Mengenang Pengajian K Ng Agus Sunyoto (7)

Menelusuri Jejak Siapa Pak Harto

Presiden Soeharto. (wikipedia.org)

COWASJP.COM – Menurut penilaian subyektif saya, tak ada sejarawan yang memiliki data tentang Pak Harto, selengkap Mas Kyai Ngabei Agus Sunyoto. Dia mengetahui data masa kecil Pak Harto, masa pencarian identitas mengikuti kelompok diskusi di Yogyakarta, terjun di dunia militer, mencari guru-guru mistik, jadi Pangdam Diponegoro, sampai jadi presiden.

Menjelang kejatuhan Pak Harto, 1997-1998, Mas Kyai Agus menelusuri silsilah keluarga Pak Harto. Dasarnya adalah informasi dari seorang warga keturunan Tionghoa di Kediri, dari Marga Liem. Dia mengaku bahwa keluarga ibunya masih ada hubungan keluarga, dengan orang yang konon ada keterkaitan dengan penguasa Orde Baru tersebut. Sama-sama dari Marga Ma.

BACA JUGA: Revolusi Energi (3)​

Tentu saja silsilah Pak Harto yang berbeda dengan versi resmi yang beredar selama Orde Baru. Meski sebelumnya sudah beredar kasak-kusuk tentang silsilah Pak Harto dan keluarganya yang berbeda dengan versi resminya, pelacakan Mas Kyai Agus semakin melengkapi versi yang lain.

Ekspedisi penelusuran jejak leluhur Pak Harto, mulai sebelum lahir. Tim ini terdiri dari Mas Agus, warga keturunan Marga Liem tadi, saya, dan Purwanto, anggota BANSER dari Kediri selatan. 

Penelusuran dimulai dari rumah peninggalan seorang saudagar China kayaraya bermarga Ma. Lokasinya berada di utara Alun-alun Surakarta, di sebelah selatan Loji Gandrung, Rumah Dinas Walikota Solo. Di timur jalan. Saudagar China kayaraya Marga Ma ini, terkenal dekat dengan Raja Surakarta Paku Buwana X.

Konon pada masa mudanya Bu Sukirah, ibunda Pak Harto, pernah bekerja pada keluarga bermarga Ma ini. 

Pelacakan diteruskan ke Semarang. Nah, di Semarang bertamu ke seorang laki-laki berusia sekitar 67 tahun kala itu. Dia anak dari saudagar kayaraya teman Paku Buwana X tadi. Tentu saja, namanya ada marga Ma-nya.

Uniknya, garis-garis wajahnya ada kemiripan dengan garis-garis wajah Pak Harto. Terutama dahi, mata dan pipinya. Mirip sekalii dengan Pak Harto ya, ujar Mas Agus berbisik kepada saya.

Walau memiliki wajah mirip Pak Harto, dan konon memiliki pertalian darah dengannya, bapak bermarga Ma di Semarang ini, bukan pendukung Pak Harto. Dia tidak cocok dengan pola-pola gaya Pak Harto dalam mempertahankan kekuasaan Orde Barunya.

Dari penelusuran data versi lain tentang silsilah Pak Harto ini, kemudian Mas Kyai Agus mampu merekonstruksikan perjalanan hidup Pak Harto secara detail dan rinci. 

Termasuk kenapa akhirnya Ibu Sukirah menikah dengan Kartosudiro, pria yang kemudian disebut sebagai ayah Pak Harto, seorang ulu-ulu, pamong desa yang mengatur air di Desa Kemusuk, di daerah Argomulyo, Godean, Yogyakarta.

Namun pernikahan Bu Sukirah dengan ulu-ulu bernama Kartosudiro ini, menurut Mas Agus, ada kejanggalan. Yaitu, setelah selapan atau sebulan lebih bayi Soeharto lahir, Bu Sukirah bercerai dengan Kartosudiro.

Kalau tidak ada sesuatu yang luar biasa, pasti tidak mungkin anak baru lahir berusia selapan, bapak ibunya bercerai,  kata Mas Agus.

Ketika saya tanya, Jelasnya bagaimana Mas ?

BATAL.jpgK Ng Agus Sunyoto (kanan) dan Abu Muslich (penulis). FOTO: istimewa.

Mas Kyai Agus menjawab, "Sampeyan kan wis ngerti (Anda kan sudah mengerti)," kata Mas Agus sambil tersenyum.

Beberapa tahun kemudian Bu Sukirah nikah lagi dengan seorang laki-laki bernama Atmopawiro. Dari pernikahan ini kemudian melahirkan 7 orang anak. Demikian juga Pak Kartosudiro, juga menikah lagi dan mendapatkan 4 anak lagi.

Ketika Pak Harto sudah menjadi penguasa Orde Baru, menurut Mas Agus, lagi-lagi terjadi kejanggalan. Perlakuan Pak Harto terhadap adik-adik tiri dari ibunya, berbeda 180 derajat, dibanding dengan adik-adik tiri ayahnya.

Adik-adik tiri Pak Harto dari ibunya, seperti Probosutedjo dan Sudwikatmono, diberi fasilitas besar, sehingga menjadi pengusaha-pengusaha sukses. Sedangkan adik-adik tiri Pak Harto dari ayahnya, tidak ada yang mendapat fasilitas seperti Probosutedjo dan Sudwikatmono. Bahkan namanya pun tidak pernah disebut.

Setelah data tentang Pak Harto semakin lengkap, saya pernah bertanya kepada Mas Kyai Agus. "Apakah akan menulis buku tentang Pak Harto?"

Dia menjawab, "Pak Harto masih hidup. Gak enak."

Ketika Pak Harto sudah wafat, saya bertanya lagi pada Mas Kyai Agus, apakah jadi menulis buku Pak Harto, dia menjawab, "Tidak usah. Biar kita saja yang tahu," kata Mas Agus. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda