Rakyat dan Pemerintah RI Tetap Bela Palestina

Warga Palestina membakar bendera Israel dan Amerika Serikat dalam sebuah demonstrasi terhadap niat Amerika Serikat memindahkan kedubes mereka ke Yerusalem dan mengenali Yerusalem sebagai ibukota Israel, di Kota Gaza, Rabu (6/12/2017).(ANTARA FOTO/ REUTERS

Eskalasi konflik antara Palestina dengan Israel kembali memanas. Sejak akhir Ramadhan pekan lalu hingga hari ini, roket dan artileri Israel menggempur sejumlah wilayah di Jalur Gaza. Ratusan rakyat sipil Palestina yang tak berdosa, termasuk wanita dan anak-anak, tewas akibat agresi militer paling parah sejak tiga dekade terakhir. Bagaimana sikap kita?

***

COWASJP.COM – Presiden Joko Widodo secara tegas mengutuk serangan militer Israel yang mengakibatkan ratusan korban tewas dan ribuan lainnya terluka. Sebagian besar korban tersebut tentu saja rakyat Palestina.  Kecaman terhadap Israel ini tidak dilakukan Indonesia sendiri.

Bersama pemerintah Malaysia dan Brunei Darussalam, Indonesia mengutuk keras Israel dan meminta Dewan Keamanan PBB segera mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk menghentikan jatuhnya lebih banyak korban rakyat Palestina. 

Sejak zaman Presiden Soekarno, sikap pemerintah Indonesia tegas: menolak segala bentuk penjajahan di atas dunia. Sejak awal, Indonesia tidak pernah mengakui Israel dan terus mendukung agar juga berdiri negara Palestina yang berdaulat penuh dan merdeka. Sayang, hingga hari ini, tidak ada negara Palestina  merdeka. Yang ada wilayah Palestina yang diduduki oleh Israel semakin luas dan rakyat Palestina termarginalisasi di tanah mereka sendiri.

Presiden Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi mempertahankan sikap politik luar negeri tersebut. Indonesia tetap bersama rakyat Palestina. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat di Indonesia juga mengalir deras untuk rakyat Palestina.

PERANG OPINI 

Dalam artikel ini, saya tidak akan membahas sejarah dan perkembangan konflik Israel-Palestina hingga hari ini. Karena sudah sering saya tulis. Tetapi saya melihat ada tren perang dan pergeseran opini dalam narasi terkait konflik Israel-Palestina kali ini. Dan opini tersebut cenderung menguat. Yaitu bahwa Israel hanya menyerang Hamas di Jalur Gaza. Karena Hamas dituding sebagai organisasi teroris dan menyerang  Israel terlebih dahulu. Benarkah faktanya demikian?

Jika Israel berdalih hanya bermusuhan dengan Hamas dan mengejar pemimpin Hamas, seharusnya warga Palestina di Tepi Barat dan di Jerusalem Timur sudah merasakan kedamaian, keadilan sosial, dan kehidupan yang layak seperti halnya warga Yahudi.

palestina1.jpgPemerintah Israel terus melakukan pembongkaran ilegal terhadap rumah-rumah warga Palestina. Langkah tersebut dilakukan demi membangun lebih banyak permukiman ilegal untuk penduduk Israel di atas tanah-tanah milik warga Palestina.  Ilustrasi warga Palestina yang mengungsi. FOTO: PIXABAY/Hosny Salah - pikiran-rakyat.com)

Namun sejak  Israel didirikan di tanah Palestina oleh kaum zionis pada 1948, yang ada kehidupan rakyat Palestina semakin menderita. Penderitaan pertama adalah terusirnya satu juta warga Palestina dari rumah dan tanah mereka. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Nakba.

Israel sukses mencaplok Al Quds (Jerusalem) setelah koalisi negara-negara Arab kalah dalam Perang Enam Hari pada 1967. Israel juga berhasil

merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah dan Terusan Suez serta Gurun Sinai dari Mesir. Namun Mesir sukses merebut kembali Terusan Suez setelah koalisi negara-negara Arab sukses menang dalam Perang Yom Kippur tahun 1973. 

Saat ini, rakyat Palestina hidup dalam tiga wilayah pendudukan Israel. Pertama, rakyat Palestina di Jerusalem Timur. Mereka tidak saja terdiskriminasi secara sosial tetapi juga secara ekonomi, bahkan  terdiskriminasi secara administratif.  Mereka stateless dan hanya memiliki ID sebagai warga Jerusalem Timur. Bukan warga negara Palestina juga bukan Israel. Akses mereka dibatasi untuk keluar dari Jerusalem. Tentu saja warga Palestina ini tidak bisa bekerja di sektor formal. Untuk bisa shalat di Masjidil Aqsa, rakyat Palestina di Jerusalem harus lolos dari pemeriksaan tentara Israel.

Kedua, rakyat Palestina yang tinggal di Tepi Barat seperti di Betlehem, Ramallah, Nablus, Hebron, dan Jericho. Apakah mereka tidak terdiskriminasi oleh Israel? Meskipun ada pemerintahan yang mengelola wilayah Tepi Barat yaitu kelompok politik Fatah, namun Israel juga melakukan blokade dan isolasi terhadap wilayah Tepi Barat. Tembok-tembok beton dan kawat berduri dibangun Israel untuk menutup akses warga Tepi Barat ke Jerusalem. Masyarakat Palestina Tepi Barat hidup miskin dan mereka juga tidak memiliki instrastruktur seperti bandara. Dalam bersikap terhadap Israel, Fatah lebih lunak dibandingkan Hamas.

Ketiga, warga Palestina yang tinggal di Jalur Gaza. Pemerintahan di Gaza dipegang oleh Hamas. Saat ini, Hamas diblokade total oleh Israel termasuk akses pelabuhan mereka. Tentu saja, tidak mudah hidup di wilayah yang diblokade total seperti di Gaza. Namun, dengan dalih menyerang Hamas, Israel tidak segan-segan menghancurkan rumah-rumah warga sipil di Gaza.  

Menyikapi tren pergeseran opini di kalangan publik Indonesia, perlu disadari bahwa dukungan kepada Palestina adalah rasa solidaritas sebagai bangsa yang pernah dijajah. Dan, sikap

pemerintah Indonesia tidak membuka

hubungan diplomatik dengan Israel

bukan karena mereka adalah bangsa Yahudi, tetapi karena Israel adalah penjajah dan perebut tanah Palestina.(*)

Penulis adalah Redaktur Tamu Harian Disway dan Penulis buku “Pena di Atas Langit”. Pernah melakukan tugas jurnalistik di wilayah konflik Israel-Palestina.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda