Pemerintah Kurang Peduli Seni Budaya Tradisional Jaranan

Wahyu Bawono: kelompok seni budaya tradisional di Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jatim. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Kesenian tradisional jaranan yang sudah eksis sejak Indonesia belum merdeka, saat ini malah seperti tidak bisa hidup layak di rumahnya sendiri. 

Pemerintah tak berniat untuk merawat dan melestarikan seni budaya adiluhung bangsa. Bertahan hidup ya syukur, gulung tikar ya sudahlah. Mau apa lagi. Sikap pemerintah seperti inilah yang dirasakan oleh komunitas pecinta dan pelaku seni jaranan. 

Pemerintah hanya fokus pada bidang perekonomian dan pembangunan infrastruktur. 

Oky Setiawan  pimpinan kelompok seni jaranan dan campursari Wahyu Bawono di Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo,  mengakui bahwa pemerintah masih sangat terbatas atau minim dalam memberikan bantuan. Padahal kondisi kelompok kesenian jaranan saat ini makin terpinggirkan oleh hiburan kesenian modern.

Berbagai kesenian seperti ludruk, wayang orang, ketoprak, wayang kulit, macapat, atau seni tari tradisional akhirnya harus bertahan hanya dengan modal semangat dari masing-masing kelompok. Seni pentas Srimulat pun yang dekade 1980-an sampai 1990-an pernah ngetop, sekarang lenyap entah di mana. 

jaranan.jpg

Dengan keterbatasan investasi oleh pemerintah, Oky Setiawan khawatir kesenian tradisonal dalam negeri tidak bisa berkembang alias hanya bisa jalan di tempat.

Pria berperawakan krempeng yg terlihat tidak terurus ini  mengatakan, hingga detik ini kelompoknya tidak mendapatkan dana bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, maupun Pemprov Jawa Timur.

Maka, untuk menghidupi peguyubannya dia harus berjibaku mencari dana demi kelangsungan hidup kesenian yang ia geluti sejak kecil.

Wahyu Bawono adalah paguyuban kelompok Seni Budaya Jaranan dan Campursari  yang bermarkss di Jalan Merpati RT 09 RW 06 Sepanjang,Taman , Sidoarjo.

Namun, Oky mengaku beruntung masih ada salah seorang yang peduli terhadap seni budaya warisan nenek moyang ini. Jika tidak, kesenian yang sudah turun temurun ini akan hilang dari bumi pertiwi.

Dia adalah Ir Hj Nur Hendriyaningsih. Politikus Partai Nasdem ini sangat peduli terhadap kelompok seni tradisional jaranan tersebut. Bahkan anggota Komisi B DPRD Kabupaten Sidoarjo ini akan mendorong Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk memberikan perhatian kepada kelompok seni tradisional tersebut. 

Perlu dicatat bahwa bidang tugas Komisi D adalah pendidikan, kesehatan, kesejahteraan rakyat, sosial, kepemudaan, olahraga, peranan wanita, keluarga berencana, agama, tenaga kerja dan transmigrasi. 

ambarinyar1.jpgIr Hj Nur Hendriyaningsih (kiri) anggota Komisi D DPRD Pemkab Sidoarjo dan Oky Setiawan, pimpinan Wahyu Bawono. (FOTO: istimewa)

"Pemkab Sidoarjo harus memberikan wadah kepada sekolompok anak muda yang masih peduli terhadap seni budaya tradisional ini, Caranya, mereka diundang untuk pentas di acara-acara khusus Pemkab Sidoarjo," kata Ir Hj Nur Hendriyaningsih.

Ia awalnya tidak percaya masih ada sekelompok anak muda di Sidoarjo yang masih mau dan peduli dengan seni budaya tradisional ini. Tapi setelah ia melihat langsung di lokasi anak-anak muda ini beraksi dia baru percaya. Dan ini sangat positif untuk wajib didukung oleh Pemkab Sidoarjo. Paling tidak Pemkab memberikan pengakuan dan wadah seni budaya ini tetap eksis dan berkesinambungan. "Mereka ini arek-arek muda Sidoarjo yang berkegiatan positif lo. Ayo kita dukung bersama," tandasnya 

Dan, Ir Hj Nur Hendriyaningsih langsung didapuk menjadi pembina seni Wahyu Bawono. Beliau akan dengan gigih mengupayakan dan  meminta pemerintah, baik pusat maupun daerah menambah porsi perhatiannya bagi kesenian dan pelaku seni tradisional. 

Ada tiga hal yang diminta Bu Nur terkait hal itu. 

1/ Bu Nur meminta pengguna frekuensi publik harus memberi slot khusus yang diwajibkan pemerintah untuk menayangkan/mennyiarkan ragam kesenian tradisional. Baik media cetak, online, maupun elektronik.

jarranan1.jpg

2/ Seluruh kementerian serta Pemerintah Daerah harus mempunyai slot anggaran khusus penyelenggaraan festival kesenian tradisional, sekaligus menyelenggarakannya pada momen-momen tertentu sesuai adat tradisi masyarakat.

3/ Bu Nur berharap optimalisasi pendirian sanggar (kesenian), guna pengembangan kreasi dan inovasi dalam rangka kaderisasi. Untuk melestarikan dan regenerasi. 

Ketua BNSTL (Budaya Nusantara Seni Tari dan Lokal) Sidoarjo Setiyoko mengapresiasi adanya seni jaranan Wahyu Bawono. Sebab dengan adanya wadah seni Jaranan dan Campursari bisa mengurangi hal-hal negatif di kalangan anak muda. Ia berharap Pemkab Sidoarjo peduli dan memperhatikan masyarakat seni khususnya seni tradisional jaranan.(*)

Pewarta : Ambari Taufik
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda