Three Lions

ILUSTRASI: FOTO: ©theoldglobe.org

Three lions on a shirt Jules Rimmet still gleaming No more years of hurt No more need for dreaming We can dance Nobby's dance We could dance it in France It's coming home, it's coming home It's coming, Football's coming home (Tiga singa di dada, Jules Rimmet masih bercahaya, Tak ada lagi tahun-tahun yang menyakitkan, Tak perlu lagi bermimpi, Kita bisa menarikan Tari Nobby, Kita bisa menari di Prancis, Dia telah pulang, Dia telah Pulang, Dia pulang, Sepak bola telah kembali ke rumah).

***

COWASJP.COM – Itu adalah potongan bait lagu ‘’Three Lions, Football Coming Home’’ yang menjadi lagu kebangsaan suporter tim nasional Inggris. Lagu itu diciptakan oleh Frank Skinner dan David Baddiel, menyambut gelaran Piala Eropa 1996 yang berlangsung di Inggris. Sampai sekarang, lagu itu selalu menggema manakala pasukan Inggris, The Three Lions, melakukan pertandingan internasional di mana pun.

pendukung Inggris percaya bahwa sepakbola adalah olahraga yang lahir di negara mereka. Walau masih diperdebatkan kebenarannya, tetapi beberapa bukti sejarah bisa membenarkan klaim itu. Inggris adalah negara yang menjadi tempat dirumuskannya peraturan tentang sepakbola atau yang kini biasa dikenal sebagai ‘’Laws of the Game’’.

Pada pertengahan abad ke-19, beberapa sekolah di Inggris melakukan pertemuan guna membuat aturan sepakbola. Aturan itu dimaksudkan agar tindak kekerasan dan kecurangan yang acap terjadi dalam sepakbola kala itu bisa dihindari.

Setelah aturan disahkan, sepakbola semakin berkembang di Inggris, menjadi olahraga yang dimainkan masyarakat secara luas. Kemudian pada 1886, negara-negara Britania Raya, Inggris, Skotlandia, Irlandia Utara, serta Wales bersepakat untuk membentuk Dewan Asosiasi Sepakbola Internasional (IFAB).

BACA JUGA: 

Il Duce 

Tragedi Yunani

Merdeka 4 Juli​

Franco​

Nasionalisme Bola

Soros

D-Day​

Garda Swiss

Revolusi Beludru​

Hamlet​

Sang Pangeran​​

Homophobia Sepak Bola​

Conquistadores​

Modric Si Mozart Kecil​

Total Football​

Turki, Al-Fatih, dan Orang Sakit Eropa​

 Tuhan (belum) Mati di Jerman​

Ini adalah organisasi sepak bola internasional pertama dan mendahului terbentuknya federasi sepak bola internasional FIFA pada 1904. Sampai sekarang, IFAB masih menjadi badan yang bertanggung jawab atas peraturan sepakbola yang diterapkan oleh FIFA. Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa pendukung Inggris begitu yakin bahwa negara mereka adalah tempat dilahirkannya sepakbola.

Sepak bola mula-mula diperkenalkan di China, sekitar abad ke tiga Sebelum Masehi. Permainan sepak bola hadir, awalnya digunakan latihan militer untuk berperang. Ada metodenya, bagaimana cara membaca gerakan serangan lawan dan sebaliknya untuk mematahkan serangan. Jadi yang memperkenalkan sepak bola pertama kali adalah tentara perang China.

tragedi-yunani.jpg Sumber: www.columbusunderground.com

Permainan itu dipakai untuk latihan mengatur strategi menyerang, sekaligus mematahkan serangan lawan. Permainan itu ternyata tidak hanya bermanfaat untuk strategi perang di lapangan, tapi juga memberi banyak pelajaran dalam politik. Jurus menyerang, mematikan lawan, dan memperdaya lawan adalah trik yang umum dalam sepak bola dan bisa diterapkan untuk kepentingan lain, seperti politik.

Dari China, permainan sepak bola merambah ke berbagai negara seiring dengan meluasnya peperangan. Ada yang beranggapan juga bahwa seni permainan bola disempurnakan oleh tentara Salib dan imigran Eropa yang berpindah ke Timur Tengah menjelang tahun seribu masehi. Dari situlah sepak bola dikenal di negara-negara muslim Timur Tengah.

Sesudah memasuki tahun masehi, sepak bola lebih dikenal di Britania Raya, Romawi, dan Yunani. Di Yunani permainan bola ditendang ke atas di antara kedua kelompok pemain. Mereka saling berebut, lalu digiring ke Khottu Marma alias gawang. Permainan di Yunani ini menjadi salah satu cikal bakal sepak bola modern.

perang-troya.jpgFoto: ULTIMAGZ/Evan Andraws

Bukti sejarah yang paling valid mengenai munculnya peraturan sepak bola modern ditemukan di Inggris. Karena itu wajar jika suporter Inggris mengklaim bahwa olahraga paling populer di dunia itu lahir di Inggris. Wajar pula kalau mereka punya lagu kebangsaan Football Coming Home. Buktinya, sampai sekarang tidak ada satu negara pun yang mengomplain lagu itu. 

Sejak Inggris menjadi juara dunia pada 1966 di Wembley, sepak bola mengembara kemana-mana. Sejak saat itu sepak bola tidak pernah pulang ke rumah. Dalam konteks itulah Football Coming Home diciptakan. Yang dimaksud pada bait “football’s coming home” adalah trofi Piala Dunia. 

Mereka beranggapan bahwa sudah sepantasnya trofi paling bergengsi di ajang sepakbola itu kembali ke haribaan negara asal sepakbola. Inggris sudah paceklik gelar. Trofi Piala Dunia terakhir yang mereka raih itu terjadi pada lebih setengah abad lalu.

Impian menjadi juara dunia masih sulit dicapai.  Tapi, Inggris ingin setidaknya, menjadi kampiun Eropa. Ketika kemudian Inggris menjadi tuan rumah Piala Eropa 1996, impian itu membuncah mejadi mimpi nasional.

Lagu itu diciptakan untuk menyemangati tim nasional Inggris supaya bisa mengembalikan sepak bola ke rumahnya. Tapi, beda dengan lagu-lagu lain yang berisi semangat yang menggebu-gebu, lagu itu sebenarnya lebih banyak berisi curhat mengenai kepedihan sepak bola Inggris. 

WEDO-INGGRIS.jpgSuporter cantik timnas Inggris (Foto:EPA/Ballesteros)

Lagu itu berkisah tentang Inggris yang selalu menjadi pesakitan. Setelah menjuarai Piala Dunia 1966, turnamen-turnamen yang diikuti oleh Inggris selalu berakhir dengan kekecewaan, termasuk pada Piala Eropa 1996 ketika Inggris hanya sampai ke babak semi final.

Meski demikian, para suporter tetap menunjukkan kesetiaan tanpa batas kepada tim Tiga Singa. Mereka tak pernah berhenti bermimpi untuk mendapatkan gelar, kendati kekecewaan demi kekecewaan terus mereka rasakan selama 50 tahun terakhir. 

Perhelatan Euro 2020 ini menghidupkan kembali mimpi itu. Tinggal beberapa langkah lagi Inggris bisa meraih kehormatan yang mereka impikan. Tapi, Inggris harus menghadapi hadangan Denmark yang sangat berbahaya. Tim ini mempunyai spirit Hamlet yang sangat sulit ditundukkan.

Para pandit berbicara mengenai final ideal antara Inggris melawan Italia yang sudah menunggu di final. Tapi, sepak bola selalu penuh dengan ketidakadilan. Selalu ada kenisbian dalam sepak bola. Denmark bisa menjadi juara Piala Eropa pada 1992 karena kecelakaan. Yunani bisa menjadi juara Eropa pada 2004 karena kecelakaan. 

suporter-denmark.jpgPotret suporter cantik timnas Denmark (Foto: Koen van Well/Pool/AFP)

Dalam sepak bola, kecelakaan adalah bagian dari takdir yang tidak bisa dihindari, sebagaimana Achilles yang gagah perkasa tidak bisa menghindari takdirnya. Achilles mati terkena panah di tungkainya yang menjadi kelemahan utamanya. Sepak bola, seperti kisah Yunani, adalah tragedi.

Inggris sedang menyongsong takdir. It’s now or never. Sekarang atau tidak sama sekali. Bermain di Wembley di depan publik pendukung yang fanatik, harusnya memberi semangat berlebih kepada Inggris untuk membawa kembali sepak bola ke rumahnya.

We still believe, We still believe, It's coming home, It's coming home. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda