History in the making

Foto-Foto: Istimewa/

Siapapun yang memenangi final Euro 2020 Senin dini hari (13/7) akan membuat sejarah. Baik Inggris maupun Italia, Roberto Mancini, pelatih Italia, maupun Gareth Southgate, pelatih Inggris, seluruh skuad Italia dan Inggris, semua akan mengukir sejarah.

***

COWASJP.COM – Inilah untuk kali pertama dalam sejarah Piala Eropa kejuaraan diselenggarakan di tengah pandemi. Jadwal penyelenggaraan yang semestinya dihelat 2020 harus molor sampai 2021. Akhirnya,  UEFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola Eropa mengambil keputusan berani dengan menyelenggarkan kejuaraan ini ketika krisis pandemi masih memuncak.

Format turnamen yang melibatkan 11 negara sebagai tuan rumah merupakan inovasi yang dilakukan UEFA di tengah situasi darurat ini. Dengan format ini, separoh dari Eropa ikut berpesta menjadi penyelenggara. Format ini beda dengan yang lazim dipakai sebelumnya, ketika hanya ada satu kota saja yang menjadi penyelenggara.

BACA JUGA: 

Hooligans

Three Lions​

Il Duce 

Tragedi Yunani

Merdeka 4 Juli​

Franco​

Nasionalisme Bola

Soros

D-Day​

Garda Swiss

Revolusi Beludru​

Hamlet​

Sang Pangeran​​

Homophobia Sepak Bola​

Conquistadores​

Modric Si Mozart Kecil​

Total Football​

Turki, Al-Fatih, dan Orang Sakit Eropa​

 Tuhan (belum) Mati di Jerman​

Sayangnya, format yang meriah ini kemungkinan hanya akan tinggal kenangan. Presiden UEFA Aleksander Ceferin sudah menyatakan bahwa format Euro 2020 tidak akan dipakai lagi. Sangat mungkin kejuaraan ini akan balik lagi ke format tradisional, tuan rumah tunggal.

Sejarah lain yang dicatat turnamen ini adalah aturan pergantian pemain. Aturan pergantian pemain yang selama ini baku, hanya tiga pemain sepanjang permainan, berubah. Sebuah tim boleh melakukan pergantian sampai lima pemain, tetapi tetap dilakukan dalam tiga kali pergantian. 

Perubahan ini terlihat sederhana, tapi pengaruhnya terhadap taktik dan strategi permainan cukup signifikan. Seorang pelatih yang melakukan ‘’tactical change’’ harus berpikir cermat ketika harus menarik dua pemainnya secara simultan. 

Demikian halnya dengan pelatih lawan. Untuk mengantisipasi ‘’tactical change’’ dari kubu lawan harus dipikir dengan lebih cermat, apakah akan ikut mengganti dua pemain sekaligus, atau hanya satu pemain, atau tidak sama sekali.

englan.jpgTimnas Inggris (Foto: Istimewa)

Dalam hal penunjukan tuan rumah, FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola dunia sudah pernah membuat terobosan dengan menunjuk lebih dari satu negara sebagai tuan rumah kejuaraan sepak bola Piala Dunia. Korea Selatan dan Jepang pada kejuaraan 2002 menjadi tuan rumah bersama. Dua negara itu juga menjadi negara Asia pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Tapi, setelah Korea dan Jepang, format tuan rumah Piala Dunia kembali ke format ‘’single host’’, tuan rumah tunggal. Pada Piala Dunia 2024 mendatang Qatar akan menjadi tuan rumah tunggal. Padahal, dibanding Jepang dan Korea, fasilitas sepak bola Qatar masih ketinggalan. 

Prestasi sepak bola Qatar juga masih jauh ketinggalan dibanding Korea dan Jepang. Tentu saja, Qatar berbenah dengan cepat dalam menyiapkan sarana dan prasarana untuk bisa menampung seluruh pertandingan dari penyisihan grup sampai grand final. 

Tetapi, kejutan 2002 di Korea hampir bisa dipastikan tidak akan terulang. Ketika itu tuan rumah membuat kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola dunia dengan menyingkirkan raksasa Italia di babak perempat final.

Penunjukan Qatar memantik kontroversi dan sekaligus mencoreng wajah FIFA. Beberapa petinggi FIFA dan UEFA, seperti Sepp Blatter dan legenda Michel Platini, harus berurusan dengan hukum karena terlibat sogok-menyogok dalam penunjukan Qatar sebagai tuan rumah.

Platini yang menjabat sebagai presiden UEFA ditangkap dan ditahan di Nanterre, di pinggiran ibu kota Prancis, Paris, pada 2019. Platini dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran etika karena menerima sogokan puluhan milier rupiah dari Sepp Blatter, presiden FIFA.

italiano.jpgTimnas Italia (Foto: Istimewa)

Dalam berbagai kesempatan, baik Platini maupun Blatter, menyatakan tak bersalah dan tidak pernah merasa melakukan pelanggaran etika maupun aturan resmi. Tetapi, masyarakat sepak bola internasiona melihat beberapa hal yang janggal dalam keputusan penunjukan Qatar.

Salah satu yang menjadi perdebatan adalah cuaca Qatar yang dianggap terlalu ekstrem pada saat penyelenggaraan turnamen besar itu. Iklim di negara teluk ini dianggap tidak cocok untuk perhelatan turnamen sepak bola kelas dunia.

Soal iklim ini masih debatable, terbuka terhadap perdebatan, karena negara-negara Amerika Selatan maupun Afrika Selatan yang pernah menjadi tuan rumah, juga punya perbedaan cuaca yang bisa dibilang ekstrem dengan Eropa. Karena itu, faktor cuaca bisa dipatahkan dengan mudah.

Masalah yang cukup serius adalah perbedaan waktu antara Eropa dan Qatar, yang bisa memengaruhi jam tayang siaran langsung di Eropa. Sponsor-sponsor besar tentu menginginkan agar semua pertandingan ditayangkan pada prime time Eropa. 

Tetapi, hal ini mendapat tentangan keras dari negara-negara di luar Eropa. Pesoalan cuaca dan perbedaan jam dianggap masalah yang sensitif dan bisa disebut diskriminatif. Karena itu, penunjukan Qatar bisa tetap dijustifikasi.

Pertimbangan politik juga menjadi persoalan yang diperdebatkan. Banyak pihak yang mempertanyakan catatan hak asasi manusia dan demokrasi di Qatar. Juga klaim bahwa proses bidding banyak diwarnai dengan korupsi dan vote buying alias pembelian suara.

Hal yang sama ditudingkan terhadap penunjukan Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 yang lalu. Sepp Blatter membantah melakukan tindakan di luar hukum dalam dua keputusan tersebut. 

Kalau masalah politik menjadi pertimbangan untuk penentuan tuan rumah, tentu Piala Dunia akan berputar-putar di negara-negara tertentu saja. Apalagi, pertimbangan politik yang dipakai adalah standar demokrasi liberal ala Amerika dan Eropa. Tentu negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Selatan akan mengalami kesulitan untuk menjadi tuan rumah, karena standar dan praktik demokrasi yang berbeda dengan standar Amerika Serikat.

Walhasil, format keroyokan ala Euro 2020 ini sebenarnya bisa menjadi alternatif. Sayangnya, Aleksander Ceferin sudah menegaskan format ini tidak akan dipakai lagi. Alasannya, format ini rumit dan membuat pemain kelelahan.

Aleksander-Ceferin.jpgPresiden UEFA Aleksander Ceferin (Foto: EPA/MARTIAL TREZZINI)

Swiss menjadi negara yang menempuh jarak perjalanan paling jauh dengan jarak tempuh 15.486 kilometer. Ini terjadi karena Swiss harus berlaga di empat negara berbeda yaitu Italia, Azerbaijan, Rumania, dan Rusia sebelum tersingkir di perempatfinal.

Sementara, negara dengan jarak perjalanan terpendek di Euro 2020 adalah Skotlandia dengan 1.108 km. Skotlandia yang mentok di fase grup hanya memainkan laga di rumah mereka, Hampden Park dan Wembley di Inggris.
Ceferin mengklaim bahwa format Piala Eropa 2020 sangat menyulitkan dan tak adil untuk beberapa negara serta para fans. Maka dari itu, Ceferin menegaskan takkan menggunakan format ini di edisi Piala Eropa berikutnya.

Alasan yang disampaikan oleh Ceferin itu sebenarnya bisa diatasi dengan pengaturan jadwal, selama UEFA benar-benar jujur dalam mengelola turnamen. Sekarang ini pun muncul pertanyaan mengenai Inggris yang dianggap banyak diuntungkan dengan penunjukan Wembley sebagai venue pertanadingan final. Selama turnamen berlangsung, Inggris selalu bermain di depan pendukungnya, kecuali satu pertandingan babak 16 Besar di Stadion Olimpico, Roma.

Apapun yang akan terjadi, final Euro 2020 kali akan menciptakan sejarah, dan akan dikenang sepanjang zaman sebagai turnamen yang unik, karena digelar di tengah musim pandemi. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda