Balada Kecerdasan yang Dibungkam

Lois Owien dipindahkan ke Mabes Polri (dari Polda Metro Jaya) lantaran kasusnya telah diambil alih, Senin (12/7/2021). (FOTO: SINDOnews/ARI SANDITA)

COWASJP.COM – AWALNYA, isteri saya dapat kiriman video dari temannya. Isinya wawancara dr. Lois Owien dengan Babeh Aldo. Yang diunggah dalam Youtube Podcast Babeh Aldo (PBA). Dalam wawancara itu, dr. Lois menyatakan bahwa kebanyakan orang meninggal di Rumah Sakit bukan karena Covid 19. Tapi karena interaksi antar obat. Termasuk obat-obat yang menyebabkan turunnya saturasi O2. 

Karena menarik, lalu isteri saya mengirimkannya ke grup WA anak-anak kami. 

Sementara itu, persoalan ini ternyata sudah heboh di tengah masyarakat. Dokter yang disebut-sebut alumni Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini jadi perbincangan di mana-mana.  Apalagi dr. Lois sebelumnya juga sempat tampil dalam talkshow yang dipandu selebrity dan pakar hukum kenamaan Hotman Paris Hutapea dan Melanie Ricardo.  

Kemudian begawan media Dahlan Iskan juga menulis tentang dokter yang cantik ini di media daring CowasJP.com. Dan terakhir, seorang dokter yang lain, dr. Tirta Mandira Hudhi dikabarkan melaporkan dr. Lois ke Polda Metro Jaya. Padahal dr. Lois sebelumnya sempat mengapresiasi dr. Tirta. Karena dikira sependapat dengannya dalam hal Covid 19. 

Heboh soal dr. Lois tampaknya kian memuncak. Banyak sekali pemberitaan di media sosial tentang dirinya. Tapi terlepas dari itu, postingan isteri saya di grup WA keluarga ditanggapi menantu saya yang tinggal di Magelang. “Mah, omongan orang ini jangan dipercaya ya. Dia orang dengan gangguan kelainan jiwa yg malah dikasih panggung sama TV. Seakan2 dia kompeten. Padahal yg diomongin omong kosong semua dan nggak ada bukti ilmiahnya,” tulis menantu saya itu.

Dia juga mengirimkan unggahan dr. Mila Anasanti di twitter. “Lagi lagi Lois Lois. Nama Lois lagi rame yah di twitter? Sudah saya & beberapa orang lain bahas Januari lalu di FB. Eh ternyata makin menjadi2,” begitu unggahan dr. Mila lewat @anasanti_mila. Dalam unggahannya di media sosial Twitter,  dr. Mila kelihatannya sudah geram sekali dengan dr. Lois. Bahkan dia sempat menyebut dr. Lois punya kelainan jiwa. Begitu juga sejumlah umpatan lainnya. 

Menantu saya mengingatkan, agar kita hati-hati menerima informasi di media sosial. Tapi saya yang sudah menonton podcast Babeh Aldo itu dan selintas juga membaca unggahan dr. Mila, terdorong untuk menanggapi. 

“Memang. Kita harus hati-hati terima informasi,” tulis saya. “Tapi kita jangan taqlid buta juga terhadap informasi yang ada. Sehingga kita tidak mau terima informasi yang berbeda. Mungkin kita perlu ‘second opinion’. Meskipun itu tidak membuat kita menurunkan kewaspadaan kita terhadap bahaya Covid 19. Kita jaga jangan sampai tertular. Begitu aja.”

Saya melanjutkan, “Kalau kita lihat link-nya dr. Mila itu, tampaknya itu menyerang dr. Lois ke pribadinya. Bukan ngasih keterangan balasan yang dapat mengalahkan pembahasannya secara ilmiyah. Mengupas substansi fenomena yang ada ditinjau dari ilmu kedokteran. Masak dibilang dr. Lois itu punya gangguan jiwa. Padahal kalau kita perhatikan wawancaranya itu, buat kita yang awam, itu orang pintar kok. Artinya, kita gak dapat bantah kalau bahasannya tidak ilmiyah.”

Menurut saya, orang kalau menyerang ke pribadi seseorang, itu tanda-tanda diskusi yang gak seimbang. Sehingga sampai-sampai orang yang memberikan pandangan yang berbeda langsung dibilang gila atau ada gejala gangguan jiwa. Harusnya penjelasan ilmiyah dibalas dengan penjelasan ilmiyah juga. 

loisnyar.jpgdr Lois Owien. (FOTO: tribunnews.com)

Dan IDI mestinya menyebarkan informasi yang dapat membantah pendapat dr. Lois. Bahwa obat-obat yang diberikan kepada pasien Covid 19 sudah tepat. Kalau perlu dengan membuka ruang diskusi terbuka. Dengan menghadirkan para pakar yang dapat mengimbangi pendapat yang dikemukakan dr. Lois. Bukan dengan menggunakan pedang kekuasaan, sebagai organisasi yang menaungi seluruh dokter yang ada di negeri ini. Di sebuah negara yang menjunjung tinggi demokrasi, hendaknya jangan sampai apa yang dianggap orang kecerdasaran terus dibungkam. 

Saya jelaskan juga, kalau dikatakan banyak pasien meninggal setelah ditangani di rumah sakit, pandangan ini tentu bisa kita tolak. Karena data yang meninggal di luar rumah sakit kan memang gak ada. Sehingga tidak mungkin dibuat perbandingan. Tapi kalau dia bilang jangan berikan obat-obat yang indikasinya dapat menurunkan saturasi O2, ini mestinya yang dijelaskan oleh dokter-dokter yang lain. Yang ahli tentang hal itu dan memiliki pandangan berbeda. Bukan menyerang pribadinya, dengan mengatakan dia ada gangguan jiwa. Dia gila dan sebagainya.

MENJAWAB SEMUA SERANGAN

Begawan Media Dahlan Iskan dalam tulisannya yang diberi judul “Lois Cekal” di media daring CowasJP.com kemaren bicara panjang lebar tentang dokter cantik lulusan UKI itu. Yang kemudian belajar ilmu anti-aging di Malaysia. 

Pak Bos – demikian mantan Menteri BUMN itu akrab disapa di kalangan karyawan dan wartawan Jawa Pos – menggambarkan sosok dr. Lois. Yang menurutnya tidak hanya cantik, tapi juga cerdas. “Yang lebih seru sebenarnya di Instagram dr Lois. Dia jawab semua serangan padanyi. Terutama serangan dari para dokter,” tulisnya untuk menggambarkan bahwa sosok dokter itu wanita cerdas. 

"Hanya orang yang IQ-nya di atas 200 yang bisa mengerti dan menerima penjelasan saya," lanjut Dahlan Iskan, menirukan ucapan dr. Lois. 

Ditambahkannya, Lois tampak jengkel atas serangan dr Tirta di medsos. Lois tidak akan mau melayani dr Tirta. Yang dia anggap bukan kelasnya. Bahkan dia juga tidak akan mau mendatangi panggilan organisasi dokter IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Dia menilai banyak dokter sudah jadi abdi obat dan vaksin.

Viral dalam beberapa waktu belakangan ini, ternyata nasib wanita ini tidak sebaik seorang ilmuwan yang dihargai ilmunya. Dia dianggap hanya akan membuat gaduh. Membuat orang ragu terhadap upaya pemerintah menangani Covid 19. Tidak sebagai seorang ilmuwan yang memiliki pendapat berbeda tapi tetap diharga ilmunya. Sehingga wawancaranya yang diunggah dalam PBA hanya bertahan lima jam saja. Karena langsung dihapus oleh Youtube

Kemaren, viral juga pemberitaan tentang penangkapan dirinya oleh pihak Polda Metro Jaya. Sejumlah siaran langsung yang diunggah di medsos juga banyak beredar. Memperlihatkan dirinya keluar dari ruang interogasi sekitar pukul 18.00 WIB. Diapit dua petugas polisi. Seorang lelaki dan seorang lagi wanita. Ketika berjalan ke luar ruangan, dia hanya membungkam. Tidak sepatah pun mau menjawab pertanyaan wartawan.  

Prof. Dr. Supardji Ahmad, Pakar Hukum Pidana dari Universitas Al Azhar Indonesia menyebutkan,  dr. Lois bisa dijerat pasal yang pernah dikenakan kepada Ratna Sarumpaet. Itu jika pernyataan-pernyataan yang dia disampaikan selama ini hanya ucapan semata. Tanpa berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan.

“Bila tanpa dasar, maka bisa dipidana karena menyebarkan hoax yang dapat menimbulkan keonaran,” kata Suparji dalam keterangannya yang kemudian dilansir PojokSatu.id  di Jakarta, Senin (12/7/2021). “Bisa dikenakan pasal 14 atau Pasal 15 UU no 1 tahun 1946, seperti yang dikenakan pada Ratna Sarumpaet waktu Pilpres 2019,” sambungnya.

Banyak yang bertanya, tentu saja. Apakah benar akan seperti itu? Benarkah dia akan dihadapkan pada pelanggaran undang-undang karena menyebarkan berita bohong? Bukankah dia tidak berbohong, tapi mengemukakan pendapat dan keyakinan yang dikemukakannya secara terbuka dan ilmiyah?

Seandainya memang nanti dia dijerat dengan Pasal 14 dan 15 UU No. 1/1946, seperti yang dikenakan kepada Ratna Sarumpaet, apakah tepat? Menurut pakar hukum pidana Prof. Andi Hamzah, undang-undang ini bermasalah. Dia mengungkapkan hal itu dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa  (9/10/2018).

Menurut Professor Andi Hamzah, ayat 1 pasal 14 UU 1/1946, misalnya, merupakan delik materiil. Dimana untuk memidanakan seseorang sudah harus terjadi keonaran di kalangan rakyat. Karena belum melihat adanya keonaran yang terjadi dalam kasus Ratna Sarumpaet, maka dia menyimpulkan bahwa dia tidak sependapat undang-undang itu dikenakan kepadanya.

Lalu bagaimana dengan dr. Lois? Aneh, dr. Lois tiba-tiba diberitakan telah dibebaskan Bareskrim Polri. Walaupun sempat menginap semalam di Lapas Mabes Polri, namun kasusnya tampaknya tidak berlanjut. Setelah dia mengaku bersalah. Dan tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. 

Meski demikian, semua itu tidak menafikan bahwa kasusnya menarik untuk diulas. Melihat luasnya pemberitaan, paling tidak dua hari terakhir, dia seperti sudah jadi terpidana. Sudah jadi korbannya “trial by the press”. Gambaran pembungkaman tidak hanya oleh pihak berwenang seperti IDI maupun pihak kepolisian, tapi juga oleh pers. Termasuk suara-suara miring dari orang-orang yang berseberangan dengannya. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda