Tragedi Yunani

Stadion Wembley (Foto: Twitter.com)

​Tragedi Yunani digambarkan dalam Kisah Iliad karya pujangga Homeros yang menceritakan perang besar Yunani melawan Troya yang terjadi pada akhir Zaman Perunggu di Yunani. Perang berlangsung selama sepuluh tahun, dan Iliad menceritakan episode tahun terakhir peperangan yang penuh tragedi kemanusiaan itu. Kedua belah pihak sudah benar-benar lelah berperang, dan pasukan Yunani sudah amat ingin pulang. Pasukan Troya juga sudah mengalami kelelahan fisik dan mental yang luar biasa. Tapi, kedua pasukan tidak bisa mengelakkan takdir.

***

COWASJP.COM – Iliad adalah drama yang dimulai dengan perseteruan antara pemimpin pasukan Yunani, Raja Agamemnon dari Mykenai, dengan prajurit terhebat Yunani, Achilles. Dalam sebuah pertempuran hebat, pasukan Yunani memukul mundur pasukan Troya. Setelah kemenangan itu pasukan Yunani mendapatkan banyak harta pampasan perang dan membagi-baginya kepada seluruh pasukan. 

Achilles terkenal sebagai prajurit yang andal dan punya kemampuan tempur hebat. Dengan kecepatan tangan dan ketajaman pedangnya Achilles bisa menghabisi lawan dengan mudah. Karena kehebatan Achilles pasukan Yunani bisa memenangkan banyak pertempuran dengan mudah.

Achilles adalah manusia keturunan dewa. Ia sangat rupawan dan badannya kebal dari segala senjata. Sewaktu masih bayi ibunya memasukkan badan Achilles ke sungai kayangan yang memberinya kekebalan dari segala senjata. 

Tetapi, Sang Ibu memegang ujung kaki Achilles kecil di bagian tungkai ketika menyelupkan badan Achilles ke sungai kayangan. Bagian yang tidak terendam air di tungkai Achilles itu tidak kebal senjata. Dan kelak dari tungkai itu Achilles mengalami kematiannya. The Achilles’s Heel, tungkai Achilles adalah kelemahan yang membawa kematian.

BACA JUGA:  

Merdeka 4 Juli​

Franco​

Nasionalisme Bola

Soros

D-Day​

Garda Swiss

Revolusi Beludru​

Hamlet​

Sang Pangeran​​

Homophobia Sepak Bola​

Conquistadores​

Modric Si Mozart Kecil​

Total Football​

Turki, Al-Fatih, dan Orang Sakit Eropa​

 Tuhan (belum) Mati di Jerman​

Setelah kemenangan atas Troya tiap orang memperoleh bagian masng-masing. Salah satu jarahan yang diperoleh Achiles adalah seorang wanita cantik bernama Briseis yang akan menjadi budaknya. Achilles jatuh cinta kepada Briseis. Tapi, Raja Agamemnon yang mengetahui kecantikan Briseis merebutnya dari Achilles. 

Achilles menjadi sangat marah oleh tindakan Agamemnon, sehingga ia tak mau lagi bertempur untuk pasukan Yunani. Ia hanya berdiam di tendanya. Tanpa bantuan Achilles, pasukan Yunani kalang kabut dan dipukul mundur.

Sahabat akrab Achilles, Patroklos, memperoleh ide. Ia memakai baju zirah Achilles dan pergi bertempur. Orang-ornag mengira bahwa ia adalah Achilles. Sayangnya, dalam pertempuran itu Patroklos dibunuh oleh Hektor, seorang pangeran anak raja Priamos. Orang-orang pun kemudian menyadari bahwa itu bukanlah Achilles.

Ketika Achilles mengetahui bahwa Patroklos telah tiada, ia begitu marah dan berduka hingga akhirnya ia pun mau bertempur lagi. Pertama-tama, ia harus membalaskan dendamnya. Ia menantang perang tanding satu lawan satu melawan Hektor. Achilles mendatangi benteng lawan dan berteriak menantang Hektor untuk berduel.

Hektor siap melayani tantangan Achilles. Raja Priamos berkeberatan karena tahu kehebatan Achilles dan meminta Heketor untuk tidak melayani tantangan itu. Tetapi, Hektor adalah seorang ksatria yang pantang menolak tantangan perang. Ia turun keluar dari benteng melayani tantangan duel Achilles.

Dengan disaksikan oleh ayah dan keluarganya dari kejauhan Hektor berduel dengan Achilles. Dalam beberapa kali serangan terlihat Hektor terdesak. Dan dengan sebuah gerakan cepat Achilles melompat tinggi dan menghunjamkan pedang ke dada Hektor.

Hektor mengembuskan nafas terakhir disaksikan oleh ayahnya dari kejauhan. Dendam Achilles tidak berhenti sampai disitu. Ia mengikat jenazah Hektor di belakang kereta kudanya dan menyeret jenazah itu ke kemahnya untuk dijadikan makanan anjing. Raja Priamos menyaksikan tragedi itu dengan kepedihan luar biasa.

Tengah malam harinya, Raja Priamos meninggalkan peraduannya dan menyelusup masuk kemah Achilles. Ia berhasil menemui Achilles dan memohon agar jenazah anaknya diperbolehkan dibawa pulang untuk dimakamkan sebagai kstaria terhormat. Achilles mengizinkan Raja Priamos membawa jenazah Hektor.

fans-denmark.jpgPara fans timnas Denmark.. (Foto: Pinterest)

Beberapa hari kemudian, pasukan Yunani membuat sebuah siasat untuk mengelabuhi pasukan Troya. Sebagian pasukan yang telah tewas sengaja ditinggalkan di pantai Troyadengan keadaan terjangkit sebuah wabah. Pasukan Troya mengira pasukan Yunani pergi karena takut wabah tersebut menjangkit seluruh pasukannya.

Pasukan Yunani pergi meninggalkan patung kuda raksasa dari kayu. Pasukan Troyamengira ini adalah sesembahan untuk dewa. Tanpa merasa curiga, pasukan Troya mengangkutnya memasuki kota. Semua rakyat Troyamenyambutnya penuh suka cita, pesta pun digelar seharian penuh. Namun, rakyat Troyatidak menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya, yaitu awal kehancuran Troya. 

Pada malam buta, pasukan Yunani yang bersembunyi di dalam kereta kuda keluar dari persembunyian dan membuka pintu gerbang kota. Pasukan Yunani merangsek ke dalam kota dan menghancurkan pasukan Troya.
Achilles yang ikut merangsek ke kota membunuh Pangeran Menon dari Troya. Tapi, diam-diam Pangeran Paris adik kandung Hektor sudah mengincar Achilles untuk membalas dendam kematian kakaknya. 

Pada sebuah kesempatan Paris menyerang Achilles. Paris mengetahui rahasia kelemahan Achilles di tungkainya yang tidak kebal. Paris pun menebas kaki Achilles hingga terluka parah. Achilles mati menemui takdirnya.

Ia sudah diramalkan akan mati di Troya. Kelemahan di tungkainya akan menjadi sebab kematiannya. Ibu Achilles sudah berusaha agak Achilles menghindari takdir dengan cara tidak ikut perang ke Troya. Tapi, takdir memanggil Achilles. Dan kelemahan di tungkainya menjadi ‘’The Achilles’s Heel’’ yang abadi sampai sekarang.

Tragedi Yunani menjadi kisah abadi sampai sekarang. Setiap saat tragedi itu bisa terjadi. Gelaran Euro 2020 ini laksana palagan perang tanding pangeran-pangeran hebat dari Yunani dan Troya. Berbagai siasat dan strategi diterapkan untuk bisa mendapatkan kemenangan.

Inggris, Denmark, Italia, dan Spanyol akan bertempur untuk menentukan siapa yang jadi pemenang. Apa saja bisa terjadi. Tragedi paling memilukan bisa terjadi setiap saat. Boleh saja sebuah tim dijagokan. Boleh saja sebuah tim dianggap favorit yang karena punya kekuatan yang merata.

Tetapi, setiap orang punya kelemahan. Punya ‘’pengapesan’’. Sebuah tim sepakbola pun punya kelemahan yang tidak disadari. Tapi lawan tahu dan mengincarnya. Achilles’s Heel akan menjadi titik kematian yang membawa tragedy.

Inggris boleh saja hebat. Italia boleh saja tidak terkalahkan. Spanyol boleh saja mematikan. Denmark boleh saja punya kekuatan tersembunyi. Tapi, semua punya kelemahan masing-masing. Drama dan tragedi akan terjadi.

Pada gelaran Piala Eropa 1992 Denmark menjadi juara. Ini merupakan drama yang lebih besar dari perang Troya. Pada Piala eropa 1996 Yunani menjadi juara mengalahkan Jerman yang digdaya. Strategi Troya rupanya dipakai oleh Yunani untuk menggasak kelemahan Jerman.

Panggung semi final dan final Euro 2020 akan menjadi panggung drama dan tragedi. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda