Mengenang Pengajian K Ng Agus Sunyoto (6)

Ansor Kediri Digembleng Lahir Batin

Foto Milisi ISIS (Negara Islam Iraq dan Syam) di Iraq 17 Juni 2014. (FOTO: dw.com)

Jejak Mas Kyai Ngabehi Agus Sunyoto di Kediri adalah jejak perjuangan. Satu perjuangan yang dikobari api semangat yang tak pernah padam. Berawal kepindahan tugas saya dari Jawa Pos Biro Malang ke Kediri, pada tahun 1994. Kemudian pada 1996, saya menjadi Ketua GP Ansor Kabupaten Kediri.

***

COWASJP.COM – Untuk membentuk kader-kader GP Ansor yang militan dan berwawasan luas, saya minta tolong Mas Kyai Agus membantu untuk memberikan bimbingan. Mulailah saat itu Mas Agus menggembleng lahir batin para kader Ansor Kediri. Pemikirannya dibuka lebar, batin ruhaninya digembleng dengan laku spritual warisan ulama dan para wali. 

BACA JUGA: Gelar Ngabehi Warisan dari Pusponegoro​

Dalam membuka cakrawala berpikir kader, kami bentuk kelompok diskusi khusus dari para pengurus Ansor kabupaten, ketua dan sekretaris Ansor, serta para komandan Banser kecamatan se-Kabupaten Kediri. Diskusi langsung dipimpin Mas Kyai Agus, setiap sepekan sekali.

Mas Kyai Agus mengenalkan geopolitik nasional yang tidak lepas dari campur tangan politik global. Dia mempetakan kekuatan kaum nasionalis – religius, dan antek kaki tangan kapitalis mulai jaman kolonial, awal kemerdekaan, zaman kepemimpinan Presiden Bung Karno, selama masa Pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Pak Harto, sampai masa reformasi.

“Mata saya terbelalak gegara uraian tentang adanya fakta kekuatan global di Indonesia. Hal ini dijlentrehkan oleh Gus Iim (KH Hasyim Wahid, adik ragil Gus Dur), “ kata Mas Kyai Agus.

Pada masa perang dingin, antara blok Barat sebagai kekuatan kapitalis yang berpusat di Amerika, dan Blok Timur sebagai kekuatan Komunis di Uni Soviet. Kemudian, Uni Soviet runtuh. “Kalau Uni Soviet sebagai pusat komunis hancur, apakah kapitalisnya otomatis ikut runtuh atau masih ada?” tanya Mas Kyai Agus, yang dijawab para kader GP. Ansor, kapitalis masih ada.

Agar kekuatan kapitalis yang masih kokoh ini tidak menjadi sasaran tembak oleh kekuatan-kekuatan lain, maka mereka kemudian “menghilangkan diri”. Untuk mengecoh dunia, mereka kemudian merancang sebuah konflik peradaban baru.

Mas Kyai Agus kemudian membuka mata para kader GP Ansor tentang adanya teori konflik peradaban baru, yang ditulis Samuel P. Huntington, dalam bukunya The Clash of Civilization and the Remaking of Word Order. Benturan yang paling keras akan terjadi berdasarkan konflik agama.

“Kita lihat saja tidak akan lama lagi akan terjadi kerusuhan yang dipicu soal agama. Dan itu setingan,” kata Mas Kyai Agus.

Benar saja. Pada Oktober 1996, pecah kerusuhan Situbondo. Terjadi pengerusakan dan pembakaran gereja. Bahkan saat itu, Mas Kyai Agus turun mencari fakta lapangan. Berdasarkan pengalamannya sebagai seorang jurnalis, dan seorang aktifis berpengalaman, dia berhasil mengumpulkan data-data akurat.

AS.jpgAlmarhum K Ng Agus Sunyoto di acara Isra' Mi'raj. (FOTO: istimewa)

Data hasil investigasi di lapangan, kemudian di susun dalam Buku Putih Kerusuhan Situbondo. “Kunci membongkar kedok peristiwa setingan itu dengan mengumpulkan data dan fakta. Pasti akan ketemu di mana setingannya,“ jelas Mas Kyai Agus.

Ketika data peristiwa Kerusuhan Situbondo dibawa ke forum diskusi Ansor Kabupaten Kediri, terjadilah diskusi hangat. Bisa dikatakan, kader-kader Ansor Kediri jadi mengetahui peristwa-peristiwa kerusuhan yang hasil rekayasa itu. 

Termasuk ketika terjadi pengerusakan gereja di Kediri. Yaitu di Mojo dan Grogol. Setelah dipelajari dan dikumpulkan data di lapangan, akhirnya diketahuilah bahwa pengerusakan dua gereja di Kediri tersebut, juga hasil rekayasa. Para pelaku pengerusakan bukan dari warga sekitar.

Kajian tentang konflik peradaban baru yang akan lebih banyak berakar pada agama, terus bergulir dan menjadi kenyataan. Menyusul kemudian peristiwa Bali, dan juga bom-bom di gereja lain.

Bukan hanya di Indonesia.  Di Amerika pun terjadi bom di WTC. Di Timur Tengah ada gerakan ISIS, yang memporak porandakan tatanan di jazirah itu. “Semua tidak lepas dari setingan kapitalis global yang telah bersalin warna, “ jelas Mas Kyai Agus.

.Sampai-sampai Kesusteran Putri Kasih Indonesia yang berpusat di Jalan Brawijaya Kediri, mengumpulkan para suster Puteri Kasih seluruh Indonesia, untuk mendapatkan pengetahuan tentang Islam. Pimpinan Kesusteran Puteri Kasih Indonesia, Suster Anna menghubungi saya untuk dicarikan ulama agar ceramah di depan para suster.

AS1.jpgK Ng Agus Sunyoto (depan nomor 3 dari kiri).  (FOTO: istimewa)

Menurut Suster Anna, sejak masa Kolonial Belanda, Jepang, dan Orde Lama, tidak pernah ada pengerusakan tempat ibadah. “Peristwa ini sungguh membuat trauma para suster-suster sepuh. Sedang ada apa ini?“ kata Suster Anna kepada saya saat itu.

Suster Anna kemudian kami bantu mengundang KH Mustain Syafi’i, ahli tafsir Pondok Pesantren Tebuireng Jombang  untuk ceramah tentang Islam di Kesusteran Putri Kasih.

Selain membuka pemikiran para kader Ansor, tak ketinggalan mereka juga digembleng dengan ilmu batin oleh Mas Kyai Agus.  Gemblengan yang diberikan persis seperti gemblengan yang dilakukan gurunya, KH Ghufron di Pondok Pesantren Penilih, Surabaya. Yaitu, peloran.

Kader yang mengikuti gemblengan diberi gotri dan madu. Jumlahnya lebih sedikit. Ada yang 11 butir, sampai 21 butir. Bagi kader yang sudah mengikuti gemblengan, dilarang keras melakukan Ma-lima. Yaitu tidak boleh maling atau mencuri, madon atau berzina termasuk homosex, mabuk atau minum-minuman keras, madat atau menkonsumsi Narkoba, dan tidak boleh main atau berjudi.

Jika pantangan ini dilanggar, bisa berakibat fatal. Bisa sakit. “Zaman sekarang, kalau anak muda sudah tidak mengonsumsi Narkoba, tidak mabuk, tidak zina, tidak mencuri, dan tidak judi, itu sudah baik. Sudah selamat, “ tambah Mas Kyai Agus. 

Pernah sekitar jam 12 malam, saya ditelepon seorang komandan Banser Kediri bagian utara. Dia memberi tahu bahwa salah seorang anggotanya yang pernah ikut gemblengan Mas Kyai Agus, perutnya sakit, membesar. Dia melakukan pelanggaran.

Jamaah tersebut, kata Komandan Banser ini profesinya adalah MC ndangdut. Waktu pentas kenal penyanyinya. Kemudian “tidur” dengan penyanyi yang dikenalnya itu. Selang dua hari sakit, dibawa ke dokter tidak sembuh. Malah perutnya membesar.

Akhirnya, saat itu juga saya telepon ke Mas Kyai Agus di Malang. Saya laporkan adanya jamaah yang melanggar salah satu larangan Ma-lima. Saya sebutkan namanya. Mas Kyai Agus kemudian mengobati dengan membaca doa dari Malang. Yang bersangkutan disuruh membaca istighfar dalam jumlah yang banyak. Alhamdulillah, akhirnya sehat kembali.

Sejak sekitar 1994 itu, setiap kalau ada pelatihan Ansor dan Banser, selalu disertai dengan gemblengan batin dari Mas Kyai Agus. Di luar itu, juga banyak anggota Pagar Nusa, jamaah NU, Muslimat dan Fatayat NU mengikuti pengisian batin ini. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda