Vaksinasi yang Jogja Banget

Vaksinasi ramah difabel yang dilaksanakan oleh Grab Vaccine Center Yogyakarta di GOR UNY, 14-17 Juni 2021.

Ada yang istimewa dalam program percepatan vaksinasi untuk lansia yang saya ikuti ini. Inilah program vaksinasi yang ramah difabel. Kendati sasaran utamanya para lansia, pra-lansia dan mitra Grab, para penyandang disabilitas mendapat prioritas.

***

COWASJP.COM – Sejak dari kedatangan, verifikasi pendaftaran, pelaksanaan vaksinasi hingga observasi pascavaksin, disediakan jalur khusus bagi para difabel. Para petugas dengan cekatan membantu para difabel mendapatkan layanan vaksinasi ini. Sepertinya ini layanan vaksinasi ramah difabel pertama di Jogja. Atau kalau menurut penyelenggaran vaksin, pertama di Indonesia. Seperti yang ditulis pada layar besar di GOR.

Di pintu masuk sisi barat GOR, ada tenda untuk layanan difabel ini. Tersedia kursi roda. Juga kursi tunggu antrean. Pintu ini khusus untuk difabel dan lansia termasuk para lansia, usia di atas 50 tahun. Sedangkan untuk mitra Grab, pintu masuknya dari sisi utara di lantai dua.

Para peserta vaksinasi mendaftar lewat aplikasi Grab atau Good Doctor. Datang ke GOR cukup menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan undangan yang dikirim lewat WA. Kemudian mengisi data diri dan masuk menuju antrean vaksinasi di lapangan basket dalam GOR. Deretan kursi berjejer menghadap ke bilik tempat suntik vaksin. 

Di antrean inilah, peserta vaksinasi dicek tekanan darahnya, dan ditanya riwayat kesehatannya. Pemeriksaan ini dilakukan oleh para perawat dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Mereka dari sejumlah daerah di Jogja seperti Bantul, Sleman, Gunungkidul, Kulonprogo dan Kota Jogja. 

erwan1.jpg

"Pak kita ke dokter di sana dulu ya," ujar perawat kepada seorang lansia calon peserta vaksinasi di depan saya.

"Sudah gak jadi saja Mas, gak papa!" pinta lansia itu. Dia berniat mengurungkan diri. Mundur tak jadi vaksin.

Rupanya bapak itu tensinya tinggi saat diukur oleh perawat. Mungkin karena tegang atau takut. Oleh perawat diajak keluar dari antrean. Menunggu beberapa saat agar tekanan darahnya turun. Kendati awalnya menolak, bapak tersebut akhirnya menuruti ajakan perawat. Menepi dari antrean.

Saya yang "lolos" dari perawat itu, lantas diverifikasi oleh dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Ditanya punya penyakit apa, apa pernah divaksin sebelumnya, pernah rawat inap dengan mengonsumsi antibiotik atau obat rutin, apakah pernah kena Covid dan seterusnya. Setelah lolos, dijelaskan proses vaksinasi. 

erwan2.jpg

"Lho, wartawan kok nggak ikut program vaksinasi yang awal Pak. Vaksin yang ini tidak pakai Sinovac lho  Pak. Sekarang pakai Astra Zanecca," kata dokter yang tahu identitas saya.

"Ya Dok! Kan sama-sama vaksin Dok. Efikasi-nya kan malah lebih tinggi Astra Zanecca."

"Iya sih!" katanya mengiyakan, sembari menyerahkan dua buah paracetamol. "Ini kalau nanti panas diminum ya Pak. Efek vaksin seperti pada umumnya vaksin untuk bayi ada kemungkinan badan panas."

Usai menerima paracetamol itu, saya pun masuk ke bilik yang kebetulan peserta vaksinasi sebelum saya sudah selesai. Sekali lagi petugas vaksin menegaskan vaksin yang dipakai bukan Sinovac tapi Astra Zanecca. Kembali saya tegaskan sudah dapat informasi soal itu dan siap divaksin.

Lokasi suntik vaksin tidak seperti program vaksinasi yang diikuti oleh teman-teman wartawan atau pelaku pariwisata sebelumnya. Di foto kawan-kawan, saat vaksin disuntikkan bisa diabadikan oleh rekan-rekannya karena tempatnya terbuka. Yang di GOR ini, vaksin dilakukan di dalam bilik. Hanya ada petugas yang menyuntikkan vaksin, petugas pencatat data dan saya, peserta vaksin.

erwan3.jpg

Saya pun mohon izin meminta petugas pencatat data untuk memotret saat saya divaksin. Biar ada bukti kalau saya sudah divaksin. Bisa saya upload di IG dan FB wkwkwk....

"Tapi foto saya gak bagus lho Pak!" kilah Mbak petugas itu. Padahal setelah saya lihat, hasil fotonya tetap keren. 

"Terima kasih lho Mbak!" kata saya seraya keluar bilik. Petugas berpesan untuk antre observasi pascavaksin. "Nunggu 30 menit untuk melihat ada gejala atau tidak ya?" tanya saya.

"Ya antre saja. Kalau sudah didata petugas bisa langsung pulang kok." 

Saya antre di deretan jalur 5 dari 10 jalur yang ada. Suasana Jogja sangat terasa. Tidak hanya oleh sejumlah orang yang mengenakan surjan lengkap dengan blangkonnya. Yang ikut antre setelah divaksin. Suasana Jogja juga tercipta oleh pengumuman tetap menjaga protokol kesehatan 5M dalam bahasa Jawa. "Monggo kita sami nglampahi gangsal M. Mboten kesupen ngagem masker....

erwan4.jpg

Suasana Jogja banget itu juga terlihat pada spot foto setelah vaksin. Jika di tempat-tempat lain biasanya ditulis "Saya Sudah Divaksin" di tempat ini tulisannya "Kula Sampun Vaksin." 

Proses vaksinasi secara keseluruhan berlangsung cepat. Saya yang mendapat jadwal undangan jam 10.00-11.00, selesai pas sesuai jadwal. Satu jam persis. Antre tidak lama. Tidak berkerumun. Tersedia hand sanitizer di sejumlah titik. Dan juga air mineral.

Program Vaksinasi yang digelar di GOR UNY oleh Kementerian Kesehatan RI, Pemprov DIY dan didukung Grab Indonesia dan Good Doctor, juga disupport oleh Danone, Dettol dan Aino. Vaksinasi berlangsung 14-17 Juni dengan kuota 3.000 orang per hari. Vaksinasi kedua dijadwalkan pada 6-9 September 2021 di tempat yang sama.

erwan5.jpg

Sekda DIY Baskara Aji menegaskan, kolaborasi vaksinasi COVID-19 bersama pihak ketiga ini diharapkan dapat mempercepat pelaksanaan vaksinasi DIY. Aji menegaskan, program vaksinasi diharapkan memprioritaskan kaum rentan, yakni lansia dan selanjutnya pelayan publik. (*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda