Belajar dari Pengalaman Zainudin Iskan

Dahak Hilang, Covid Melayang

Setiap pagi olahraga dan berjemur untuk menstabilkan tensi sekaligus memperkuat imun. (FOTO: dokumen pribadi)

Sebenarnya, bukan hanya istrinya yang diduga terserang Covid-19. Tapi Santoso, juga merasakan hal yang sama 3 bulan sebelumnya, yakni di bulan Maret 2021. Gejala yang dirasakan ya sama, demam panas, batuk dan pilek. Berikut tulisan Santoso, wartawan senior di Madiun.

***

COWASJP.COM – Akhir Maret 2021, tiba-tiba badan meriang dan panas, batuk dan pilek meler. Di tengah pandemi seperti saat ini saya bingung mendeteksi, sakit apakah saya? Covid-19 atau influensa? Tapi seperti juga Zainudin Iskan (adik kandung Dahlan Iskan), saya diam saja tak ada yang tahu. Uti (isteri saya) pun tidak. Beruntung sejak stroke, saya banyak berkegiatan di studio mini, menulis. Hingga tak mencurigakan kalau saya isoman di studio.

Dari literatur kesehatan yang saya baca, maupun pengalaman saat sakit di masa lalu, gejala antara Covid-19 dan Flu tak jauh beda. Beruntung sebelumnya saya baca tulisan tentang pengalaman Zainudin Iskan di CowasJP.com. Adiknya begawan media Dahlan Iskan itu mengalami gejala itu. Bahkan lebih parah, ia sempat susah bernapas.

BACA JUGA: Drop Dengar Tuing-Tuing Ambulans Covid

Dari apa yang ditulis Zainudin itu, saya ambil kesimpulan acak, bahwa biangnya adalah dahak yang menyumbat saluran napas. Kesimpulan itu saya ambil dari pengalaman mantan wartawan Jawa Pos di Madiun itu, bahwa setelah makan bawang putih parut, ia muntah, termasuk dahaknya keluar. Napas mulai lega. Diulang paginya, dahak pun keluar lagi, dan setelah itu napasnya mulai plong.

Sejak kena stroke 11 September 2019, tiap hari saya makan bawang putih 4 siung. Sampai sekarang. Saya bagi 3 kali. Saat makan,pagi, siang dan sore. Apakah mungkin karena itu yang membuat saya tak  mengalami  sesak napas? Wallahu alam.

Dari pengalaman Zainudin itu, saya lantas ambil inisiatif, meski ada ingus sedikit langsung saya keluarkan. Jadinya di dekat saya selalu ada segebok tissu untuk buang ingus. Selain itu, kalau batuk, dahak langsung saya paksa keluar. Tidak boleh ditelan. Ini saran adik ipar yang tugas di RSUD Caruban, Kabupaten Madiun. Jangan sampai menelan dahak.

Dengan demikian, dahak tidak sampai terakumulasi hingga menyumbat saluran napas. Saya tak paham benar atau salah. Tapi yang jelas saya mengeliminir kemungkinan dahak terakumulasi dan menyumbat saluran napas.

zaenudin.jpgZainudin Iskan, adik kandung Dahlan Iskan, mencontohkan bagaimana meredam COVID-19 tanpa dokter. (FOTO: Cowas JP)

Sedang pengobatan untuk panas, batuk dan pilek, saya hanya pakai obat warungan saja. Yang jelas, tiap pagi saya berjemur. Selain untuk menguatkan imun, juga menstabilkan tensi untuk stroke-nya. Yang tak kalah pentingnya saya meningkatkan  kepercayaan diri. Sederhana sekali

Semua orang pasti paham. Kalau kita kemasukan virus, maka tubuh bereaksi hingga membuat suhu tubuh meningkat. Dulu gejala  panas, batuk dan pilek  itu didiagnose ’’FLU’’, sekarang langsung di ‘’judge’’  Covid. 

Ini yang menurut saya membuat masyarakat semakin phobi, semakin takut, semakin khawatir. Akhirnya bila mengalami gejala itu, mereka berbondong-bondong ke rumah sakit. Tak peduli harus dirawat di lorong-lorong. Yang mestinya akut malah sulit dapat tempat.

DOKTER KARANGPLOSO

Semalam saya baca berita di New Malang Pos, tentang dokter Yosephne Pratiwi. Dokter di sebuah klinik kesehatan Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Malang mengklaim menemukan obat penyembuh Covid-19. Obat tersebut diakui sudah menyembuhkan sekitar 81 orang pasien Covid-19.

Obat yang diberikan kepada pasien, adalah Abroxol. Obat batuk berdahak yang berfungsi sebagai mukolitik. Obat ini bekerja dengan cara mengencerkan dahak. Lalu ditambah obat golongan kortikosteroid, yakni obat mengatasi peradangan, reaksi alergi dan penyakit autoimun.

Keduanya dilarutkan dengan natrium chlorida (NaCl) dan sedikit minyak kayu putih. Kemudian ditampung dalam Nebulizer atau alat bantu penguapan. Terapi penguapan tersebut diterapkan pada pasiennya di ruang terbuka.

“Uap yang dihirup membuat nafas pasien menghangat. Karena ada kandungan Ambroxol dan kortikosteroid, maka pasien akan batuk mengeluarkan dahak,” terang dr. Tiwi.

Yah ... intinya menghilangkan dahak agar virus  yang masuk ikut keluar.

Pikiran nakal saya ngelantur. Kalau soal mengeluarkan dahak, tak perlu dokter ahli. Cukup dilakukan oleh ahli gurah hehehehe......... Gurah adalah membersihkan saluran napas dari lendir dan dahak. Therapi Gurah biasanya dilakukan oleh para sinden, agar suaranya lebih ’’kung’’.

Selain itu, saat saya sakit, maka satu hal yang saya lakukan. Yakni membersihkan isi otak dari berita-berita covid yang mengerikan. Caranya setiap buka internet ada berita covid, langsung saya tutup. Selain itu kalau ada orang bicara tentang covid saya menyingkir. Ini dikandung maksud agar ketakutan dan kekhawatiran saya hilang. Apalagi kalau baca angka-angka kematian, ...hadeh. Karena stres itu saya yakini jadi pemicu turunnya imun.

Saya kemudian pasang ‘’palang’’ di pintu otak saya agar tak ada berita covid yang masuk memori.. Mungkin ini lebih tepat bagi saya,  ketimbang pasang palang bambu di setiap jalan masuk hehehehe.

HIDUP BERDAMPINGAN COVID

Ketika saya terserang stroke, dapat saran dari rekan Titus Tri Wibowo, M.Si, agar mengalihkan mindset jadi hidup berdampingan dengan stroke. Karena stroke sudah dialami, dan pemulihannya bisa makan waktu bertahun-tahun lamanya.

Hidup berdampingan dengan stroke artinya, kita sebagai penyintas harus selalu berhati-hati dan waspada terhadap pemicu stroke berikutnya. Karena kalau stroke berulang, biasanya lebih berat. Namun demikian, kita harus sadar, bahwa hidup tidak berhenti. Sehingga harus bisa segera beraktivitas kembali secara normal. Meski kecacatan bawaan stroke masih ada.

Mungkinkah ini bisa diterapkan dalam menghadapi ganasnya Covid-19??? Hidup berdampingan dengan Covid. Misalnya penyadaran bahwa kita harus selalu waspada dengan menerapkan prokes pribadi yang ketat. Namun aktivitas sehari-hari tetap bisa jalan. Khususnya dalam mencari nafkah untuk kehidupan.

Tentu ini diperlukan edukasi yang baik dan tepat dari pemerintah. Lantaran masyarakat kita sangat majemuk, baik ditnjau dari ekonomi apalagi tingkat  pendidikannya. SEMOGA.(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda