Inspirasi Redam Covid-19 ala Zainudin Iskan

Drop Dengar Tuing-Tuing Ambulans Covid

Foto: Dokumen Pribadi

Hampir 2 minggu Uti Bondet (istri Santoso/Akung Bondet) terkapar. Indikasinya nyaris kayak gejala Covid-19. Alhamdulillah hari ini Rabu, 14 Juli 2021 sudah njenggelek (sembuh). ‘’Saya sudah sehat kung,’’ begitu katanya kepada sang suami, Sanrtoso, wartawan senior di Madiun, yang menuliskan kisahnya.

***

COWASJP.COM – Sudah hampir 14 hari terakhir hati  dag dig dug. Uti, istri saya terkapar usai menerima pesanan nasi kotak. Ia kecapekan dan drop. Badannya panas, lemas, penciuman dan alat perasa hilang. Batuk lagi. Dalam kondisi Covid-19 yang makin mengganas, siapa yang tak khawatir. Apalagi itulah tanda-tanda terpapar Penyakit Wuhan itu.

Anak-anak menyarankan agar segera dibawa ke Puskesmas. Tapi saya bilang, ‘’tunggu dulu.’’ 

Ada pengalaman menarik dari Zainudin Iskan, adiknya Begawan Media Dahlan Iskan, yang bisa sembuh dengan upaya mandiri. Bahkan sampai saat ini sudah bisa keluyuran lagi ke mana-mana. Termasuk hampir tiap malam nongkrong di rumah Arik Bondet, anak saya di Kelun. 

Demikian pula ada anak buahnya, sekeluarga lima orang juga terpapar, tapi sembuh kembali seperti sedia kala. Dengan upaya mandiri. Bahkan kayaknya saat ini imunnya semakin kuat menghadapi Covid-19. Ini pandangan saya sekilas.

Dari kisah Zainudin yang ditulis di CowasJP.com, maupun saat ngobrol dengan saya, .... bisa disimpulkan, bahwa obat paling mujarab adalah keyakinan diri alias kuatnya psikis  untuk melawan. Tidak boleh takut atau terlalu khawatir hingga membuat imun semakin lemah. Apalagi dibanding Zainudin yang sempat mengalami sesak napas, si Uti belum.

Ini yang berat. Si Uti kurang mampu mendongkrak psikologis, khususnya kepercayaan dirinya. Ini bisa saya lihat dari wajahnya yang penuh kekhawatiran. Apalagi hampir tiap hari mendengar tuing-tuing suara ambulans yang dipastikan mengangkut pasien Covid. Belum lagi beberapa warga perumahan ada juga yang meninggal. Maka tugas utama saya adalah bagaimana saya harus mendongkrak kepercayaan dirinya dulu.

BACA JUGA: Redam Covid-19 Tanpa Dokter​

Paling tidak saya harus menunjukkan mimik tidak khawatir. Misalnya saya biasa saja mendekat dirinya. Entah bener entah tidak saya bilang, ‘’kamu ini influensa.’’  Sekarang masa pancaroba. Sejak dulu masa pergantian musim ya begini. Dari panas ke dingin atau sebaliknya pasti banyak orang sakit. ‘’Dan gejalanya ya seperti ini, panas, batuk pilek, mosok kowe wis lali( masak kamu sudah lupa)," kataku.

Pikiran saya kadang nakal. Mengapa  Tuhan menyiptakan virus Covid kok gejalanya sama dengan flu. Hingga manusia awam susah untuk membedakan mana Covid mana flu. Ini memungkinkan munculnya manusia-manusia yang terbiasa mengubah kesempitan jadi kesempatan.

Secara protokol kesehatan, berdekatan dengan pasien terduga covid, tidak  bisa dibenarkan. Saya tahu itu. Tapi saya selalu berpegangan ‘’bahwa mati hidup di tangan Tuhan. ‘’wis ana pinesti’’ kata orang Jawa.

Saya selalu mengaca dengan yang dialami Begawan Media Dahlan Iskan. Livernya ambyar dan harus diganti  di RS Transplant Center, Tianjin China. Berhasil. Saya meyakini, Dahlan dapat donor liver yang cocok tepat waktu karena Tuhan. Kalau Tuhan tak mengirimkan donor liver, mungkin dia juga lama terkatung-katung di rumah sakit menunggu donor yang cocok. Memang harus diakui, orang baik kayak Dahlan pasti disayang Tuhan. Biar dihajar Covid pun ia tetap tahe (sehat).  Itu juga yang saya sampaikan ke Uti untuk mengokohkan kepercayaan dirinya. Memang harus ada contohnya.

Maka saya tekankan, tetap tenang, gak usah panik.  Kalau panik, imun merosot dan membuat makin terpuruk. Selain vitamin, maka hanya obat warung untuk atasi  demam dan batuk saya sediakan. Mengacu dari pengalaman zaman dulu kalau lagi tubuh panas, demam, batuk dan pilek.

Saya sangat terbantu mendongkrak kepercayaan Uti, setelah mendapat kiriman video dr. Lois yang kontroversial itu. Mohon maaf kepada otoritas  kesehatan Indonesia. Saya menggunakan video itu untuk membuat si Uti mau makan. Karena di situ disebutkan, harus makan yang enak.  Sejak melihat video itu, Uti pun mau memaksakan diri untuk makan. Sebelumnya ia selalu nolak. ‘’Mangan gak onok rasane (makan gak ada rasa),’’ keluhnya.
 
Alhamdulillah setelah makan lumayan banyak, ia pun mulai punya kekuatan. Apalagi oleh anaknya, ia dibelikan Susu Beruang (maaf bukan promo ya, saya hanya menulis apa yang kami lakukan). Dan 4 hari lalu atau 10 hari sejak sakit, ia sudah mulai keluar kamar dan mandi dengan air hangat. Berjemur. Bahkan pagi tadi, sebelum saya tulis naskah ini, ia malah yang bangunin saya. ‘’Kung awakku wes enteng (badanku sudah ringan),’’ katanya dengan raut wajah yang gembira. Terus berjemur dengan saya.

‘’Aku jualan lagi ya Kung,’’ katanya.

‘’Jangan, nanti nunggu sampai akhir bulan ini, supaya tubuh bener-bener fit,’’ jawabku.

‘’Tapi keuangan sudah sangat menipis,’’ 

‘’Sudahlah jangan mikir itu, yang penting kamu sehat seperti sediakala. Soal makan dan pengeluran bisa kita irit,’’ kataku meyakinkan.

Memang terasa benar, dua minggu dia tidak jualan. Apalagi Pemkot melarang PKL Minggu di Bunderan dilarang jualan. Padahal jualan sehari di Bunderan bisa sangat membantu makan seminggu. 

Saya kadang membayangkan, bagaimana nasib teman-teman saya PKL Bunderan yang tidak bisa jualan. Sekeluarga harus makan. Adakah yang membuat peraturan juga sudah memikirkan  masalah ini.  Sementara Bansos juga tak ada lagi. Mungkin kita hanya bisa berdoa, semoga tabungan sembakonya cukup bisa mengatasi. Sampai dibolehkan jualan. secara normal lagi. Karena mereka kerja hari ini untuk makan hari ini. Tak ada yang diharap, bulan depan dapat gaji.

Sekarang tugasku menjaga asupan makanan, agar imun Uti semakin kuat. Hingga segera bisa jualan lagi.(*)

Penulis: Santoso, Wartawan Senior di Madiun

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda