Sufisme dan Sains Modern

Posisi matahari berada di tengah galaksi dengan lengan kecil. Di samping terdapat lengan lebih besar dengan posisi sejajar (north), disusul gelombang yang turun (south), disebelahnya kembali naik pada lengan Monoceros, dan terakhir lengan galaksi TriAndro

COWASJP.COM – “Apakah ada hubungan antara sufisme dan sains modern?” tanya Riza Fahmi, ketua DKM AirNav Indonesia.

Pertanyaan itu muncul saat saya diminta untuk mengisi acara Kajian Ramadan untuk kedua kalinya. Di perusahaan penyedia layanan navigasi penerbangan itu. Senin, 26 April baru lalu. 

Dalam pemahamannya selama ini, sufisme adalah ilmu yang lebih mengandalkan peran hati. Sedangkan sains lebih mengandalkan peran otak. Jadi, berada di dua wilayah yang berbeda.

Saya jelaskan kepadanya, bahwa hal itu hanya terjadi di ilmu tasawuf klasik. Sedangkan di ilmu tasawuf modern yang saya kembangkan, justru keduanya menyatu. Dalam satu tarikan nafas. Yakni, sufisme yang memanfaatkan sains dan teknologi sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

“Justru tasawuf modern dikembangkan dengan memanfaatkan data-data dan metode  ilmiah. Bahkan, memanfaatkan teknologi untuk mengukur proses spiritual yang sedang dijalankan,” papar saya panjang lebar.

Maka, saya pun memaparkan pemahaman tasawuf secara mendasar kepada audiens yang hadir di dalam acara tersebut. Karyawan AirNav dari seluruh Indonesia. Ditambah sejumlah kalangan umum yang tertarik bergabung dalam kajian online itu.

Tasawuf atau sufisme adalah ilmu yang mempelajari tatacara memahami Tuhan. Mengenalnya lebih dekat. Berinteraksi secara intensif. Dan, membangun kesadaran ilahiah. Yang senantiasa terisi oleh kehadiran-Nya. Dalam segala aktivitas keseharian.

Tasawuf atau sufisme dikenal juga sebagai Ilmu Kalam. Atau, Teologi. Atau, Ilmu Tauhid. Yang di dalam islam menempati porsi paling besar. Sesuai hirarki isi kitab suci Al Qur’an.

Jika dilihat dari temanya, maka yang paling banyak dibahas di dalam Al Qur’an adalah masalah ketauhidan itu. Sekitar separo dari isi Al Qur’an yang berjumlah 6.236 ayat adalah ayat-ayat tauhid. Yang bercerita tentang eksistensi Allah.

Menjelaskan siapakah Allah. Di manakah Allah. Bagaimanakah Allah. Dan segala macam petunjuk untuk berinteraksi dengan Allah. Ilmu Tauhid adalah pondasi dari agama Islam. Yang jika salah pemahaman tauhidnya, maka salah pula seluruh ibadah yang dijalankannya.

Bisa-bisa, shalat duhanya bukan karena Allah. Melainkan, agar rezekinya lancar misalnya. Atau, puasanya supaya lulus ujian dan naik jabatan. Sedekahnya, karena sungkan. Dan lain sebagainya. Salah orientasi di dalam beribadah. Seharusnya, semua dilandasi oleh ketauhidan. Lillahita’ala – hanya karena Allah semata.

Itulah sesungguhnya substansi dan esensi sufisme. Yakni, memahami dan menjalankan ketauhidan secara utuh dan murni. Menariknya, untuk bisa memahami dengan baik soal ketauhidan itu, Al Qur’an menyarankan agar kita melakukan tatacara ilmiah. Yaitu melalui proses tafakur. Alias berpikir secara saintifik.

Perpaduan secara simultan antara proses ketauhidan dan sains itu diajarkan oleh Allah di dalam QS. Ali Imran: 190-191 berikut ini.

“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang hari terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ulul albab). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah (bertadzakur) sambil berdiri, duduk atau berbaring, dan mereka memikirkan (bertafakur) tentang penciptaan langit dan bumi (sampai berkesimpulan ): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Ayat ini menceritakan praktek sufisme yang dilakukan oleh seorang ulul albab. Yakni, orang yang menggunakan potensi akal kecerdasannya untuk memahami dan berinterkasi dengan Allah sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta.

Ada dua istilah yang digunakan dalam ayat tersebut: tadzakur dan tafakur. Tadzakur bermakna mengingat, merasakan dan menghayati dengan segenap kesadaran. Sedangkan tafakur bermakna berpikir secara saintifik: logis, rasional, analitik, dan empirik.

Allah mengajarkan bahwa untuk bisa mencapai kualitas tasbih yang digambarkan di akhir ayat tersebut dengan "subhanaka" – “Maha Suci Engkau” – ternyata harus didahului oleh proses tadzakur dan tafakur itu. Sampai memperoleh kepahaman. Yang digambarkan oleh kalimat “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia”.

Artinya, puncak kesadaran sufistik sesungguhnya harus dicapai melalui proses tadzakur yang bersifat penghayatan secara emosional dengan tafakur yang bersifat saintifik dan rasional.

Contoh konkretnya begini. Ketika kita mempelajari makna Allahu Akbar. Dan hanya melakukannya dari sisi bahasa. Maka, kita hanya akan memperoleh terjemahan: "Allah Maha Besar". Yang tidak menggetarkan dan mengharubiru jiwa.

Berbeda dengan seorang ilmuwan yang mempelajari makna "Allahu Akbar" dengan melakukan tafakur – berpikir ilmiah – terhadap jagat raya. Mempelajari astronomi. Kosmologi. Astrofisika. Mengobservasi dengan teleskop dan berbagai peralatan observasi lainnya terhadap alam semesta yang besarnya tiada berhingga itu. Dia akan merasakan getaran jiwa yang mengharu biru kesadarannya.

Yakni, ketika dia memahami dan menyadari betapa kecil dirinya di samudera jagat raya semesta yang tidak ketahuan batasnya. Seorang manusia hanyalah sebutir debu dibandingkan planet Bumi yang ditempatinya. 

Sementara, planet Bumi itu juga hanya bagaikan sebutir debu dibandingkan dengan tatasurya, di mana Bumi itu berada. Yang berisi matahari, planet Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Lebih jauh, ternyata tatasurya inipun cuma seperti debu dibandingkan dengan galaksi Bima Sakti. Di mana matahari yang menjadi pusat dari tatasurya kita sebagai salah satu saja dari 200 miliar matahari yang menghuni Bimasakti.

Dan galaksi Bimasakti itupun ternyata hanya sebutir debu di dalam supercluster. Yakni, gerombolan galaksi yang berisi sekitar 100 miliar galaksi.

Padahal superkluster itupun ternyata hanya sebutir debu di dalam universe. Di mana universe ini hanya salah satu debu dari  multiverse. Yang di dalam Al Qur’an disebut sebagai sab’a samawat alias langit berlapis tujuh, yang diliputi oleh kebesaran Allah Azza Wajalla. Betapa kecilnya manusia di dalam jagat raya. Disebut sebagai debunya debu saja tidak pantas. Allahu Akbar ..! 

Maka, betapa menggetarkan kualitas kesadaran tauhid yang diperoleh seseorang yang melakukan proses sufismenya melalui tadzakur dan tafakur secara simultan. Itulah kenapa rasulullah SAW sampai menangis semalaman saat menerima wahyu QS. Ali Imran: 190-191 tersebut. 
Subhanallah tabarakallah. (*) 

[Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 30 April 2021]

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda