Tumpes Kelor Yahudi

Samuel Phillips Huntington (1927-2008) penulis buku: The Clash of Civilization, dianggap kontroversial. Melahirkan banyak perdebatan. Para pelaku teror semuanya mendapatkan pendidikan modern di Eropa dan Amerika. (FOTO: wikipedia.org)

COWASJP.COM – Tumpes kelor adalah istilah Jawa untuk menyebut sebuah tindakan untuk menghancurkan musuh sampai habis. Tumpes dalam bahasa Jawa berarti tumpas. Kelor adalah sejenis tanaman yang daunnya biasa dipakai untuk sayur bening. Belum diketahui alasan etimologis mengapa kelor dihubungkan dengan tumpes untuk menyebut tindakan pembersihan terhadap lawan.

Perang yang dilakukan Yahudi Israel terhadap bangsa Palestina sekarang ini adalah perang tumpes kelor atau dalam bahasa sekarang disebut sebagai ethnic cleansing, pembersihan etnik.

Pembersihan etnik dilakukan karena keyakinan chauvinistik terhadap keunggulan superioritas ras dan menganggap ras lain inferior dan harus dihabisi. Hitler dan rezim Nazi Jerman melakukan pembersihan etnis terhadap bangsa Yahudi. Tujuannya adalah melakukan tumpes kelor terhadap ras yang oleh Hitler dianggap hina.

Pemimpin Serbia Slobodan Milosevic melakukan ethnic cleansing terhadap etnis muslim Bosnia dalam perang Balkan 1992-1995.
Pada April 1992, pemerintah Bosnia mendeklarasikan kemerdekaannya dari Yugoslavia yang mayoritasnya  adalah etnis Serbia. Deklarasi ini dianggap sebagai pemberontakan dan
pasukan etnik Serbia menyerang  Bosnia dengan mambabi buta mengakibatkan kematian 100 ribu etnis Bosnia. Tindakan ini dianggap genosida yang  terburuk sejak kehancuran rezim Nazi yang membunuh sekitar enam juta  orang Yahudi Eropa selama Perang Dunia II.

Apa yang dilakukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sekarang ini tidak ada bedanya dengan Milosevic maupun Hitler. Netanyahu ingin membersihkan wilayah Israel dari bangsa Palestina dan mengangkangi Israel untuk bangsa Yahudi.

Konflik Yugoslavia adalah konflik Kristen ortodoks melawan Islam, dan konflik Israel sekarang ini adalah benturan Islam melawan Yahudi yang didukung oleh Barat yang Kristen. Ramalan Samuel Huntington mengenai benturan peradaban sekarang menemui kebenarannya. Meskipun banyak orang tidak sependapat, tetapi perang Israel vs Palestina, tidak dapat disangkal, adalah perang peradaban Islam vs Barat.

Yahudi, Nasrani, dan Islam disebut sebagai agama-agama samawi, atau agama yang turun dari langit. Disebut juga agama Ibrahimi, agama yang lahir dari ajaran Nabi Ibrahim yang megajarkan tauhid atau monoteisme.

Ibrahim mempunyai dua anak, Ismail dan Ishak, yang menjadi leluhur para nabi yang membawa ajaran Yahudi, Nasrani, dan Islam. Ismail bersama ibunya Siti Hajar diungsikan oleh Ibrahim ke Makkah sewaktu masih bayi, melahirkan bangsa-bangsa Arab, termasuk Muhammad yang kemudian membawa ajaran Islam. Ishak melahirkan Yakub yang kemudian menurunkan nabi-nabi bangsa Yahudi termasuk Musa dan Isa.

Ketiga agama itu lahir dari satu leluhur yang sama dengan ajaran yang sama-sama mengesakan Tuhan. Tetapi sampai sekarang konflik-konflik besar berlatar belakang agama yang terjadi dunia ini terjadi di antara ketiga agama serumpun itu.

Guru politik dari Amerika Serikat, Samuel Huntington, menyebut bahwa konflik dan peperangan di dunia ini bersumber pada benturan peradaban antara empat peradaban besar dunia. Dalam ‘’The Clash of Civilization: The Remaking of World Order’’ (1997) Huntington berpendapat bahwa setelah komunisme runtuh pada 1990 dengan ambruknya Uni Soviet dan negara-negara komunis di Eropa Timur, Amerika Serikat akan menjadi negara adidaya tunggal dunia. Perang dingin yang berlangsung hampir setengah abad berakhir dengan hilangnya rezim komunis. Tapi, itu tidak berarti dunia akan aman tanpa perang, karena menurut Huntington masih akan muncul perang-perang baru dengan wujud yang beda.

Kalau pada masa Perang Dingin sumber konflik adalah masalah politik, maka pasca-Perang Dingin sumber peperangan adalah peradaban. Karena itu Huntington menyebutnya sebagai The Clash of Civilization, benturan peradaban, yang menjadi sumber peperangan di dunia. Peradaban Barat yang diwakili oleh Amerika dan Eropa yang Kristen akan menghadapi tantangan dari peradaban Timur Tengah yang Islam. Selain itu ada juga potensi benturan dari peradaban Timur yang konfusian yang diwakili China, Jepang, dan Korea, dan ada juga peradaban Eropa Timur yang diwakili oleh Rusia dan negara-negara bekas komunis di Eropa Timur yang beragama Kristen Ortodoks.

Di antara peradaban itu yang paling potensial menjadi sumber benturan yang membawa perang adalah benturan antara Islam dan Barat. Serangan terhadap Menara Kembar WTC pada 11 Septeber 2001 dianggap sebagai salah satu bukti perang peradaban itu. Serangan ini kemudian melahirkan kebijakan perang melawan teror yang diumumkan Presiden George Bush yang kemudian melahirkan perang di Iraq dan Afghanistan.

Tesis Huntington ini kontroversial dan banyak melahirkan perdebatan. Pemerintah Amerika Serikat sendiri tidak sepenuhnya percaya dan mengadopsi pandangan Huntington ini. Penyerangan 11 September memang dilakukan oleh pelaku teror dari Arab Saudi yang muslim. Tetapi, para pelaku teror itu semuaya mendapatkan pendidikan modern di Eropa dan Amerika. Arab Saudi sendiri meskipun negara Islam tetapi mempunyai hubungan yang sangat mesra dengan Amerika Serikat. Bahkan Arab Saudi adalah mitra koalisi Amerika yang paling setia di Timur Tengah. Dari kenyataan ini tesis Huntington terbantahkan.

Perkembangan yang terjadi di Timur Tengah sekarang dengan munculnya perang terbuka antara Israel melawan Palestina apakah bisa disebut sebagai perang peradaban? Pendukung Huntington menjawab iya, karena perang Israel-Palestina itu jelas merupakan perang dua peradaban Barat melawan Timur sebagaimana tesis Huntington.

Tentu ada banyak alasan politik dan geopolitik strategis yang bisa diajukan untuk membantah tesis Huntington. Tapi dalam kenyataannya sekarang perang ini adalah perang peradaban, benturan peradaban Barat vs Islam.

Penulis Amerika keturunan Iran, Reza Aslan, tidak sependapat. Menurut Aslan, perang di Palestina sekarang ini adalah wujud dari perang lama antar penganut ajaran monoteisme. Alih-alih menyebut the clash of civilization, Reza Aslan lebih suka menyebutnya “the clash of monoteism”, perang antar-sesama iman.

HOUSTON.jpgBuku tulisan Samuel P. Huntington. (FOTO: amazon.in)

Dalam ‘’There is No God but God: The Origins and Evolution in Islam’’ (2013) Aslan merunut perkembangan Islam sejak masa Nabi Muhammad sampai sepeninggalannya. Ajaran Islam mengenai kenegaraan dan hak-hak wanita diletakkan dengan kokoh oleh Muhammad. Dan Ketika Muhammad meninggal ia menyerahkan kepada umatnya untuk memilih sendiri pemimpinnya. Maka dipilihlah Abu Bakar menjadi khalifah yang kemudian dilanjut sampai tiga khalifah berikut Umar, Utsman, dan Ali yang disebut sebagai Khalifah yang memperoleh bimbingan dari Allah, Khulafa al Rasyidun.

Sejak zaman Muhammad berhijrah ke Madinah pada 622 Masehi dia sudah menghadapi perlawanan tersembunyi dan terbuka dari kaum Yahudi Madinah. Berbagai intrik politik yang penuh tipu daya dilakukan oleh kaum Yahudi yang tidak menyukai kekuasaan politik Muhammad yang makin besar di Madinah pasca Perang Badar 623 Masehi.

Semula Muhammad mencoba melakukan pendekatan persuasif. Tetapi kaum Yahudi yang dipelopori oleh Bani Quraizah yang dominan melakukan beberapa pengkhianatan strategis dengan menyeberang kepada pihak musuh, sehingga membahayakan kedudukan dan keselamatan kaum muslimin di Madinah. Setelah dilakukan pengepungan selama beberapa hari Bani Quraizah menyerah. Rasulullah kemudian menyerahkan pengadilan Bani Quraizah kepada seorang ahli yang kemudian memutuskan untuk mengeksekusi seluruh kaum laki-laki Bani Quraizah.

Sebanyak 700 laki-laki Bani Quraizah dieksekusi di tempat terbuka di Madinah. Episode ini dikecam keras oleh kalangan Barat yang menganggap Muhammad melakukan kekejaman terhadap Bani Quraizah yang sudah menyerah. Tuduhan ini mendiskreditkan Muhammad karena para ahli Barat tidak mengungkap secara jujur interaksi politik kaum Yahudi Madinah dengan kaum muslimin dan pengkhianatan yang dilakukan Yahudi yang mengingkari kesepakatan yang sudah disetujui.

BAN.jpgDerita rakyat Palestina ditumpes kelor Israel. Makin banyak korban tewas di pihak rakyat Palestina. (FOTO: TheJournal.ie)

Insiden Madinah ini menjadi salah satu dendam politik paling besar dalam sejarah hubungan Islam dengan Yahudi. Sampai sekarang sejarawan Yahudi Barat tetap memendam dendam kepada Islam akibat insiden ini.

Dua agama yang berasal dari nenek moyang yang sama, seharusnya bisa bersatu. Tetapi sifat bangsa Yahudi yang khianat menyebabkan benturan antar-agama monoteis itu berlanjut seolah tanpa kesudahan.

Perang Ahzab, atau biasa disebut dengan Perang Khandaq pada tahun kedua hijrah, merupakan satu periode terberat dalam sejarah perkembangan Islam di masa Rasulullah.

GAZA.jpgGaza membara digempur Israel. (FOTO: arabnews.com)

Saat itu, kekuatan kafir dan munafik bersatu-padu untuk menghancurkan kaum muslimin di Madinah. Yang paling berbahaya dari peristiwa itu adalah pengkhianatan oleh Yahudi Bani Quraizah. Jika Muhammad gagal mengatasi manuver politik dan militer Bani Quraizah maka eksistensi Islam bisa hilang.

Bani Quraizah bersama Bani Nadhir dan kelompok Yahudi Madinah yang lebih kecil sudah terikat perjanjian damai dengan Rasulullah melalui Piagam Madinah, tapi karena benci dan khianat, mereka mengingkari kesepakatan itu.

Karena pengkhianatan itu, pasukan Islam mengepung permukiman Bani Quraizah untuk menjatuhkan sanksi terhadap pelanggarannya. Setelah under siege beberapa hari Bani Quraizah menyerah, dan Rasulullah melakukan peradilan militer terhadap mereka.

KOBONGAN.jpg

Dua pihak setuju untuk menyerahkan peradilan ini kepada Sa’ad bin Mu’adz yang dianggap netral karena mengenal kedua belah pihak dengan baik. Mu’adz pun mengambil keputusan tegas sesuai pasal Piagam Madinah dengan menjatuhkan hukuman mati bagi semua laki-laki dewasa dan menawan perempuan dan anak-anak.

Yang masih menjadi kontroversi sampai sekarang adalah berapa jumlah Yahudi yang dieksekusi ketika itu. Ada yang menyebut 700 orang dan ada yang menyebut 900 orang. Jumlah yang besar untuk ukuran zaman itu. Rasulullah pun dituduh melakukan tumpes kelor terhadap Yahudi Madinah.

Terlepas dari kontroversi jumlah yang besar, sejarah telah mencatat bahwa bangsa Yahudi telah melakukan pengkhianatan terhadap Piagam Madinah. Keputusan Muhammad yang tegas terhadap pengkhianatan itu diakui oleh Montgomery Watt sebagai keputusan yang tepat yang membuktikan kualitas kenegarawanan Muhammad.

Dalam buku master piece “Muhammad: Prophet and Stateman” (1961) Watt menyimpulkan bahwa operasi tumpes kelor itu adalah langkah kenegarawanan Muhammad yang terbukti strategis. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda