OBITUARI

Mister ’’Wong Mangap’’ telah Pergi

Foto: Omah Bal-Balan

Pembuat ikon legendaris itu telah pergi. Semua orang memanggilnya ‘’Mister’’. Mungkin banyak yang tidak mengenalnya. Banyak yang tidak tahu nama aslinya, apalagi nama lengkapnya. Tapi, para bonek dan gibol di Surabaya dan Jawa Timur pasti tahu ikon ‘’wong mangap’’ ciptaan Mister.

***

COWASJP.COM – Muchtar Munaji, nama lengkapnya. Dia meninggal dunia Senin (14/6) setelah beberapa lama dirawat di rumah sakit bersama istri dan keluarganya. Istrinya yang juga sedanng dirawat, tidak mengetahui bahwa Mister telah wafat.

‘’Wong mangap’’ dalam Bahasa Indonesia berarti orang dengan mulut terbuka lebar. Nama itu diberikan untuk logo klub sepakbola Persebaya Surabaya, yang menjadi kebanggaan fanatik para bonek, suporter Persebaya.

Ikon itu menggambarkan seorang anak muda dengan rambut setengah gondrong memakai ikat kepala bertuliskan Persebaya ’87. Diciptakan oleh Mister pada 1987 menjelang final sepakbola kompetisi perserikatan 1987. Ketika itu Persebaya berhadapan dengan PSIS Semarang. Persebaya kalah dan gagal juara.

Tahun berikutnya Persebaya kembali masuk final. Kali ini yang dihadapi adalah tuan rumah Persija Jakarta. Puluhan ribu bonek berangkat ke Jakarta. Mereka dikoordinasikan oleh Harian Jawa Pos yang membuat program ‘’Tret tet tet ke Jakarta’’ yang berhasil menghimpun dan mengirim ribuan suporter ke Jakarta.

wong-mangap.jpgWong Mangap hasil karya Mister Polanco yang menjadi Ikon Bonek Persebaya. (Foto: Istimewa)

Ribuan bonek lainnya berangkat ke Jakarta dengan berbagai cara. Ada yang ‘’nggandol’’ truk secara estafet berhari-hari sebelum akhirnya sampai ke Jakarta. Ada yang mencari tumpangan kereta api gratis. Ratusan, kalau tidak ribuan, suporter itu berangkat ke Jakarta nyaris tanpa uang sepeserpun.

Sejak itulah muncul istilah ‘’Bonek’’ akronim dari bondo nekat, alias modal nekat. Sebutan ini disematkan kepada suporter Persebaya yang nekat berangkat tanpa uang dan hanya bermodal nekat. Sejak itu sebutan Bonek menjadi sebutan khas suporter Persebaya sampai sekarang.

Malam hari menjelang keberangkatan suporter ke Jakarta, puluhan orang mengantre di kantor Jawa Pos di Kembang Jepun, kawasan bisnis pecinan di wilayah utara Surabaya. Ketika itu Kembang Jepung menjadi semacam markas para Bonek. Saat itu Jawa Pos tengah menyiapkan ribuan kaos dan atribut untuk para suporter.

Pimpinan Jawa Pos Dahlan Iskan menemukan tagline ‘’Kami Haus Gol Kamu’’ yang juga menjadi jargon ikonik sampai sekarang. Saat itu Mister, yang bekerja sebagi tim ilustrasi grafis di redaksi Jawa Pos diminta oleh Dahlan untuk membuat ilustrasi untuk melengkapi tagline.

Mister yang lulusan ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Jogjakarta (Sekarang ISI, Institut Seni Indonesia) berpikir cepat. Dengan tangkas tangannya mencorat-coret kertas kanvas. Dalam waktu satu jam lahirlah gambar ikon ‘’wong mangap’’ yang kemudian menjadi sejarah.

Mister lahir di Sulawesi Selatan sebelum hijrah ke Jawa untuk berkuliah di Jogja. Setelah lulus, dia mendapat pekerjaan sebagai ilustrator Jawa Pos. Pada era Mister inilah Jawa Pos mulai memperkenalkan ilustrasi dan grafis untuk memperkuat dan melengkapi berita. 

Dalam hal grafis ini Jawa Pos menjadi pelopor koran pertama di Indonesia. Kecintaan Mister terhadap olahraga sangat tinggi. Ia cinta sepakbola dan menggilai tinju. Setiap kali ada pertandingan sepakbola ia akan menonton di depan televisi begadang sampai pagi. Begitu pula setiap kali ada pertandingan tinju, dia menjadi orang pertama yang nongkrong di depan televisi. 

Kemudian ia akan membuat ilustrasi gol yang terjadi. Dengan keterampilan grafisnya Mister bisa menggambarkan alur bola sampai terjadinya gol. Gambar-gambar ilustrasi gol ciptaan Mister ini menjadi ciri khas Jawa Pos yang banyak diminati pembaca dan kemudian diikuti media lain.

Nama panggilan Mister terinspirasi dari nama seorang petinju latin bernama Caesar Polanco yang sangat dikagumi oleh Muchtar. Ketika Polanco bertanding Muchtar membuat grafis dan ilustrasi dengan penuh semangat. Tim redaktur olahraga Jawa Pos kemudian menjuluki Muchtar sebagai Mister Polanco. Pada akhirnya nama Polanco hilang dan Muchtar pun menjelma menjadi Mister.

Ikon wong mangap diciptakan Mister dengan penuh penghayatan. Ia mendapat inspirasi ketika sedang duduk-duduk memandang Jembatan Merah yang persis ada di sebelah kantor Jawa Pos Kembang Jepun. 

mister-askring1.jpgMister Muchtar Polanco (berdiri belakang ujung kanan). (Foto: Dokumen Askring)

Di Jembatan Merah itulah pada 10 November 1945 terjadi pertempuran heorik antara arek-arek Suroboyo melawan pasukan Inggris yang ingin kembali menguasai Indonesia. Dengan mendompleng pasukan Sekutu, yang baru saja menang dalam Perang Dunia Kedua melawan Jepang, Inggris menurunkan Jenderal Mallaby ke Surabaya untuk menguasai kota.

Dengan hanya bersenjatakan bambu runcing masyarakat Surabaya mengadang pasukan Inggris. Dorongan semangat dari Bung Tomo yang terus-menerus meneriakkan takbir dan teriakan merdeka melalui radio membakar semangat arek-arek Suroboyo. Pasukan Inggris berhasil dipukul mundur, dan dalam sebuah serangan ambush atau pencegatan, Jenderal Mallaby terbunuh.

Dari kisah perjuangan heorik, dan teriakan Bung Tomo yang menggelegar dengan disertai ekspresi wajah penuh semangat, Mister memperoleh inspirasi untuk menciptakan ikon wong mangap. 

Ekspresi wajah wong mangap sebenarnya terlihat mirip dengan ekspresi Bung Tomo yang meneriakkan semangat perjuangan dengan tangan mengacung ke atas. Mister tidak pernah menyebut soal gambar Bung Tomo dan pengaruhnya terhadap ikon wong mangap.

mister-askring.jpgMister Muchtar Polanco (kiri)  besama Miftah seuasai latihan Askring (Foto: Miftah)

Tetapi, dengan memperbandingkan dua gambar itu akan terlihat kesamaan unsur-unsurnya. Tentu saja Mister bukan penjiplak atau plagiator. Ia menciptakan ikon itu murni dari inspirasinya sendiri. Bahwa ada kesamaan unsur dalam sebuah karya seni adalah hal yang biasa. Hal itu disebut sebagai reminisensi, bukan plagiasi.

Orang boleh memberi insterpretasi apa saja terhadap sebuah karya seni maupun karya sastra. Ketika sebuah karya seni tersebar kepada publik maka pada saat itulah pengarangnya telah mati. Roland Barthes menyebutnya sebagai ‘’The Death of the Author’’, matinya sang pengarang. Ketika karya itu dinikmati publik maka publiklah yang berhak memberikan interpretasi apa saja, dan sang pengarng tidak bisa berbuat apa-apa karena telah mati.

Wong mangap bisa diinterpretasikan sebagai personifikasi Bung Tomo. Wong mangap juga diklaim sebagai ikon masyarakat Lamongan dan juga Pasuruan. Mereka semua merasa bahwa wong mangap adalah bagian dari epik perjuangan daerah mereka.

Mister sekarang telah pergi dalam usia 65 tahun. Ia meninggalkan legasi penting dalam sejarah sepakbola Surabaya, Jawa Timur, dan bahkan Indonesia. Wong mangap akan tetap ada selama Persebaya masih ada. 

Seorang seniman telah mati, tapi karyanya abadi. Selamat jalan, Mister. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda