Ketika Tanah Suci Sepi di Musim Haji

Tanah Suci sepi. Masjidil Haram sepi di Hari Raya Idul Adha, Selasa 21 Juli 2021. (FOTO: (AFP/STR - liputan6.com)

COWASJP.COM – Kita sedang berada di musim Haji. 

InsyaAllah, beberapa hari lagi bertemu dengan Hari Raya Haji. Tetapi, tanah suci sepi. Tidak seperti tahun-tahun lalu. Karena, dunia sedang dilanda pandemi.

Namun demikian, bukan berarti segala esensi pelajaran haji ikut pergi. Dari setiap jiwa kita. Yang telah berikrar mengikuti agama Ibrahim, sang khalilullah. Nabi kesayangan Allah.

Ibrahim adalah nabi yang mengawali agama Islam ini. Dan kemudian menjadi teladan utama dalam beribadah kepada Allah. Di mana puncak keislaman kita diwujudkan dalam esensi ibadah haji. Napak tilas perjalanan spiritual Ibrahim dan keluarganya. 

Yang di dalam rukun Islam ditempatkan di urutan kelima. Memungkasi segala peribadatan pendahulunya. Memuat esensi yang dikandungnya.

Sejak nabi Ibrahim itulah agama ini dinamai agama Islam. Dan kemudian diwariskan secara turun-temurun kepada anak cucunya. Termasuk kita semua, umatnya. Seperti difirmankan Allah di ayat berikut ini.

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: (Aslim) Berserahdirilah! Ibrahim menjawab: (Aslamtu) Aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (beragama Islam)". [Qs. Al Baqarah: 132]

Karena itu, ajaran Ibrahim diabadikan di dalam ibadah umat Islam. Sampai kini. Bukan hanya pada ritual Haji. Di mana kakbah dibangun olehnya. Dan, seluruh manasik haji adalah tatacara yang diajarkannya.

Melainkan, juga terekam di dalam bacaan shalat kita. Yang di dalamnya kita membaca shalawat Ibrahimiyah. Yakni, saat kita membaca tasyahud akhir. 

"Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad. Kama shallaita ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim. Wa barik ala Muhammad wa ala ali Muhammad. Kama barakta ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim fil alamina innaka hamidum majid."

“Ya Allah karuniakan segala kebaikan kepada nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana telah Engkau karuniakan kepada nabi Ibrahim dan keluarganya. Berkahilah nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana telah Engkau berkahi nabi Ibrahim dan keluarganya, di antara segala makhluk. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.”

Begitulah. Karena nabi Ibrahim adalah teladan utama dalam agama ini. Agama Islampun disebut sebagai agama Ibrahim. Dan, rasulullah Muhammad sebagai keturunan Ibrahim diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim itu.

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” [QS. An Nisa: 125]

"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." [QS. An Nahl: 123]

Begitu sentral peran Ibrahim di dalam Islam. Yang jika ditelisik lebih jauh, ternyata memberikan jejak ketauhidan yang sangat kental. Inilah pondasi spiritualitas dalam berislam. 

kabah.jpgSiapa pun yang tertangkap mencoba mencapai Masjidil Haram atau daerah di sekitarnya dan tempat-tempat suci lain -- termasuk Mina, Muzdalifah dan Arafat -- saat musim haji 2021 tanpa izin, akan dikenakan denda 10.000 Riyal atau setara Rp 38,6 juta. (FOTO: AP - liputan6.com)

Ibrahim telah mencontohkan proses ketauhidan yang sangat mendasar. Yang diabadikan oleh Allah di dalam Al Qur’an. Agar kita meneladaninya. Bahwa, ketauhidan itu harus diperjuangkan melalui proses yang ilmiah, dalam bingkai akal sehat.

Orang tua Ibrahim bukanlah seorang yang menyembah Tuhan Yang Esa. Bertauhid. Melainkan, penyembah berhala. Patung-patung bikinannya sendiri. Yang juga dijadikan sesembahan masyarakat di zaman itu.

Ibrahim tidak bisa menerima dengan akal sehatnya. Sehingga menentang apa yang dilakukan oleh bapaknya.

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata". [QS. Al An’am: 74]

Selain itu, Ibrahim juga tidak bisa menerima konsep ketuhanan dalam jumlah yang banyak. Dewa-dewi. Yang digambarkan menghuni benda-benda langit. Bintang, bulan dan matahari. Seperti dianut oleh agama pagan waktu itu.

Maka, Allah pun mengabadikan proses ketauhidan Ibrahim di dalam rentetan ayat QS. Al An’am: 75-78 berikut ini.

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan Kami di langit dan bumi. Agar dia termasuk orang yang yakin."

"Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: Inilah (mungkin) tuhanku. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: Saya tidak suka kepada yang tenggelam.

"Kemudian tatkala dia melihat Bulan terbit dia berkata: Inilah (mungkin) tuhanku. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: Sesungguhnya jika tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat".

"Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: Inilah (mungkin) tuhanku, ini yang lebih besar. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan."

Dan puncaknya, di ayat berikut ini. Ketika Ibrahim memberikan pengakuan keberserah-diriannya yang sangat mendalam. Yang kemudian menjadi bacaan kita di dalam shalat. Doa iftitah, sebagai ikrar ketauhidan yang tak tergoyahkan.

"Inni wajjahtu waj-hiya lilladżi faṭharas-samawati wal-arḍha ḥanifaw wa ma ana minal-musyrikin"

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan selurus-lurusnya kepada agama yang benar. Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [QS. Al An’am: 79]

Wallahu a’lam bissawab …(*) 

[Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 16 Juli 2021]

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM. Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern. Dan, Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda