang dandy dan dermawan. Lahir 20 April 1950 di Malang.(FOTO: Facebook)

Kami pun langsung mendekat. Merapat dekat tempat duduk Sang Kyai.

“Tujuannya?” tanya Kyai lagi. Mas Iwan agak ragu menjawabnya, ”Pertama, kami ingin sowan dan silaturahmi. Kedua, kami ingin mendirikan klub Galatama. Namanya Bentoel Yai. Mohon doa restunya.”

Sang Kyai terkejut, ”Ha. Apa itu Galatama? Yang penting, kalau membuat sesuatu itu yang tidak mudlarat. Banyak manfaatnya untuk masyarakat,” pesan Kyai.

Kami pun menganggukkan kepala. Kyai kemudian menanyai kami berdua. Yaitu tentang pekerjaan. Ketika saya jawab pekerjaan saya wartawan, Kyai berseloroh, ”Matinya melet.. he he.”

Tak lama kemudian kami pamitan. Mas Iwan kemudian bersalaman dan memberikan amplop. Namun ditampik Kyai. Segebok uang warna hijau itupun langsung ambyar. Terburai di lantai.
 
“Bawa saja,” tolak Kyai. Uang yang kami kutip lagi itu kemudian saya kembalikan ke Mas Iwan. Dia menolak. Kami disuruh membawanya.

Sesampai di Surabaya, dia juga tetap memberi kami uang, sebagai jasa dan dianggap jam lembur keluar kota.
 
Itulah jiwa Mas Iwan. Dia sangat loman (dermawan) tatkala punya uang. Tidak sedikit pemain sepak bola yang mengalami kesulitan ekonomi dibantu tanpa pamrih. 

Mas Iwan juga sering mengadakan syukuran. Mengundang legenda bola dan pemain aktif ke rumahnya. Adakalanya untuk buka bersama atau halal bihalal.

Di masa tuanya, Mas Iwan juga mengaktifkan sepak bola khusus para veteran. Bahkan mereka sering diajak sparing dan membuat pertandingan kangen-kangenan. 

“Tujuan saya supaya silaturahmi ini terjaga. Awakmu kalau ada waktu ikut gabunglah,” pintanya.

Bukan hanya ringan tangan. Langkah kaki Mas Iwan juga sangat ringan. Ia selalu hadir di acara apa saja, yang berkaitan dengan sepak bola dan rekan sejawatnya.

Mas Iwan tak pernah absen mengantar jenazah pemain atau pengurus sepak bola yang meninggal dunia. Kali terakhir kami bertemu, saat memakamkan Budi Juhanis. Legenda playmaker ekselen Persebaya  yang meninggal dunia setelah terserang stroke.

Pria yang di akhir hayatnya dipanggil Abah oleh para pemain ini, memang, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk keluarga dan ibadah. 

Salah satu ibadah yang tak bisa ditinggalkan adalah menyampaikan pesan dengan kata-kata mutiara dari kopi paste “Renungan” yang di-share ke rekan-rekannya itu.

Saya bersaksi Mas Iwan orang baik. Suka menolong sesama. Peduli terhadap siapa saja. 

Selamat Jalan Mas. Bismilillahi Husnul Khatimah!

Saya terkesan dengan “Renungan” yang pernah saya kutip untuk media saya. Apalagi kiriman “Renungan” mu yang terakhir itu. Sangat dalam. Jeru banget! 

Semoga semua yang kau siratkan menjadi amal jariyahmu. 

Berikut ini petikan “Renungan” yang dikirim terakhir almarhum:
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

RENUNGAN 

Allah swt adalah cahaya yang khas, yang didapati orang mukmin, dan dengan amal salehnya ia memperoleh hidayah. Cahaya itu ma’rifat yang menjadikan hatinya tersinari pada hari ketika hati orang-orang tidak menentu, dan yang mengantarkan dirinya pada kebahagiaan yang kekal.

Orang beriman (mukmin) dengan amal salehnya mendapat hidayah menuju cahaya Ilahi, ma’rifatullah. Cahaya itu mengantarkan dirinya pada sebaik-baik karunia dan pahala dari Allah swt, pada hari tersingkapnya hijab dari hatinya. Hal ini berbeda dengan orang tak beriman , bahwa amal perbuatannya tidak membawa dirinya kecuali kesia-siaan, dan dalam kegelapan tanpa cahaya baginya.

"Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."( QS.An Nur : 35 )
 
Sebagai Penutup

Marilah kita sekarang ini berdoa dan bertobat, sekaligus membuat komitmen baru untuk menjalani hidup ini dengan lebih berarti

Semoga dengan niat baik ini Allah SWT memberikan kelancaran dalam segala urusan kita... 

Keberkahan dalam rezeki kita... 

Dijaga dari segala mara bahaya... 

Diluaskan rezeki kita... 

Dijaga aqidah kita beserta keluarga dan anak cucu dari segala aliran dan ajaran yang menyimpang... 

Dan ditutup umur kita semua dlm keadaan husnul khotimah... 

Aamiin Yaa Robbal Aalamiin

Monggo Tahajud Tahajud.(*

Penulis: Abdul Muis Masduki, Wartawan Senior di Surabaya.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda