Berebut ”Kue Kering” IKA UA

Gedung DPR RI di Senayan, Jakarta. (FOTO: JournalPolice)

​Ada anekdot kocak dalam buku Balada Paijo. Penulisnya almarhum pelawak Dono Warkop. Dalam salah satu bagian isi Balada Paijo, Dono menceritakan tokoh Paijo yang konyol.

***

COWASJP.COM – Ia, si Paijo, baru saja keluar dari tempat pemungutan suara (TPS) usai mencoblos partai yang dipilihnya dalam pemilu. 

‘’Selamat ya Pak Paijo, Anda baru saja meramaikan pesta demokrasi,’’ kata tetangga Paijo memberi ucapan selamat.

‘’Oh..terima kasih...terima kasih....,’’ jawab Paijo.

‘’Bagaimana Pak Paijo rasanya ikut pesta demokrasi?’’ sambung si tetangga dengan nada bertanya.

‘’Pesta demokrasi apaan?’’ Paijo balik bertanya

‘’Lha tadi yang Pak Paijo lakukan dalam TPS itu,’’ lanjut tetangga tadi.

‘’Ah ... saya tidak berpesta kok. Saya cuma membantu teman untuk mendapatkan pekerjaan sebagai anggota DPR,’’ sergah Paijo.    

*

Senayan tiap lima tahun sekali ibarat lumbung padi bagi tikus. Semua berebut. Saling sikut untuk masuk ke timbunan padi. Setelah bisa masuk yang dilakukan bukan cuma memangsa padi sebanyak-banyaknya. Kalau perlu sekalian bikin sarang dan berbiak di sana. 

Bagi orang yang bernafsu jadi wakil rakyat road to Senayan (jalan menuju Senayan) ibarat pertempuran hidup mati. Agar aman sampai ke Senayan apa pun dilakukannya. Tak ada yang gratis. Harus direbut. Jika perlu siapa pun tak peduli, harus dikorbankan.   

Pertarungan menjadi calon anggota legislatif (caleg), saat ini, justru dimulai dari apa yang kata Filsuf Thomas Hobbes adalah homo homini lupus. Manusia adalah srigala bagi manusia yang lain. Jalan menuju Senayan seolah menjelaskan watak agresi manusia yang sering melebihi hewan.   

Pertempuran menuju Senayan dimulai dari internal partai. Di sana, para caleg harus bertarung dengan sesama rekan yang sama-sama ingin jadi wakil rakyat. Untuk sementara rasa kasih, setia kawan, dihabisi. Berbagai cara dilakukan untuk saling menjegal. 

Untuk berebut dukungan di internal partai saling sikat dibolehkan. Saling sikut dihalalkan. Saling tonjok diwajarkan. Di sinilah wajah politik yang sangar ditampakkan dengan sesungguhnya. Persis seperti yang lama dilontarkan Machiavelli. Kekuasaan politik harus direbut dengan menghalalkan segala cara. Tak ada kawan. Semua orang yang dianggap sebagai penghadang harus dilawan. 

Setelah lolos di internal partai masing-masing pertarungan babak berikutnya lebih seram lagi. Caleg masing-masing partai akan bertarung untuk mendapatkan dukungan pemilih sebanyak-banyak melalui kertas suara yang dicoblos dalam TPS.

 Di sini praktis arena pemilu adalah pertempuran paling brutal. Agresi untuk saling mendapatkan dukungan pemilih bisa dipertontonkan dengan nafsu paling gila sekalipun. Adu fisik dan kekerasan siap ditunjukkan demi meraih tiket ke Senayan.  

*

Kongres Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UA) tanggal 3 Juli 2021 harus dipahami bukan persaingan sebagaimana dipertontonkan para caleg. Maka siapa pun yang maju menjadi calon Orang No 1 di Pengurus Pusat IKA UA (PP IKA UA) tidak perlu berkompetisi seperti di panggung politik caleg, pilkada, atau pilpres. Jauhilah dan hindari persaingan dengan nafas politik. 

Sebaliknya pertebal semangat persahabatan, persaudaraan dengan saling guyub. Arena kongres harus menjadi pula  sarana mempertebal pertemanan yang guyub. Sarat silaturrahim. Serta merumuskan program terbaik untuk memajukan IKA UA ke depan.

Kongres IKA UA harus menjadi media persaingan untuk mencari alumni yang ikhlas memberikan pengabdian terbaik untuk almamaternya. Mencari sosok alumni yang mau berkorban banyak hal. Bukan hanya waktu, tenaga, dan pikiran. Namun juga berkorban materi. 

Siapa pun yang  maju ingin jadi ketua umum PP IKA UA harus berani unjuk diri bahwa dia punya waktu, tenaga, dan pikiran untuk memajukan lembaga IKA UA sebagai media alumni Unair untuk membangun bangsa .

Beda dengan perebutan untuk menjadi anggota DPR. Jalan berliku menuju Senayan ibarat berebut “Roti Basah” Senayan. Perebutan untuk menjadi orang No 1 PP IKA UA malah ibarat berebut “Roti Kering” IKA UA melalui jalan yang lapang dan harus sarat dengan persahatan. Guyub, saling senyum asah-asih harus menjadi wahana yang dijunjung tinggi para calon kketua umum PP IKA UA.

Pertaruhan untuk menjadi Orang No 1 PP IKA UA harus menjauhi semangat berani pasang badan untuk adu fisik. Persaingan menjadi Ketua Umum PP IKA haruslah bernyanyi dalam alunan syahdu terminologi politik mencari alumnus Ksatria Airlangga terbaik yang dapat dipercaya untuk diberi (dititipi) mandat menjalankan aspirasi para alumni Universitas Airlangga. 

Dan terutama pula dapat sungguh-sungguh membantu Universitas Airlangga (Unair) agar peringkat dunia dalam lingkup QS terus meloncat naik dari rangking 400-an ke rangking yang lebih menjulang tinggi. Harus membantu Pak Nasih dan jajaran rektorat agar peringkat Unair terus naik menjadi salah satu perguruan tinggi bergengsi di tanah air, Asia, dan bahkan dunia.

MPR.jpgPotret sidang DPR RI di Jakarta 15 November 2013. Dono berseloroh, mencoblos saat pemilu ibarat mencarikan pekerjaan untuk temannya di DPR. Wajah politik Indonesia sangat sangar. (FOTO: Antara/ Yuda Mahatma - republika.co.id)

Kalau pemilihan Ketua Umum PP IKA UA harus meminjam terminologi seleksi politik maka para alumni Unair yang memiliki hak suara melalui komisariat, cabang, wilayah, pengurus PP, dan dewan penasihat-lah yang  memiliki kedaulatan penuh untuk memilih orang (alumni terbaik) yang paling bisa dipercaya menjadi Orang No 1 PP IKA UA. Mereka, teman-teman kita itu yang berdaulat untuk memilih Ketua Umum IKA UA. Terserah mereka: melalui voting atau cukup aklamasi. 

Di negara-negara yang sistem demokrasinya sudah mapan (maturity) pemilu relatif  bersih dari kekerasan dan adu fisik berebut dukungan. Lantaran para caleg atau capres dapat menunjung tinggi nilai-nilai fairness dalam kompetisi politik. Mereka sadar pemilu adalah proses seleksi politik menjadi wakil rakyat aau memimpin eksekutif. 

Karena itu, rakyatlah yang berdaulat penuh dan mandiri untuk memilih orang yang paling dipercaya menjadi wakilnya di parlemen. Tak ada intimidasi. Tak ada paksaan. Tak ada sogokan. Tak ada rokok cap partai. Tak ada gantungan kunci cap partai.    

Arena kongres IKA UA tanggal 3 Juli 2021 saya berharap persaingan para alumni terbaik untuk menjadi Orang No 1 PP IKA UA bebas dari persaingan serba berkerikil tajam. Sebagai insan akademis peserta Kongres IKA UA  harus memakai jaket tebal moral almamater, kepatutan, dan keteladanan bagi alumni lain. Menjadi contoh teladan bagi adinda-adinda mahasiswa Unair, dan bagi masyarakat luas.

Silakan cari sosok-sosok terbaik alumni untuk merebut  “Kue Kering” IKA UA. Ingat di IKA UA tidak ada “Kue Basah” seperti di Senayan.(*

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda