Mengenang Pengajian K Ng Agus Sunyoto (5)

Gelar Ngabehi Warisan dari Pusponegoro

Makam Kyai Tumenggung Pusponegoro (Bupati Gresik pertama 1688-1696), leluhur K Ng Agus Sunyoto. (FOTO: isparbud.gresikkab.go.id)

COWASJP.COM – Persahabatan saya dengan Mas Kyai Ngabehi Agus Sunyoto sangat dekat. Saking dekatnya, sudah seperti saudara kandung. Saya mengenal keluarga dan leluhurnya, seperti saya mengenal keluarga dan leluhur saya sendiri.

Ayahnya bernama Kyai Ngabehi Amir Arifin, ibunya bernama Hajjah Dalichah binti Kyai Musban. Keluarga ini tinggal di Desa Gundi, sebelah barat Pasar Turi, Surabaya. Mas Agus Sunyoto adalah anak tertua, lahir tanggal 21 Agustus 1959. Kemudian adik-adiknya berturut-turut, RA. Darminingsih, Kyai Ngabehi Abu Hamirun, Prof. DR. Kyai Ngabehi Imron Arifin, dan yang bungsu RA. Amiretnoningsih. Saya kenal akrab dengan semua adik-adik Mas Agus. Terutama yang laki-laki.

BACA JUGA: Tidak Tidur Setahun​

Ayahanda Mas Agus, Kyai Ngabehi Amir Arifin putra Kyai Ngabehi Kertorejo Gurnodo, putra Kyai Ngabehi Kertodirdjo (Demang Prambon, Kedungsogo), putra Kyai Ngabehi Mertoredjo Mertodirdjo (Demang Prambon, Kedungboto) terus ke atas sampai Kyai Tumenggung  Djojonegara (Bupati Kasepuhan Gresik 1696 – 1745), putra Kyai Tumenggung Pusponegoro (Bupati Gresik Kaping I (1688 – 1696).

Para trah keturunan Pusponegara, memiliki hak menyandang gelar Ngabehi. Ada Kyai Ngabehi, Raden Ngabehi, Ngabehi, dan Mas Ngabehi. Pada masa kolonial Belanda, diperkuat dengan Besluit Gouverneur General 30 September 1936, nomor 31, Pasal 6 ke-2 bab, “Regeling van de Inheemse adelijk titulatur, juga aturan peralihan Regening pasal 8, bab turunnya sebutan gelar “Ngabehi, Kyai Ngabehi, dan Mas Ngabehi, untuk tedak turunnya (keturunan) Kyai Tumenggung Purponegoro, Bupati Gresik Kaping I.

Kesediaan Mas Agus untuk menyandang gelar keluarga “Kyai Ngabehi” semata-mata untuk angleluri (merawat) tradisi peninggalan leluhur yang adiluhung.
“Para sederek engkang memperhatikan dumateng perkawis sebutan ngabehi, kyai ngabehi, raden ngabehi, engkang lumrah dipakai tedak turunipun Kyai Tumenggung Pusponegoro menika engkang leres. Awit sebutan menika boten namung nglarahaken trah leluhur, ananing ugi saget ambangun karukunan keluarga,” kata Kyai Ngabehi Agus Sunyoto dalam Buku Serat Kekancingan putra wayah trah Kyai Tumenggung Pusponego. (Tujuannya tak hanya untuk menjelaskan siapa sebenarnya kakek dan nenek moyang kita dahulu, tapi juga agar senantiasa terjaga kerukunan keluarga besar). 

almarhum.jpg

Pertama kali saya diajak ziarah ke Makam Kyai Tumenggung Pusponegoro pada sekitar tahun 1993. Berada di sebelah barat kompleks Makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim di Desa Gapuro, Sukolilo, Gresik.
Makam Pusponegoro dibangun cungkup yang cukup besar dan megah. Di tembok cungkup bagian depan, dipahat gambar kala yang disamarkan dengan ukiran lung-lungan. Bagian paling luar lambang surya candra, yang mengisyaratkan bahwa Pusponegoro adalah keturunan raja Majapahit. Di sela ukiran adalah 8 bagian kosong, yang diberi tulisan Arab, tentang konsep ruhani Thariqah Sathoriyah. Yaitu tulisan, Muhammad, Adam, Makrifat, Asma’, Sifat, Dzat, Tauhid, dan Allah.

“Eyang Pusponegara memang pengamal Thariqah Sathoriyah dari jalur Sunan Giri”, kata Mas Agus.

Di sebelah utara cungkup makam, berdiri prasasti yang menerangkan silsilah leluhur Pusponegoro. Yakni, Kyai Tumenggung Pusponegara, putra Ki Kemis atau Kyai Ageng Setro II, putra Ki Muruk atau Kyai Ageng Temasik II, putra Ki Tempel atau Kyai Ageng Temasik I, putra Ki Ketib atau Kyai Ageng Setra I, putra Ki Gaib atau Arya Banding atau Kyai Ageng Terung.
Ki Gaib putra Arya Terung Adipati Sengguruh, putra Raden Kusen Adipati Terung, putra Arya Damar, putra Brawijaya V Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawardhana.

Selain ke makam Kyai Tumenggung Pusponegara, saya pernah diajak ziarah ke makam ayahandanya Mas Agus, yaitu Kyai Ngabehi Amir Arifin di makam keluarga di Makam Tembok Surabaya. Kemudian diteruskan ke makam Buyutnya, Kyai Ngabehi Kertodirdjo (Demang Prambon, Kedungsogo) di Krian. 
Waktu sering ke Pondok PETA Tulungagung dulu, saya juga pernah diajak ziarah ke Makam Arya Sengguruh, di Rejotangan, Tulungagung. Seperti umumnya makam bangsawan kuno, Makam Arya Sengguruh dibuat dari tumpukan batu yang diukir. Demikian juga kedua batu nisannya, juga diukir halus.

Selesai membaca tahlil, waktu akan beranjak pergi, saya menemukan sekeping uang kepeng China kuno. Waktu saya tunjukkan Mas Agus, dia hanya tersenyum. Saya bawa pulang, dan sempat saya simpan. Tapi, kemudian hilang. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda