Bondet Hardjito dalam Kenangan

’’Jenengku Mbok Dol, Ya San’’

Almarhum Bondet Hardjito. (FOTO: Facebook)

Saya kaget ketika membuka Facebook dan membaca kabar bahwa Bondet Hardjito, sohib kentel saya telah dipanggil Sang Khalik. Saya tak mengira bahwa dia yang saya lihat masih segar bugar dan atraktif, tiba-tiba saja meninggal.

***

COWASJP.COM – Banyak kenangan indah sejak masih sama-sama kuliah di Kampus Akademi Wartawan Surabaya (AWS, Jalan Kapasari, Surabaya). Aku satu tingkat di bawah dia. Sehingga dialah yang ikut memlonco saya waktu Mapram.

Waktu itu ia termasuk senior yang galaknya minta ampun. Saya waktu itu baru pulih dari tulang kakiku yang patah gara-gara nabrak angkot di Kenjeran. Ia memaksa saya scotjam. Padahal saya sudah bilang kakiku baru pulih setelah 6 bulan lamanya di-gibs. Tapi ia tak peduli. 

BACA JUGA: Yang Satu Fokus Ecoprint, Lainnya Tradisional​

‘’Kampus AWS tidak butuh mahasiswa pemalas!’’ teriak Bondet.

Tapi ternyata kemudian dia sahabat yang baik. Apalagi tiap berangkat ke kampus, kita bertiga, Saya, Dadik Susianto dan Bondet selalu bertemu di Kupang, untuk mencegat Angkot yang datang dari arah Gang Dolly. Kebetulan Dadik dan saya tinggal di Perumnas Manukan, sedang Bondet di Banyuurip. Kita selalu gantian membayar angkot, apalagi saya termasuk mahasiswa ekonomi lemah, jadi dialah yang sering mbayari.

Tapi tentu ada syaratnya. Yakni, aku harus bantu dia cari berita untuk dia. Waktu itu Bondet jadi wartawan Pos Kota. Setiap kali saya setor berita, ia lantas memberi saya satu roll film. Gaktahu untuk apa, wong dia tahu bahwa saya tak punya kamera. ‘’Wis ta lah, gowoen wae (Sudahlah, bawa saja),’’ katanya dengan dialek Surabaya yang kental. Saya pikir film hitam putih itu jatah dari kantornya Pos Kota.

bonet77e5b.jpgFoto kenangan Almarhum Bondet Hardjito. (FOTO: Facebook)

Gara-gara nulis itu terpaksa saya harus out dari Dekdikbud Kecamatan Tandes sebagai honorer gara-gara nulis siswi SMTA yang ketangkap basah hoho hihek. Ternyata sekolah siswi itu yayasannya dipegang pak kepala heheheh.

Kenangan paling dalam ketika saya menulis rubrik Opo Maneh di Jawa Pos. Sayamenggunakan nama Bondet untuk tokoh kontroversialnya. Tahu itu, Bondet langsung protes,

"’Wah jenengku mbok dol yo San (Wah, nama saya kamu jual ya San),’’ katanya, dan akhirnya minta upeti ditraktir di kantin kampus.

Dia sahabat yang tak pernah tersinggung termasuk ketika namanya saya comot itu. Ia tetap siap bergurau termasuk ketika sama-sama naik angkot dari Kupang. Biar ada angkot kosong dia gak mau naik. Baru mau naik ketika ada ceweknya, apalagi cantik, meski angkot itu penuh penumpang. Uyel-uyelan pun dilakoni hingga sampai kampus sudah bisa dipastikankeringatan.

Setelah dari AWS saya lama tak ketemu. Ketemunya justru di Madiun saat saya masih baru gabung di Jawa Pos. Ia mampir ke rumah saya di Jalan Sawo dan menginap semalam di situ.

Ketemu lagi di Malang ketika ia sudah jadi Pimred Memorandum. Dan ketemu lagi saat saya sedang ada acara di Surabaya. Ketika saya kontak, ia pun menemui saya dan mengajak makan siang di sebuah restoran terkenal. 

‘’Saiki aku iso nraktir koen (Sekarang saya bisa mentraktir kamu),’’ katanya sambil nyetir mobilnya yang baru keluar dari dealer.

SELAMAT JALAN SAHABAT. Semoga engkau diterima di sisi-Nya. Aamiin YRA. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda