Merdeka ... atau Mabuk ....

Maksum (kanan, penulis) dan Pak Machfud Arifin ketika menjadi Kapolda Jatim. (FOTO: Dok. Maksum)

'’Aku suka pada mereka yang berani hidup,’’ begitu salah satu bait puisi Chairil Anwar yang ditulis pada 1940-an. Puisi ini ditulis membayangkan sebuah negeri yang mekar. Negeri yang bebas. Indonesia yang merdeka.

***

COWASJP.COM – Saat itu jauh sebelum 10 November 1945. Sebelum Bung Tomo memimpin pertempuran arek-arek Suroboyo buat mempertahankan kemerdekaan. Ketika Bung Tomo belum memekikkan: ‘’merdeka ataoe mati.’’

Mana yang lebih bermanfaat untuk sebuah kemerdekaan. Berani hidup seperti dalam puisi Chairil Anwar? Atau berani mati membela tanah air sebagaimana Bung Tomo membakar semangat pertempuran Surabaya?

Kita tak hendak menghakimi pikiran Chairil Anwar. Tidak juga untuk Bung Tomo. Pikiran mendiang dua anak bangsa itu tetap memiliki khasanah dalam semangat zaman masing-masing. Chairil Anwar sebelum kemerdekaan. Bung Tomo sesudah kemerdekaan. 

Persoalan yang kita hadapi saat ini ialah ketika sudah hampir 76 tahun merdeka semakin tahu betapa sulit kemerdekaan itu. Semua ingin dicatat. Semua ingin mendapat tempat. Berharap menjadi lebih baik. 

Tetapi yang memperoleh ‘’lebih baik’’ itu tidak semua. Bahkan lebih sedikit daripada yang tak mendapatkan ‘’yang lebih baik itu.’’ Ada yang ‘’memperolehnya’’. Lalu berkata: ‘’inilah jerih payah pembangunan.’’ Ada pula yang kecele. Lalu mengumpat: ‘’kami korban pembangunan.’’

maksum1.jpgDari kiri: K Ng Agus Sunyoto, Wapres Umar Wirahadikusuma, Maksum (penulis) dan Zainudin Iskan dalam rangka menulis buku Lubang Lubang Pembantaian PKI 48 di Madiun. (FOTO: istimewa)

Perebutan untuk mendapatkan tempat lebih baik di lapis atas pun tak terhindarkan. Kemerdekaan memang memberi kesempatan untuk itu. Lagian siapa yang mau berada di lapisan bawah dalam sebuah negeri yang sudah merdeka. Kemerdekaan adalah pintu gerbang semua orang untuk mendapatkan haknya –apa pun– yang lebih baik. Hanya orang tak normal saja mau sumpek di lapisan bawah. Ditekan atau bahkan direpresi oleh yang di lapisan atas.

       *

Menjadi lebih baik. Lebih bermartabat, atau kasta naik ke atas adalah hak orang-orang merdeka. ‘’Tetapi, di sana ada keresahan dan kecemasan, ‘’ kata psikolog Erich Fromm. Keresahan itulah yang menjelma jadi pikiran-pikiran nakal. Mengubah yang mustahil menjadi common sense. ‘’Dari itu, muncul etos kerja,’’ kata Max Weber. Naluri untuk prestasi. 

Ironisnya, tidak semua orang, tidak semua bangsa punya etos kerja. Sebagian saja yang punya naluri berprestasi. Bangsa Eropa. Atau kini AS, Jepang, dan bangsa ras kuning di Asia.

 Raymond Aron mencatat, merdeka saja tak cukup. Olehnya justru manusia jadi lepas bebas. Lalu tak berbuat apa-apa. Kalau kemederkaan harus dipahami sebagai keterlepasan dari belenggu, kekangan dan tekanan, dari penguasa, dari atasan, dari penjahat, dari penjajah, atau siapa pun yang memenjara kebebasan setelahnya orang bisa santai. Tak berbuat apa-apa untuk diri, keluarga, negara, dan bangsanya.   

maksum2.jpgDari kiri, moderator Fathorrahman, pembahas Moh. Subhan, Ketua Harian KONI Jatim M. Nabil, tiga peserta, penulis 1 Maksum, GM JPRM M. Tojjib, dan penulis 2 Fuad Ariyanto berfoto bersama usai bedah buku Potret sang Jagoan kemarin. (FOTO: A.YUSRON FARISANDY/RadarMadura.id)

Etzioni menganjurkan agar etos kerja dan naluri berprestasi itu dapat dihadirkan dalam sebuah bangsa perlu melahirkan banyak orang yang ‘’mabuk.’’ Sosiolog berdarah India mengartikan mabuk sebagai antusiasme manusia untuk memiliki pikiran gila. Dia sangat yakin ‘’mabuk’’ akan dapat memunculkan jurus balas dendam buat melahirkan karya-karya besar.

Etzioni mungkin terlalu kagum pada orang yang punya pikiran gila. Terlalu berempati pada bangsa yang gila kerja.

Tetapi, ada benarnya juga bahwa hak untuk meraih yang lebih baik. Meraih tempat lapisan atas dalam pergaulan antar bangsa, antar negara, atau dalam pergaulan internasional tak cukup lepas dari penjajahan. Sesudah butuh orang-orang berpikiran besar. Manusia-manusia gila kerja. 

Bukan hanya merdeka ..ataoe mati. Barangkali pula selain merdeka...perlu ‘’mabuk’’...(*)

Oleh: Maksum, Wartawan Senior di Surabaya. 

Pewarta : Maksum
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda