Il Duce

Foto: Istimewa

Italia mempunyai sejarah panjang dengan sepak bola. Pada Piala Dunia 1934 Italia menjadi tuan rumah dan sekaligus sukses menjadi juara dunia. Ini adalah penyelenggaraan kedua turnamen piala dunia, setelah sebelumnya Uruguay menjadi tuan rumah pertama dan juga sukses menjadi juara dunia.

***

COWASJP.COM – Piala Dunia Italia diwarnai insiden politik karena persaingan antara Italia dan Uruguay. Dua negara itu tidak hanya bersaing di rumput hijau, tapi juga terlibat persaingan diplomasi antara negara-negara Eropa dengan Amerika Latin. Ketika Piala Dunia diselenggarakan di Uruguay 1930, negara-negara Eropa merasa keberatan. Italia kemudian memboikot dengan tidak mengirim tim. 

Ketika kemudian FIFA sebagai otoritas tertingi sepak bola dunia memilih Italia sebagai tuan rumah giliran Uruguay yang memboikot dengan tidak mengirim tim. Penunjukan Italia sebagai tuan rumah memicu kontroversi karena dianggap sarat dengan intervensi politik. 

Keputusan tersebut dilakukan tanpa pemilihan suara. Karena itu calon tuan rumah lainnya yakni Swedia memilih mengundurkan diri. Apalagi ketika itu ada indikasi terpilihnya Italia terjadi karena tekanan dan pengaruh politik pemimpin Italia berhaluan fasis, Benito Mussolini. 

Mussolini, yang digekari Il Duce, sangat berambisi untuk menjadikan Italia sebagai tuan rumah untuk menunjukkan kepada dunia kehebatan Italia. Mussolini juga ingin mempromosikan sistem fasisme politik Italia yang totaliter kepada seluruh dunia. Dengan menguasai supremasi sepak bola Mussolini ingin menunjukkan keunggulan fasisme atas sistem politik lain. 

BACA JUGA:  

Tragedi Yunani

Merdeka 4 Juli​

Franco​

Nasionalisme Bola

Soros

D-Day​

Garda Swiss

Revolusi Beludru​

Hamlet​

Sang Pangeran​​

Homophobia Sepak Bola​

Conquistadores​

Modric Si Mozart Kecil​

Total Football​

Turki, Al-Fatih, dan Orang Sakit Eropa​

 Tuhan (belum) Mati di Jerman​

Penyelenggaraan Piala Dunia 1934 sangat meriah dengan berbagai pertunjukan ekstravaganza. Italia nyaris bangkrut karena rugi besar secara finansial. Tapi, Il Duce mendapatkan keuntungan politik besar karena Italia berhasil menjadi juara dunia. 

Penyelenggaraan kali ini melibatkan lebih banyak kota. Berbeda dengan Piala Dunia sebelumnya yang hanya berpusat di kota Montevideo, Uruguay. Di Italia ada delapan kota yang turut serta menggelar pertandingan Piala Dunia seperti, Turin, Trieste, Naples, Bologna, Genoa, Firenze, Milan dan ibu kota Roma.

Italia adalah negara kedua yang sukses menjadi tuan rumah serta menjadi juara Piala Dunia setelah Uruguay. Di babak 16 besar tuan rumah berhasil mencukur Amerika Serikat 7-1. Kemudian bertemu Spanyol di perempat final dan bermain imbang 1-1. Namun pada partai ulangan, Italia menang 1-0 berkat gol dari Giuseppe Meeazza. Di semi final Italia menghadapi Austria dan menang sehingga melaju ke final.

Di partai final menghadapi Cekoslowakia berbagai isu miring menimpa para pemain Gli Azzurri, karena munculnya intrik dan intimidasi politik. Pertandingan final itu laksana tarung bebas karena kerasnya permainan.  Pemain-pemain Cekoslowakia tidak takut terhadap intimidasi dan meladeni permainan keras tuan rumah. Tapi, akhirnya tuan rumah menang 2-1 dan menjadi juara dunia. 

Desas-desus yang berkembang menyatakan, Mussolini memasuki ruang ganti pemain dan memanggil pelatih Vittorio Pozzo. Mussolini mengatakan tidak ada pilihan kecuali harus juara, atau pelatih dan seluruh tim akan ditembak mati. 

Isu ini berkembang luas meskipun tidak pernah dibuktikan dan diungkap kepada publik. Mungkin saja Mussolini melakukan ancaman itu sebagai bentuk motivasi. Buktinya, karena ancaman itu tim Italia bermain kesetanan dan menang. 

italia-ok.jpgFoto: TWITTER.COM/BONUCCI_LEO19

Il Duce dikenal sangat hobi menonton bola. Dia bahkan disebut sukses menggunakan sepak bola sebagai isu nasional dan menyatukan rakyat Italia di bawah panji 'Fascio' akronim dari paham sepak bola fasis yang digagas oleh Mussolini. 

Bukan hanya di level piala dunia, di level klub Mussolini adalah pecinta klub sepak bola asal ibu kota, SS Lazio. 

Ketika itu, para diktator Eropa menjadikan sepak bola sebagai kendaraan politik. Jenderal Franco di Spanyol memakai Real Madrid sebagai simbol dominasi klub ibukota atas klub daerah seperti FC Barcelona dari Katalan. Adolf Hitler penguasa Nazi dari Jerman juga dikenal sebagai pendukung Bayern Munchen dan Schalke 04. 

Mussolini kerap menyaksikan laga Lazio di tribun stadion. Ia bahkan membangun stadion baru, Stadio Olimpico, untuk Lazio, menggantikan stadion lama, Stadio del Partito Nazionale Fascista.

Kecintaan Mussolini terhadap bukan hanya sekadar kecintaan terhadap gaya permainan, tetapi juga karena filosofi klub dianggap cocok dengan pandangan politik Mussolini. 

Lazio memiliki ideologi Romawi yang ingin menjadi penguasa Eropa dan seluruh dunia. Cita-cita itu merupakan cita-cita politik Mussolini juga. Simbol klub yang bergambar burung elang merupakan representasi dari pasukan Romawi. 

Ideologi nasionalisme sayap kanan ini membuat Mussolini jatuh cinta kepada Lazio. Filosofi ini berbanding terbalik dengan klub rival sekota AS Roma yang sebagian besar dimasuki oleh para imigran Jerman dan masyarakat Naples, bagian selatan Italia. 

Aroma politik yang kurang sedap ini menjadi warna tersendiri bagi sepak bola Italia. Kompetisi Seri A Italia kemudian diwarnai oleh beberapa skandal yang mencoreng profesionalitas sepak bola. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa empat gelar juara dunia Italia 1934, 1938, 1982, serta 2006 diwarnai oleh beberapa aksiden akibat aksi mafioso seperti doping dan penyuapan. 

Skandal pengaturan skor Calciopoli yang menggemparkan itu juga menjadi bukti permainan mafia. 

Sekarang ini aroma fasisme  kembali tercium di klub Lazio. Sebab, 75 tahun setelah meninggalnya Mussolini, cicitnya bernama Romano Floriani Mussolini resmi menjadi pemain Lazio. Pemuda 18 tahun itu baru saja menembus tim Lazio U-19. Ia bermain sebagai bek kanan. 

Romano adalah anak Alessandra Mussolini, politisi ternama di Italia sekaligus cucu Mussolini.

Romano mengatakan bahwa dia pemain profesional dan tidak ada hubungannya dengan politik. 

Meski demikian, para suporter garis keras merasa mendapat angina oleh kemunculan Romano Mussolini. Para suporter fanatic di Curva Nord, khususnya ultras Irriducibili yang dikenal sebagai penganut fasisme Mussolini bakal kembali mendapat angin. 

Sang ibu Alessandra tak ingin anaknya disangkutpautkan dengan politik, apalagi paham fasisme. Romano bertekad menjadi pemain profesional yang lepas dari baying-bayang sang kakek buyut. 

Di pentas Euro 2020 Italia akan menapaki babak penting menghadapi lawan berat Spanyol. Dua negara itu punya warisan sejarah politik buram di Eropa. Italia dengan Il Duce dan Spanyol dengan Diktator Jenderal Franco. 

Tentu saja kedua kesebelasan sekarang tidak ada hubungannya dengan dua penguasa diktator itu. Mereka akan bertanding sebagai profesional dan tidak akan membiarkan paham politik memasuki lapangan sepak bola. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda