Industri Mimpi

Ilustrasi Mimpi, Foto: Istimewa

Anak-anak muda yang sarat mimpi jadi bintang punya banyak idola baru. Yang suka nyanyi ada Via Vallen. Yang suka panah asmara ada Mahen dan Tiara Andini dengan nyanyian “Pura-Pura Lupa”.

***

COWASJP.COM – Jangan lupa pula ada pelakon “Surga yang Tak Dirindukan” Raline Shah yang pernah jadi komisaris independen Air Asia. Masih ada Tatjana Safira dan Chelsea Islan yang memukau dalam “Ayat-Ayat Cinta 2.” Ada pula Amanda Manopo yang memikat dalam drama seri “Ikatan Cinta” bersama Arya Saloka.

Di lapangan bola ada si macho yang maskulin Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi.

Criatino Ronaldo dihapal banyak orang lantaran wajah gantengnya.  Pesona maskulinnya menembus pikiran massa hawa, sekalipun mereka tak seluruhnya paham soal sepak menyepak bola.   

Mereka semua adalah idola. Mereka punya persona. Ibarat magnet. Dapat menyita simpati massa. Orang terkagum-kagum. Pesona mereka masing-masing menjadi identifikasi publik sekaligus fantasi. 

Terhadap para idola itu publik tak peduli track record. Tutup buku untuk masa lalunya. Hanya pesona yang tergambar. Daya pikatnya menyulut mimpi masal. Mereka adalah fantasi publik. 

cr7.jpgSang idola sepakbola dunia Cristiano Ronaldo atau CR7. (FOTO: cristianoronaldo.com)

Mereka adalah sosok untaian angan-angan  menjadi bintang pujaan.  Ganteng, gagah, seksi, modis, kaya raya, terkenal, dan jadi idola publik.  

*

 Tetapi instrumen apa yang mengantarkan Via Vallen, Raline Shah, Tatjana Safira Veri, Chelsea Islan, Amanda Manopo, Mahen, Tiara Andini, Ronaldo, dan Messi, menjadi historia idola massa ataukah menjadi bintang pujaan?  

Jimat itu adalah Industri media, khususnya televisi dan medsos. Para bintang pujaan adalah produk industri media. Mereka dikemas jadi idola melalui teknik-teknik produksi dan reproduksi media sehingga layak jual. Agar laku sebagai barang tontonan. Dapat memikat agar pantas jadi figur yang populer. 

Industri media, kata Norman Elliot dari Universitas Sorbonne, Prancis, saat ini memasuki era yang paling revolusioner kemampuan produksi dan reproduksinya. Nyaris tak ada industri lain yang dapat menandinginya. 

Elliot tercengang. Ia lalu menunjuk sejumlah kekuatan besar institusi industri media yang berkembang menjadi sangat hegemonik dalam skala global yang tak bisa lagi, meminjam argumen Keneichi Ohmae, dihadang oleh sentimen nasionalisme. 

Bahkan batas-batas negara pun dikaburkan.

Pertama, kemampuan memproduksi dan reproduksi image. Mengemas pencitraan diri dan sosial yang bersifat masal untuk kenikmatan dan kesenangan massa. 

Kedua, –ini yang makin tak ditandingi industri lain— ialah kemampuan menginformasikannya. Industri media berinti pada jurnalisme yang dapat membangun agenda setting. Setelah barang dikemas dan diproduksi lalu diinformasikan melalui teknik-teknik jurnalistik yang dapat mengonstruksi kesan indah, estetik, glamour, populer, dan sarat fantasi, serta mimpi indah.

Industri media dapat mengonstruksi opini publik yang dapat melahirkan image dan prestise luas. Sering bahkan dengan opini itu pikiran publik dikonstruksi tanpa sadar untuk tidak perlu mempersoalkan kebenaran makna dan fakta-fakta objektif  yang diproduksi menjadi barang komoditas dan diinformasikan dengan sangat massal. 

via.jpgVia Vallen. (FOTO: grid.id)

Ketiga, kekuatan industri media terletak pada kemampuannya untuk mengemas fakta dan realitas. Teknik-teknik visual agar viral untuk tujuan komersial dan populer, sering mengabaikan makna atau realitas yang sesungguhnya.

Dalam banyak hal bahkan fakta-fakta tentang realitas yang sesungguhnya ditinggalkan. Lalu melalui teknik-teknik produksi dan diproduksi media dikonstruksikanlah apa yang disebut sebagai realitas buatan. Fakta, peristiwa, dan makna jadi-jadian. Sosiolog Peter L Berger menyebut ekonomisme semu.    

Tayangan TV beberapa waktu lalu seperti uji nyali,  percaya tidak percaya, dunia lain, gentayangan, dan sejenisnya yang sempat menjamur menjadi acara favorit banyak stasiun tv adalah sebagian dari sekian banyak realitas buatan. Fakta atau peristiwa jadi-jadian. Perilaku setan, jin, mahluk halus, dan sejenisnya dikonstruksi menjadi realitas buatan. Seolah dengan tayangan itu setan dan jin bukan lagi mahluk halus, tetapi mahluk faktual yang bisa dilihat dan diamati.

Kini setan bisa diidentifikasi. Bahkan mungkin bisa diraba. Seolah menjadi fakta yang seolah-olah objektif sebab bisa ditayangkan melalui gerak gerik benda, suara orang yang dibuat kesurupan, atau orang yang gemetar ketakutan yang disiarkan dengan masal. 

Sekarang sangat mungkin para penggemar tayangan supranatural itu percaya bahwa setan bisa diperistiwakan sebagai fakta objektif. Bukankah sudah bisa dilihat dengan kamera inframerah tv itu?

Keempat, kemampuan menghibur dan menyenangkan. Tidak ada satu pun manusia normal yang tidak suka hiburan dan hal-hal yang menyenangkan. Karena itu, informasi peristiwa apa pun yang bisa menggugah rasa senang, sukaria, hepi, dan memikat, akan disukai publik. Kekuatan inilah yang tidak dimiliki industri lain di luar industri media. 

*

Tetapi kekuatan inti industri media –ini yang sering luput dari perhatian publik— ialah kemampuan mengemas impian massa ke dalam sosok yang diproduksi menjadi idola dengan sangat populer, meskipun sementara dan bersifat instan. 

Produksi dan reproduksi masal para idola itu dikemas sedemikian rupa melalui teknik, modifikasi, dan kodifikasi, menjadi realitas buatan atau fakta jadi-jadian. 

Dengan proses produksi seperti itu para bintang pujaan dijadikan komoditas komersial yang dapat menembus impian publik dan fantasi massa.

Beberapa impian massa atau publik yang bisa dikemas dengan instant ialah fantasi menjadi bintang. Fantasi menjadi idola. Harapan kaya mendadak. Dan, juga –ini yang rasional— ialah keinginan akan perubahan. 

Tayangan seperti Liga Dangdut dan Indonesian Idol acara yang sangat populer. Ia ditunggu banyak kalangan milenial karena menjanjikan fantasi bahwa menjadi bintang idola itu seolah tidak perlu menggantung cita-cita setinggi langit. 

Menjadi bintang idola seolah bisa diproduksi dan diproduksi dengan mudah. Seolah bisa datang amat gampang dari langit nan tinggi yang jauh di sana. 

amanda.jpgAmanda Manopo. (FOTO: Instagram/@amandamanopo - indozone.id)

Remaja dari kaki gunung nun jauh dari metropolitan bisa dikemas menjadi idola baru, meskipun bakat dan skil menyanyinya mungkin biasa-biasa saja. Mereka bisa jadi selebriti mendadak karena dikemas melalui teknik-teknik produksi media hiburan. 

Setelah itu, agar terbentuk magnitude kemasan itu menjadi kuat, proses produksi sang calon bintang idola dibuat dengan melibatkan massa untuk turut melahirkan sang idola. Melalui berbagai pesan singkat via WA, Facebook, atau perangkat lain daring. Maka terjadilah perang pesan pendek untuk berkompetisi memenangkan sang calon idolanya. 

Memang tidak semua calon idola bisa dikemas. Ada syarat tertentu. Misalnya, punya modal wajah ganteng. Jika laki-laki haruslah macho dan maskulin. Seperti Ronaldo itu. Jika perempuan haruslah cantik dan seksi, seperti Tatjana Safira atau Chelsea Islan, atau Amanda Manopo. 

Dengan sorot pencahayaan, penataan warna, penataan langkah dan gerak-gerik tertentu di panggung, serta dengan mode pakaian milenialist mereka disulap menjadi barang produksi idola massa yang laku ditonton. 

Jangan lupa pula semua proses dan mekanisme industri mimpi itu harus laku dijual. Ada nilai komersial yang diproduksi massal.  

Anda berminat? (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda