Beragama secara Saintifik Melacak Bukti Empirik

Dubai Miracle Garden atau Taman Keajaiban Dubai yang memiliki sekitar 45 juta jenis bunga di atas lahan seluas 18 hektar. Tanpa ilmu pengetahuan dan selalu berpikir kritis tidak mungkin bisa taman itu dibuat. (FOTO: cnnindonesia.com)

COWASJP.COM – Lazimnya, beragama tak perlu pembuktian-pembuktian. 

“Cukup percayai saja. Tak usah banyak tanya. Apalagi pakai mengritisi segala,” kata kawan saya. Menurutnya, agama ini sudah pasti kebenarannya. Karena itu, cukup imani. Ikuti. Jalankan. Titik.

Kawan saya lainnya protes. “Mana bisa begitu. Bukankah kita tidak boleh percaya begitu saja, kepada setiap informasi yang datang kepada kita?”

“Kalau tidak boleh bertanya dan mengritisi, bagaimana kita bisa menguji kebenarannya? Apalagi, jika informasi yang sampai kepada kita itu datang dari sumber yang berbeda-beda. Dan isinya tidak sama. Anda mau mengikuti yang mana?,” lanjutnya memberondongkan uneg-uneg hatinya.

“Ya, carilah sumber yang benar. Guru yang benar. Yang bisa dipercaya,” sergah kawan saya yang pertama.

“Untuk bisa mencari sumber yang benar, kan harus banyak bertanya. Dan, bersikap kritis. Tidak bisa asal comot dan mempercayai saja. Apalagi, di era informasi seperti ini. Banyak berita hoax. Harus diklarifikasi,” kawan yang kedua tidak mau kalah.

Begitulah, masalah yang sangat mendasar ini ternyata masih menjadi perdebatan panjang di antara penganut agama. Termasuk di kalangan Islam.

Ada yang bersikap menerima saja. Apapun yang diinformasikan dan diajarkan kepadanya. Tapi, ada juga yang bersikap kritis. Hanya mau menerima jika masuk akal baginya. Atau, bisa dipertanggungjawabkan isinya.

Memang, semestinya proses beragama itu tidak boleh ikut-ikutan saja. Harus kritis. Dan, bertabayun secara akal sehat. Karena, setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” [QS. Al Isra’: 36]

Jadi, kalaupun kita mau mengikuti sumber tepercaya dalam beragama, maka rujuklah firman Allah di dalam Al Qur’an. Dan, ternyata Al Qur’an pun memerintahkan kepada umat Islam untuk tidak boleh ikut-ikutan. Harus bisa dipertanggungjawabkan.

Artinya, harus kritis. Dan senantiasa mempertanyakan kebenarannya. Agar tidak salah langkah. Yang oleh Al Qur’an disebut sebagai tersesat. Termasuk, mempertanyakan setiap pendapat yang dikemukakan oleh para guru kita. Tidak apa-apa. Wajar-wajar saja. Untuk kebaikan. Dan kebenaran.

Hal itu juga sudah menjadi kelaziman di kalangan ulama terdahulu. Sehingga sampai muncul mazhab dan aliran dalam agama. Itu dikarenakan terjadi perbedaan pendapat antara guru dan murid pendiri mazhab tersebut. Justru, yang demikian ini, memperkaya khazanah keilmuan Islam. Tinggal pilih yang paling masuk akal dan sesuai dengan dalil-dalil pendukungnya.

Maka, di era milenial inipun, proses beragama mesti dilakukan secara kritis. Terlebih lagi, dengan semakin banyaknya berita-berita hoax. Yang seringkali diatas namakan agama. Bagi siapapun yang tidak biasa kritis, bakal dengan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai macam informasi di sekitarnya.

Maka, sebaiknya kita kembali kepada cara yang diajarkan Al Qur’an. Misalnya, ketika Allah mencontohkan cara nabi Ibrahim dalam bertauhid kepada-Nya.

“Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya. Dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu". [QS. Al Anbiya’: 56]

Bahwa, ternyata beragama itu harus melalui proses pembuktian-pembuktian. Bukan sekadar ikut-ikutan. Yang dengan pembuktian itu, keimanan kita menjadi semakin kokoh. Tidak gampang goyah. 

Ada proses dialektika. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak paham menjadi paham. Dari ragu-ragu menjadi yakin. Itulah yang dimaksud dengan proses ilmul yaqin, ainul yaqin dan haqqul yaqin.

Sehingga, proses beragama menjadi hidup. Dan menarik. Bukan sekadar ikut. Dan menjalaninya. Tanpa merasakan perjuangan untuk memperoleh keyakinan akan kebenarannya. Sebuah proses beragama yang hambar.

Maka, saya termasuk orang-orang yang memahami dan menjalankan agama ini secara kritis. Selalu bertanya dan mempertanyakan. Inginnya menjalani spiritualitas secara logis. Rasional. Empirik. Dan saintifik. Meskipun, belum semua kebenaran bisa terbukti di era sekarang. 

Tetapi, setidak-tidaknya, pemahaman yang logis dan rasional telah memberikan kemantapan hati dalam menjalani agama ini. Apalagi, ternyata Allah pun memberikan jaminan, bahwa semua berita Al Qur’an ini akan terbukti kebenarannya ke masa depan.

"Al Quran ini tidak lain hanyalah peringatan (pelajaran) bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Quran setelah beberapa waktu lagi (ke masa depan)". [QS. Shad: 87-88]

Wallahu a’lam bissawab ..

[Dimuat di Harian DisWay, Jumat, 18 Juni 2021]

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda