Mengenang Pengajian K Ng Agus Sunyoto (8)

Ketika Gus Dur Diangkat Jadi Pangti Banser

COWASJP.COM – Meski penampilannya kalem, cenderung pendiam, kadang Mas Agus bisa menjadi manusia usil. Tapi, keusilannya tersebut tetap berkelas. Juga guyon parikena (canda bermakna). Kelihatannya guyon, eh ternyata terjadi betulan. 
     
Inilah yang terjadi ketika Mas Agus menggagas mengangkat Gus Dur, KH. Abdurrahman Wahid menjadi Pangti (Panglima Tinggi) Banser. Pada tahun 1998, sahabat-sahabat Ansor Kabupaten Kediri kami kumpulkan di Masjid Cendono, Kecamatan Kandat. Kala itu sekitar 200 orang kader Ansor dan Banser mengikuti acara ini.

BACA JUGA: Menelusuri Jejak Siapa Pak Harto​
     
Secara bergurau, Mas Agus mengatakan, “Yang asli Cendono, ya Desa Cendono ini. Kalau rumahnya Pak Harto di Jalan Cendana, Jakarta itu baru”.
     
Inilah yang saya sebut usil berkelas. Sebagai aktivis yang menguasai geopolitik dan mengerti budaya, guyonan di atas bisa menjadi sentilan-sentilan untuk Pak Harto yang waktu itu sebagai penguasa Orde Baru.
     
Hadir dalam acara ini KH. Mas Yusuf Muhajir, pengasuh Pondok Pesantrean Sidoresmo Surabaya, Prof. DR. KH. Diya’uddin Kuswandi dari Surabaya, dan Sahabat KH. Syaifuddin Zuhri, matan ketua GP. Ansor Kabupaten Kediri. Tentu saja Mbah Kyai Shodiq, sesepuh Masjid Cendono juga menunggui. 
     
Acara dimulai tengah malam. Diawali bacaan tahlil mendoakan arwah Pak Harto. 
Saya tanya Mas Agus dengan berbisik, “Lho Mas, bukankah Pak Harto masih hidup. Kok ditahlili ?” 
Dia menjawab dengan senyum khasnya. “Yo ngene iki carane ngadepi (Ya begini ini cara menghadapi) Pak Harto. Tidak boleh secara frontal”. 
     
Menurut Mas Agus, Pak Harto memiliki ilmu kanuragan tinggi. Dia memiliki banyak guru spiritual, dan melakukan berbagai ritual rahasia. Bahkan konon Pak Harto memiliki ajian Canda Bhirawa.
     
Menghadapi jenis manusia seperti ini, tidak bisa dihadapi juga dengan ilmu kanuragan secara frontal. Dia akan lebih kuat. Dalam menghadapi Pak Harto, kata Mas Agus, caranya seperti meghadapi Prabu Salya dalam cerita pewayangan Perang Baratayuda.

soeharto.jpg Menghadapi Pak Harto jangan frontal. Beliau sangat kuat. Harus seperti ketika Puntadewa menghadapi Prabu Salya. (FOTO: republika.co.id)   

Prabu Salya adalah panglima perang Negara Astina. Dia memiliki ajian Canda Bhirawa. Jika mantra ajian ini dibaca, akan berwujud seorang raksasa kecil. Hebatnya, jika raksasa kecil ini terkena senjata tajam, dan meneteskan darah, tetesan darahnya itu akan menjelma menjadi raksasa serupa. Kalau menetes lagi, akan menjelma jadi raksasa lagi.
     
Karena itu, ketika Prabu Salyo dihadapi Werkudara dan Arjuna, kedua senapati Negara Amarta ini kalah dan lari dari gelanggang Payudan Kurusetra. Keduanya dikeroyok ribuan raksasa kecil, jelmaan dari ajian Canda Bhirawa milik Prabu Salya.
      
Tapi, ketika dihadapi Prabu Puntadewa, Prabu Salya kalah dan binasa. Karena Puntadewa adalah ksatria yang memiliki hati suci, darahnya putih, ihlas, dan memiliki kepasrahan total kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Ajian Canda Bhirawa menjadi hilang kekuatannya, dan justru akhirnya meninggalkan Prabu Salya, kemudian ngenger (ikut) kepada Prabu Puntadewa.
    
Seperti itulah seharusnya menghadapi kekuatan Pak Harto, yang memiliki ambisi besar terhadap kekuasaan disertai memiliki ilmu kanuragan tinggi. 
“Nyatanya waktu reformasi, kekuatan Pak Harto lumpuh sampai lengser, ketika menghadapi gelombang tekanan mahasiswa yang berjuang ihlas, tanpa pamrih, “ kata Mas Agus ketika Pak Harto sudah lengser.
     
Kembali pada acara pengangkatan Gus Dur menjadi Pangti Banser di Masjid Cendono. Dalam menghadapi Pak Harto, kata Mas Agus, justru dengan cara didoakan yang “baik”, dalam hal ini doa tahlil.  
    
Usai tahlil, diteruskan ceramah pemantapan diawali dari Mas Agus Sunyoto. Dikatakan, dalam situasi yang serba tidak menentu seperti kala itu, diperlukan pimpinan NU yang kuat dan ditaati secara total tanpa reserve oleh Ansor dan Banser sebagai benteng ulama dan dan benteng Bangsa.
     
“Kita perlu mengangkat KH. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, sebagai Panglima Tinggi Banser. Pangti Banser”, yang disambut serentak, “Siap !” para hadirin.
     
Sambutan kemudian diberikan oleh Kyai Diya’uddin Kuswandi, dan Kyai Mas Yusuf Muhajir. Terakhir Kyai Syaiduddin Zuhri. Di akhir ceramahnya, Kyai Syaifuddin Zuhri memberi ijazah membaca Surat Alam Nasrah 3 X. Ketika membaca bagian tarmihim diulang 3 kali. Suasana benar-benar sakral dan hikmad.
     
Sebelum baiat dimulai dikibarkan Bendera Kanjeng Kyai Tunggul Wulung. Bendera warna hitam ini terbuat dari kain beludru, di tengahnya bertuliskan dua kalimah Syahadad.  Kyai Mas Yusuf Muhajir, kemudian memandu Ansor dan Banser yang ikut hadir dalam acara tersebut, untuk berbaiat, mengangkat Gus Dur sebagai Pangti Banser, dan taat secara sami’na wa athakna kepadanya.

gusdur1.jpg Gus Dur - KH Abdurrahman Wahid. (FOTO: nu.or.id - liputan6.com)   

 Sengaja dipilih bendera Tunggul Wulung sebagai lambang gerakan ini, meniru pusaka ampuh milik Kesultanan Yogyakarta. Pusaka Tunggul Wulung milik Kesultanan Yogyakarta tersebut, dibuat dari kiswah, potongan kain penutup Ka’bah. Di tengahnya ada beberapa tulisan kaligrafi dalam bentuk rajah.
    
Bendera Pusaka Kanjeng Kyai Tunggul Wulung dikeluarkan jika terjadi wabah pagebluk atau bencana alam. Ketika Yogyakarta terkena wabah penyakit pes awal kemerdekaan, bendera pusaka Kanjeng Kyai Tunggul Wulung dikeluarkan untuk diarak keililing Yogyakarta.
     
Selesai baitan pengangkatan Gus Dur, berita ini dimuat di Jawa Pos. Besoknya, berita pengangkatan Gus Dur, kami tulis di Jawa Pos halaman daerah. Besoknya ketika Mas Agus pulang ke rumah ibunya di Surabaya, bertemu salah seorang saudaranya yang menjadi intel Kodam V/Brawijaya.

MAKSUM.jpg Dari kiri: K Ng Agus Sunyoto, Wapres Umar Wirahadikusuma, Maksum (Jawa Pos), Zainuddin Iskan (Jawa Pos). (FOTO: istimewa)   

“Enek opo (ada apa) Gus. Beritamu gawe (bikin) geger,”kata saudaranya itu.

Dengan santai dan sambil bergurau, Mas Agus menjawab, tidak ada apa-apa. “Biasa ae (saja), Ansor dan Banser mengangkat Gus Dur sebagai Pangti, hal yang biasa. Kan Gus Dur ketua umum PBNU. Otomatis harus didengarkan dawuhnya, dita’ati perintahnya, “tambah Mas Agus.
     
Beberapa minggu kemuian, NU Jawa Timur menggelar Istighatsah Akbar, di Makodam Brawijaya, Surabaya. Juta’an warga NU Jawa Timur tumpek blek di tempat istighatsah akbar. Sehingga menimbulkan kemacetan di banyak tempat. 
     
Banser dan Ansor Kabupaten Kediri juga mengirimkan ribuan Banser untuk ikut istighatsah akbar ini. Bahkan, di arena istighatsah akbar ini, bendera Tunggul Wulung kembali dikibarkan dengan megahnya.
     
Konon setelah peristiwa itu, Mas Agus menjadi incaran pusat kekuasaan Orde Baru. Dan, dari sinilah membawa Mas Agus kenal dan dekat dengan KH. Hasyim Wahid, Gus Iim, adik bungsu Gus Dur. 
“Eh ternyata setelah jadi presiden, Gus Dur benar-benar menjadi Panglima Tinggi TNI. Dulu kita angkat menjadi Pangti Banser, menjadi kenyataan, menjadi Pangti TNI, “ kata Mas Agus tersenyum. (Bersambung)

 

 

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda