Di Persimpangan, Ikut Vaksin atau Tidak?

Vaksinasi COVID-19 Sinovac di klinik massal darurat di lapangan sepak bola di Surabaya, Selasa (6/7/2021). (FOTO: JUNI KRISWANTO/AFP - liputan6.com)

COWASJP.COM – Sampai hari ini, saat membuat tulisan ini, saya belum vaksin. Entah mengapa, beberapa kali ada kesempatan tetapi terlewat. Bulan lalu, teman sekantor mendaftarkan saya untuk vaksin di Lamongan, di salah satu lembaga pemerintahan. Sayangnya, ketiduran. Teman saya sudah beberapa kali menelepon, tapi eringan HP tidak mampu mengusik lelapnya tidur.

Kedua, janjian dengan anak saya untuk vaksin di Kodim Lamongan. Jadwalnya sama, pagi hari. Kali ini hanya meleset sedikit, kesiangan. Lantas anak saya bilang, “Lain kali aja Yah, udah kesiangan. Antrinya banyak dan panas.”  Gagal lagi.

Kegiatan pagi hari, memang beban bagi saya. Sejak remaja, pola tidur sudah berubah. Sejak bekerja sebagai kru Jawa Pos di Kembang Jepun, Surabaya tahun 1980-an. Tidur saya menjelang subuh, bangun saat matahari sudah di atas ubun-ubun. Di usia kepala 5 (lima) ini pun, saya belum mampu mengubah pola tidur yang normal.

Kebetulan saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan Optik yang cukup terkenal di Jawa Timur, Optik Nusa Group milik H. Nursalim Amd.RO. Telah berdiri sejak tahun 1987, dengan hampir 50 cabang menyebar di Jawa Timur. Saya masuk di divisi IT dengan jam kerja menyesuaikan kebutuhan. Artinya, saya bisa bekerja di malam hari atau kadang-kadang siang hari, tergantung kondisi dan kebutuhan perusahaan. Bahkan sangat memungkinkan untuk Work From Home (WFH).  Memang sejak awal masuk, saya sudah menyampaikan bahwa otak saya lebih kompromi, fokus dan lebih ‘sharp’ di malam hari yang lengang, sepi dan hening (tanpa ada suara-suara berisik). 

heri.jpgHeri Priyono (penulis). (FOTO: Dok. Pribadi)

‘Deal’, pemilik optik setuju.

Tugas utama adalah membuat sistem terintegrasi realtime ke seluruh cabang dan semua divisi. Sistem ini mampu dijalankan lewat selular/android maupun personal computer (PC).  Alhamdullilah, sudah berjalan dengan lancar dan segala perubahan data bisa diketahui setiap saat. Tanggungjawab ini pun lebih banyak saya kerjakan di malam hari. So…, pola tidur saya semakin ‘settle’ , seperti kelelawar.

Kesempatan ketiga datang saat menjalani WFH di Kota Bekasi, tepatnya di Perum Mutiara Gading Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat. Di tempat tinggal baru ini diadakan vaksinasi Covid-19. Pengkoordinasiannya lewat group WA warga RT. Tanpa pikir panjang dan dengan percaya diri, saya dan istri langsung mendaftar lewat group.

Di hari H,  di TKP sudah berjejal antrean, maklum  sedikit kesiangan. Bersama istri, langsung saja nimbrung di antrean untuk pendaftaran screening, sebelum besoknya vaksinasi. 

Beberapa lama antre, akhirnya sampai juga di depan meja petugas screening, saat itu pukul 11.45 WIB. Dan…, apa yang terjadi sungguh di luar batas nalar saya. ‘’Maaf pak, form screening habis. Sekarang lagi diambil oleh petugas  lain. Silahkan Bapak menunggu di tempat yang teduh.” 

heri1.jpgHeri Priyono dan isteri. (FOTO: Dok. Pribadi)

Modaar aku…..! Rasa kecewa mengalir dari ubun-ubun ke ujung kaki. Aku toleh istriku yang ada di belakangku,  mengerutkan kening. Spontan aku gandeng dan keluar dari barisan. Duduk di bawah pohon mangga. Sambil menghela napas panjang, “Ya udah kita tunggu, mau apa lagi,’’ kata istriku, datar.

Sekitar lima menit duduk, HP istriku berdering. Terdengar kalimat serius saat menjawab telepon dari kantornya. “Saya harus ke kantor sekarang,’’ katanya sambil menggandeng tanganku berjalan ke tempat parkir.

Gagal lagi! 

Sambil mengemudi, tanpa sadar telapak tanganku memegang jidat.

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, kuota library gelisahanku bertambah. Pertama,  saya seorang perokok berat, dalam satu hari bisa menghabiskan 1-2 pak rokok kretek isi 16 batang. Di saat PPKM ini, pernah kehabisan rokok malam hari. Semua toko sudah tutup.  Semalam kepala terasa mumet.

Kedua, dalam satu hari saya bisa menghabiskan 5-10 cangkir kopi. Kopi yang saya minum adalah kopi gilingan pasar dari kopi biji. Kalau minum kopi saset, badan saya malah limbung, perut kembung.

Saat kehabisan kopi dan tidak bisa beli karena PPKM, bayangkan bagaimana rasanya pecandu kopi tidak ada asupan kafein dalam darah.

Dua hal kegelisahan yang menyesakkan dada.

Ketiga, tapi bukan yang terakhir, pandemi covid.  

Baru-baru ini saya mendapatkan link, https://vt.tiktok.com/ZGJBhxeXu/, yang berisikan tentang keganasan virus covid setelah adanya vaksinasi, di samping banyak link yang mengajak kita untuk vaksin. Lantas harus bagaimana? Mana yang benar, mana yang menyesatkan, mana yang hoax .

Terlepas dari kegelisahan di atas, ada satu tautan yang dikirim ke WA saya yakni  https://www.youtube.com/watch?v=RbS342sZtI8.  Serasa saya naik di atas awan.

Dan kenyataannya, sampai saat ini, saya tidak ada masalah dengan kesehatan. Sedikit terhibur, tetapi tetap saja bertahta pertanyaan. Ikut vaksin covid atau tidak? Semoga dalam waktu dekat saya benar-benar bisa disuntik vaksin. (*) 

Penulis: Heri Priyono, Mantan Divisi Pracetak Jawa Pos.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda