Hentikan Kebrutalan Atas Nama Agama di Palestina

Anak-anak laki Palestina mengibarkan bendera nasionalnya. (FOTO: (AP Photo/ Hatem Moussa, File - thenation.com)

Hari-hari ini dunia maya dipenuhi dengan berita konflik antara Israel dan Palestina. Bukan hanya di Indonesia. Melainkan di seluruh dunia. Pro kontra. Ada yang mengecam Israel dengan segala kebrutalannya. Namun, ada pula yang membela dengan segala alasannya.

***

COWASJP.COM – Salah satu alasan yang sering mengemuka adalah cita-cita Israel terkait dengan tanah yang dijanjikan. Bahwa, kawasan Palestina adalah tanah air mereka. Seperti yang sering mereka kutip dari kitab sucinya. 

Karena itu, bangsa Yahudi dari berbagai belahan dunia merasa memiliki hak untuk kembali ke Palestina. Dan menempatinya sebagai wilayah negara yang mereka dirikan. Masalahnya adalah, mereka tidak mau ada bangsa lain yang tinggal di kawasan itu. Harus diusir. Dengan segala cara. Termasuk membumi-hanguskan permukiman. Dan, memusnahkan penduduknya

Menariknya, bukan hanya Bani Israel atau bangsa Yahudi yang mengemukakan alasan itu. Melainkan orang-orang yang pro dengan Israel. Termasuk ada sebagian kalangan Islam. Yang juga mengutip ayat dari kitab suci, untuk membenarkan tindakan brutal itu.

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), sehingga kamu menjadi orang-orang yang merugi. [QS. Al Maidah: 21]

Sepintas lalu, ayat di atas seperti memberikan pembenaran kembalinya Bani Israil ke Palestina. Dan menghaki wilayah itu untuk bangsanya. Tetapi, jika kita lihat konteks sejarahnya, pemahaman semacam itu tentu saja tidak benar.

Kawasan Palestina yang berada di pantai Mediterania bagian timur itu, awalnya adalah wilayah yang merdeka. Bisa dihuni oleh siapa saja. Berbagai bangsa. Tanpa ada pemerintahan yang menguasainya. Yakni, sekitar tahun 2500 SM (sebelum masehi). Di zamannya nabi Ibrahim.

Lantas, nabi Ibrahim memiliki keturunan Ishaq dan Ismail. Dari Ishaq lahirlah Ya’kub. Yang memiliki nama alias Israil. Sehingga, keturunan Ya’kub itu disebut sebagai Bani Israil.

Mereka memang tinggal di wilayah Palestina. Tetapi, bukan penguasa di sana. Melainkan tinggal bersama berbagai suku bangsa lainnya. Yang sudah ada sejak zaman nabi Ibrahim. Jadi, wilayah Palestina atau Kan’an itu adalah tanah air bersama dari banyak suku bangsa. Yang sudah lama tinggal di sana.

Apalagi, keluarga Ya’kub itu lantas bermigrasi ke Mesir. Selama beberapa ratus tahun. Di zaman nabi Yusuf – salah satu putra Ya’kub. Di sekitar abad ke 16 SM (sebelum masehi). Sampai di abad ke-13 SM (sebelum masehi). Di zamannya fir’aun Ramses II dan Merneptah. Di mana Bani Israil eksodus besar-besaran. Keluar dari Mesir menuju Palestina.

palestina2.jpgTanah Palestina beribu tahun berpenduduk berbagai bangsa. Wilayah merdeka. Bisa dihuni siapa saja. Tanpa ada pemerintahan yang menguasainya. (FOTO: zeenews.india.com)

Pada waktu itu, wilayah Palestina sudah dihuni oleh berbagai bangsa. Dan dikuasai oleh bangsa Filistin. Sehingga, Bani Israil tidak berani masuk ke wilayah Palestina itu. Sebagaimana digambarkan oleh ayat berikut ini.

Mereka berkata: "Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang kuat perkasa. Sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya". [QS. Al Maidah: 22]

Baru puluhan tahun kemudian, Bani Israil bisa masuk ke Palestina. Yakni, sepeninggal nabi Musa. Digantikan oleh muridnya, Yusak bin Nun. Dan, secara beruntun Bani Israil bisa menguasai wilayah Palestina itu. Di zaman raja Thalut, Daud dan Sulaiman.

Selebihnya, Bani Israil terpecah belah dan lemah kembali. Sehingga menjadi budak, tawanan perang, dan terusir dari wilayah Palestina oleh berbagai bangsa. Di antaranya oleh bangsa Assyria, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, Arabia, Bani Umayyah, Abbasiyah, Fatimiah, Mesir, Turki, dan akhirnya oleh Inggris dan Zionis.

Zionis inilah yang mengaku sebagai keturunan Bani Israil. Yang menuntut hak atas dasar pemahaman kitab sucinya. Sebagai tanah yang dijanjikan itu. Padahal, Zionis ini sesungguhnya bukan murni Bani Israil lagi. Karena, Bani Israil sudah mengalami asimilasi atau percampuran dengan berbagai suku bangsa lainnya. Selama ribuan tahun. Di berbagai wilayah negara tempat hidup mereka. Di luar Palestina.

palestina3.jpgDemonstran Palestina berdebat dengan tentara Israel, memprotes rencana perdamaian Presiden Donald Trump ketika Israel menduduki West Bank, 29 Januari 2020. (FOTO: Raneen Sawafta/REUTERS - pbs.org)

Bahkan seandainya pun Bani Israil yang menuntut hak, sebenarnya mereka bukanlah pemilik hak satu-satunya atas wilayah Palestina. Yang sudah dihuni oleh berbagai bangsa. Dan, berganti-ganti kekuasaan. Yang sudah menempati wilayah itu ratusan atau bahkan ribuan tahun.

Jadi, masalah konflik di Palestina ini sebenarnya bukanlah masalah agama. Melainkan, masalah rebutan kekuasaan politik semata. Cuma, dicarikan alasan pembenarnya. Melalui teks-teks agama. Karena, apa yang dilakukan oleh Zionis itu sesungguhnya tidak mewakili seluruh bangsa Yahudi. Apalagi agama Yahudi.

Mereka adalah sebagian saja dari bangsa Yahudi. Yang radikal. Yang menginginkan wilayah Palestina itu. Dengan menghalalkan segala cara. Yang sesungguhnya ditentang oleh para penganut Agama Yahudi itu sendiri. Yang menjalankan agamanya dengan lurus.

Maka, bagi umat Islam pun, sesungguhnya konflik antara Israel dan Palestina itu bukanlah masalah agama. Melainkan masalah politik dan rebutan kekuasaan. Yang harus disikapi secara proporsional. Dengan mengedepankan lobi-lobi politik. Dan etika kemanusiaan yang beradab.

Tekanan negara-negara yang memiliki kekuatan politik, dan kebersamaan warga dunia yang beradablah yang akan bisa menundukkan kebrutalan yang sedang dipertontonkan di kawasan sengketa itu. Semoga Allah membukakan jalan kebaikan bagi saudara-saudara kita yang tertindas di sana. Aamiin ya mujibassailin .. 

"Telah diizinkan (melawan) bagi orang-orang yang diperangi. Karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. Orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar. Kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (ajaran)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." [QS. Al Hajj: 39-40]

Allahu a'lam bissawab ..(*) 

[Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 21 Mei 2021]

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda