Menjadi Orangtua Asuh Nyamuk

Gubernur DIY Hamengku Buwono X memberi makan nyamuk ber_Wolbachia dengan menyerahkan tangannya untuk digigit.

COWASJP.COM – Mungkin ada yang bilang mengada-ada. Hoaks. Ngarang ben viral.

Biarlah jika ada yang seperti itu. 

Tapi, ini benar-benar nyata. Saya diminta menjadi orang tua asuh untuk nyamuk. Tepatnya nyamuk-nyamuk. Saya anggap ini sebagai kado ulang tahun pernikahan.

Usia pernikahan kami, 27 Mei tahun ini, dua puluh enam tahun. Punya tiga anak, dua di antaranya sudah bekerja. Di luar Jogja. Alhamdulillah. Sudah agak selo. Slow

Di tengah “keseloan“ itu kami terpilih menjadi orangtua asuh. Uniknya, yang “diasuh“ bukan balita atau anak yatim maupun dhuafa. Kami ditunjuk untuk menjadi orangntua asuh nyamuk. Ya. Nyamuk beneran. Nyamuk yang suka menggigit dan minum darah itu.

Hiii ngeri.... 

Tidak. Sama sekali tidak ngeri. Ini nyamuk bukan sembarang nyamuk. Ini nyamuk baik. Nyamuk yang bermanfaat. 

Nyamuk kok bermanfaat? Bagaimana ceritanya?

Tentang nyamuk ini, saya pernah menulis untuk media. Waktu itu bulan Maret 2017. Yakni saat Melinda Gates mengunjungi Jogja. Lihat Berita Melinda Gates di sini: https://www.cowasjp.com/.../foto-merapi-melinda-promo.../

Saya tulis tujuan utama Melinda ke Kota Gudeg ini adalah mengunjungi Laboratorium Eliminate Dengue Project in Yogyakarta (EDP-Yogya) Fakultas Kedokteran UGM dan melihat program Keluarga Berencana. Yayasan yang mereka dirikan, Bill & Melinda Gates Foundation, membantu sejumlah program kesehatan di Indonesia, termasuk Jogja. Namun, keindahan Jogjakarta tetap mendapat perhatiannya.

Waktu itu, Melinda memuji keindahan Jogja dan berharap keberhasilan penelitian nyamuk ini. “Sekarang, saya sedang dalam learning trip di Indonesia. Di hari pertama ini cukup luar biasa dengan pemandangan yang menakjubkan, percakapan yang menarik dan penemuan yang membuat saya lebih optimis tentang masa depan Indonesia,” ujarnya.

“Aku sangat bersemangat untuk mengunjungi Laboratorium Eliminate Dengue, di mana peneliti menginfeksi nyamuk dengan bakteri yang luar biasa disebut Wolbachia. Bakteri mencegah virus dengue dari replikasi dalam nyamuk, yang menjamin nyamuk tidak dapat menularkan virus mematikan bagi manusia,” tulisnya di akun medsos.

Semakin jelas kan ada nyamuk baik?

Peneliti yang tergabung di World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta tengah menuntaskan penelitian menanggulangi demam berdarah dengeu (DBD). Caranya dengan menggunakan nyamuk ber-wolbachia, hasilnya efektif mengatasi dengue. 

Wolbachia merupakan bakteri yang hidup secara alami di serangga. Ada sekitar 60-70% serangga memiliki wolbachia, tetapi nyamuk Aedes aegypti tidak. 

Peneliti asal Australia menemukan, wolbachia dapat mengeblok replikasi virus dengue. Artinya, jika nyamuk menghisap darah yang mengandung virus dengue, virus tersebut tidak dapat bereplikasin di dalam tubuh nyamuk. Akibatnya, virus dengue tidak dapat ditularkan ke orang lain. Selain itu, bakteri wolbachia menurun ke nyamuk generasi selanjutnya. 

Dalam satu penjelasannya, Co-principal Investigator World Mosquito program Yogyakarta dr Riris Andono Ahmad MPH, PhD, menyebutkan kalau nyamuk betina ber-wolbachia kawin dengan jantan tidak ber-wolbachia, seluruh telurnya akan ber-wolbachia.

ember-btar.pngEmber yang berisi telur nyamuk yang menjadi anak asuh saya.

Jika nyamuk jantan ber-wolbachia kawin dengan nyamuk betina tanpa wolbachia, telurnya tidak akan menetas. Sedangkan jika kedua jenis kelamin nyamuk ber-wolbachia kawin, keturunannya juga akan ber-wolbachia. 

Penelitian nyamuk ber-wolbachia di Indonesia dimulai sejak 2011. Kemudian pada 2014, dilakukan pelepasan nyamuk pertama masing-masing di dua pedukuhan Sleman dan Bantul. 

Dari pelepasan nyamuk saat itu, yang hanya dilakukan selama enam bulan, sekarang di lokasi pelepasan nyamuk tersebut, mayoritas nyamuknya ber-wolbachia. Persentasenya mencapai 80-90% nyamuk ber-wolbachia. 

Setelah itu, pada 2016 dan 2017, nyamuk berwolbachia juga dirilis di beberapa tempat di Kota Yogyakarta. Hasil pengamatan di seluruh Kota Yogyakarta lewat 500 perangkap nyamuk yang disebar, populasi nyamuk ber-wolbachia sekitar 80%-90%. Penelitian ini masih terus berjalan.

Tahun 2021 ini, di Kabupaten Sleman, dirilis program Si Wolly Nyaman, Wolbachia Nyamuk Aman Cegah DBD di Sleman. Soft launching sudah dilakukan 16 Februari 2021 secara daring. Program ini menyasar 21 Puskesmas, 13 Kapanewon (istilah kecamatan menurut UU Keistimewaan), 39 Kalurahan, dan 558 Padukuhan. Jika dihitung luas kewilayahan mencapai seluas 68 km persegi.

Kami diminta menjadi orang tua asuh (OTA) nyamuk bulan April 2021. Petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman datang ke rumah. Mendata dan menanyakan kesediaan menjadi orang tua asuh.

Orang tua asuh (OTA) merupakan warga terpilih yang dititipi ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia. Penitipan ember ini dimulai pada bulan Mei-Juli. Di tempat kami ember diletakkan Selasa (25/5). Penitipan ember ini akan berlangsung selama enam bulan. Kira-kira bulan Nobember penarikan ember dilakukan. Saat itu, diperkirakan persentase nyamuk ber-Wolbachia lebih dari atau sama dengan 60%.

Tugas kami sebagai orang tua asuh hanya memantau ember tetap aman. Tidak tumpah dan tidak hilang. Ember ini akan diganti oleh kader dan staf WMP Yogyakarta dengan ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia setiap dua minggu. Sampai sekira November nanti.

Telur nyamuk yang dititipkan ini aman dari DBD, Chikungunya dan Zika. Selain itu, nyamuk Wolbachia ini juga telah terbukti aman dengan sejumlah fakta empiris. Staf WMP Yogyakarta yang secara rutin memberikan darah melalui tangan dan kaki secara langsung kepada nyamuk ber-Wolbachia, hingga saat ini tidak mengalami efek samping.

Di brosur program Si Wolly Nyaman juga diperlihatkan foto saat Gubernur DIY Hamengku Buwono X memberi makan nyamuk ber-Wolbachia dengan menyerahkan tangannya untuk digigit. 

Informasi dan pengetahuan saya tentang nyamuk Wolbachia seperti itulah yang membuat saya siap menjadi orangtua asuhnya. Tentu dengan niatan, agar langkah ini bisa bermanfaat. Sehingga umur kami, kehidupan kami makin bernilai. Makin migunani tumraping liyan....(*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda