Mengenang Pengajian K. Ng Agus Sunyoto (4)

Tidak Tidur Setahun

K Ng Agus Sunyoto (tengah)ketika membeberkan sejarah Islam di Indonesia. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Setelah besama Mas Kyai Ngabehi Agus Sunyoto dan santri lain menjadi murid Almarhum KH. Ghufron Arief, tahulah saya bahwa di Pondok Pesantren Penilih ini, santri belajar bermacam ilmu kanuragan dan rohani. Paling dasar disebut peloran. Menelan gotri (logam bulat sebesar kacang hijau) sepeda dengan ukuran sedang.

Gotri sepeda diberi minyak wangi salma. Kemudian dibacakan doa-doa khusus oleh Kyai Ghufron. Masing-masing santri diberi gotri minimal 33 butir. Untuk menelan biasanya dengan pisang emas. Pisang dikunyah sampai lembut, gotri dimasukkan mulut, baru kemudian ditelan bersama. Terakhir minum madu murni, yang juga sebelumnya sudah diberi doa Kyai Ghufron.

BACA JUGA: Temukan Situs Makam Kepala Karaeng Galesong​

Proses selanjutnya, melakukan pernapasan disertai dzikir, menyebut nama Allah. Pernapasan ini selain untuk membangkitkan energi “Silat Karomah”, juga untuk memperkuat tenaga dalam.

Ada yang unik setelah peloran ini. Santri tidak boleh menerobos atau mbrobos pagar, dan tidak boleh lewat di bawah jemuran. “Kalau mbrobos pagar atau lewat di bawah jemuran, terutama jemuran pakaian wanita, gotrinya akan keluar bersama waktu buang kotoran,” kata Mas Agus Sunyoto.

Tujuan utama peloran ini, menurut Mas Agus, adalah untuk membentengi santri dari berbuat maksiyat, dan melatih agar terus dzikir kepada Allah. Santri yang telah melakukan peloran, dilarang keras melakukan Ma-lima. Yaitu tidak boleh, maling atau mencuri, madon atau berzina termasuk homosex, mabuk atau minum-minuman keras, madat atau menkonsumsi Narkoba, dan tidak boleh main atau berjudi.

Jika pantangan ini dilanggar, yang bersangkutan bisa sakit keras. Pernah dulu kejadian, ada santri Penilih, karena tidak kuat menahan nafsu, akhirnya berzina di kompleks pelacuran. Selang satu hari, pencernaannya tidak berfungi.

gus.jpgDari kiri: K Ng Agus Sunyoto, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj, Abu Muslich (penulis). (FOTO: istimewa)

Makan nasi keluar nasi. Makan tahu keluar tahu. Itu berlangsung sampai seminggu lebih. Tubuhnya menjadi kurus kering, padahal diperiksakan ke dokter tidak diketemukan penyakit. Akhirnya saudaranya sowan kepada Kyai Ghufron, memberitahukan perihal santri tersebut.

“Akhirnya selamatan di pondok. Alhamdulillah dia selamat dan bisa sehat kembali. Tapi kan malu dengan teman-teman santri lainnya, “ kata Mas Agus.

Di kesempatan lain, Mas Kyai Agus Sunyoto diberi amalan doa, yang salah satu manfaatnya untuk mempertajam kepekaan rasa. Bahkan bisa menembus alam gaib. Doa tersebut dihafalkan. Kemudian puasa. Biasanya 3 hari atau 7 hari. Selama puasa, setiap selesai shalat dibaca sebanyak-banyaknya.

Beberapa hari puasa dan wirid doa tersebut, terjadi perubahan pada siklus kehidupan Mas Kyai Agus. Biasanya kalau malam hari ngantuk, terus tidur. Ditidur-tidurkan, tetap mata tidak mau lelap. Memang bisa istirahat dengan tiduran, dan mata terpejam. “Tapi telinga masih mendengar, pikiran masih aktif. Masih mendengar pembicaraan orang. Masih mengetahui aktifitas sekeliling kita,” ujar Mas Kyai Agus.

Meski selesai tiduran dan matanya terpejam cukup lama, ketika mata dibuka tidak menjadi merah. Tetap putih bening. “Memang menjadi tidak bisa istirahat secara total. Tapi alhamdulillah, fisik dan pikiran tetap sehat-sehat saja, “ kata Mas Kyai Agus. 

Waktu kuliah, saat itu Mas Kyai Agus kuliah di IKIP Surabaya jurusan seni rupa, juga tetap bisa mengikuti mata kuliah dengan seperti biasa.

Pernah dia berkata kepada keponakannya. Kalau bisa menemukan dirinya tidur, akan diberi uang Rp 50 ribu. Tahun 1980-an awal uang Rp 50.000 banyak. Satu bungkus rokok harganya hanya Rp 50. Beberapa kali Mas Agus tiduran sambil memejamkan mata, keponakannya mendatangi untuk membangunkan. Ketika sudah dekat, Mas Agus bangun terlebih dahulu. “Hayo ate lapo (hayo mau apa), “ begitu ujar Mas Agus kepada keponakannya.

Mas Agus tidak tidur bertahan sampai satu tahun. Dia menghentikan bacaan doa dan wirid dari Kyai Ghufron tersebut, karena tidak kuat. Hijap kegaiban terus terbuka, selapis demi selapis. “Bagaimana tidak stres, bertemu orang, mengetahui orang tersebut akan mati. Ketemu orang, mengetahui orang itu akan mengalami kecelakaan. Bahkan diri kita sendiri akan mengalami kecelakaan juga tahu”, kata Mas Agus. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda