Catatan tentang Konflik Palestina - Israel (1)

Membela Palestina, Membela Hati Nurani dan Kemanusiaan

Gaza kembali berkobar.(Ilustrasi Foto: Grid Hot

Memahami konflik Palestina-Israel tak cukup dengan melihat dalam satu dimensi: misalnya agama atau politik an sich. Tetapi juga harus melihat latar belakang sejarah, kebudayaan, peradaban, perubahan geopolitik di Timur Tengah, hingga tentang keyakinan atas Tanah Yang Dijanjikan, tanah Palestina, yang menjadi “kiblat” tiga agama samawi: Yahudi, Nasrani, dan Islam.

***

COWASJP.COM – Ingatan tentang Jerusalem (Al Quds) tetap lekat di benak saya, meski kunjungan pertama dan satu-satunya ke kota tersebut, sudah 14 tahun lalu. Tahun 2007 saya berkesempatan melihat secara langsung, memotret, meliput, dan memberitakan apa yang sesungguhnya terjadi di Tanah Palestina. Al Quds sendiri, dalam situasi damai adalah kota yang indah.

Hari Jumat, dipenuhi jamaah yang menjalankan shalat Jumat di kompleks Masjid Al Aqsa. Hari Sabtu, umat Yahudi beribadat di Tembok Ratapan, dan hari Minggu umat Nasrani beribadat di Gereja Makam Kudus. Suara adzan, ratapan para peziarah Yahudi, dan suara lonceng gereja yang bersahutan seharusnya menjadi lukisan yang indah tentang harmoni ketiga agama samawi.

Namun, kehidupan nyata tidak seindah itu. Jerusalem adalah kota yang terbelah. Palestina adalah negara yang tidak pernah ada. Jerusalem yang sebelum usainya Perang Dunia adalah tanah bagi hidup masyarakat Palestina dan Yahudi secara bersama-sama, sontak tersegregasi sejak tahun 1948. Tahun di mana seorang tokoh politik Zionis, David Ben Gurion, secara sepihak mendeklarasikan berdirinya negara Israel. Mendirikan sebuah negara bagi warga Yahudi di wilayah Palestina yang setelah Perang Dunia I berada di bawah British Mandate, dan sebelum Perang Dunia I berada di bawah kekuasaan Kesultanan Ustmaniyah. 

YASEER.jpg

Tahun ini, negara Israel sudah berdiri sepihak selama 73 tahun. Bukannya melemah, Israel semakin kuat mencengkeram wilayah Palestina. Tragedi Nakbha, peristiwa terusirnya 1 juta rakyat Palestina saat pecah Perang Arab-Israel pertama tahun 1948, bukanlah akhir dari penindasan Israel kepada warga Palestina. Tetapi awal dari penindasan-penindasan selanjutnya, hingga hari ini.

Pada penghujung Ramadhan lalu, kembali pecah perang tidak seimbang antara tentara Israel bersenjata lengkap dengan rakyat Palestina yang ingin menunaikan shalat Tarawih di Masjidil Aqsa, kiblat pertama umat Islam. 

Kembali ke Jerusalem. Setelah kekalahan koalisi Suriah, Mesir, Jordania, dan Iraq dalam Perang Enam Hari tahun 1967, wilayah Jerusalem jatuh ke tangan Israel dan warga Palestina hidup dalam wilayah pendudukan Jerusalem Timur, praktis saat ini seluruh wilayah Jerusalem dikuasai Israel. Sheikh Jarah, pemukiman terakhir warga Palestina di Al Quds, pun akhirnya dijarah. Rakyat Palestina terusir lagi, tetapi kita bisa apa? Mereka terdiskriminasi di tanah mereka sendiri, tetapi kita bisa apa?

YASER.jpgPenulis di Markas PLO di Ramallah Palestina dan saat nyekar ke makam Yasser Arafat di Ramalah. (FOTO: Dok Tofan Mahdi)

Rakyat Palestina adalah bangsa keturunan Arab. Sebagian besar atau sekitar 80% warga Palestina beragama Islam, dan 20% sisanya beragama Nasrani. Rakyat Palestina baik

yang Muslim maupun Nasrani sama-sama menentang zionisme Israel, menentang kolonialisme Israel. Istri almarhum pendiri PLO (Organisasi Pembebasan Rakyat Palestina) Yasser Arafat, Suha Arafat, adalah seorang Nasrani yang taat. Dan dia sangat keras mendukung suaminya menentang penjajahan Israel. 

Melawan Israel adalah melawan penjajahan. Membela Palestina adalah membela hati nurani dan kemanusiaan. Bukan melawan agama atau suku tertentu, bukan. Banyak

PALESTINA.jpgGaza kembali membara. (FOTO: dw.com)

juga masyarakat Yahudi, termasuk

penganut Yahudi Ortodox dan anak-anak muda Yahudi, yang menentang Zionisme yang artinya menentang cara berpolitik yang kolonialis yang diterapkan oleh Israel. Bagaimana bisa berharap perdamaian jika Israel terus memperluas wilayahnya secara sepihak dan menindas rakyat Palestina yang hingga hari ini tidak pernah bisa merdeka. (Bersambung)

Penulis: Tofan Mahdi adalah Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos (2007) dan penulis buku “Pena di Atas Langit”. Pernah melalukan tugas jurnalistik ke wilayah konflik Palestina-Israel.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda