Kopi Manis di Lahan Bisnis

Rani Mayasari di lokasi pengolahan kopi Java Halu Coffee Farm di Soreang, Kab. Bandung Barat.

COWASJP.COM – Tahukah anda bahwa secangkir kopi yang anda nikmati bersama teman menghabiskan 140 liter air dalam proses pengolahannya? 

Sejak dari kebun, roaster dan brewer, sampai terhidang di meja anda. 

Karena itu, perlu metode baru. Mengolah kopi dengan hemat air bersih adalah salah satu keniscayaan. Suatu keharusan. Agar cita rasanya tetap terjaga. Dan agar pencinta dan penikmat kopi semakin dimanjakan lidahnya. 

Tentu saja, hal itu menjadi target Java Halu Coffee Farm, yang bergerak dalam bisnis kopi. Dari hulu sampai hilir. Yakni, dengan menggunakan metode kuno, dalam pengolahan paska panennya. Berupa tehnik Dry Natural dan Pulp Natural atau Honey Process. Sehingga dengan demikian penghematan air bersih lebih maksimal dan cita rasa kopi lebih optimal.

Tidak bisa dipungkiri, kopi adalah minuman yang diminati dan menjadi minuman favorit banyak orang. Bahkan penikmatnya kian hari kian bertambah. Sehingga bisnis kopi menjadi salah satu peluang usaha yang berkembang bak jamur di musim hujan. Dengan semakin banyaknya merk kopi. Dengan semakin banyaknya outlet maupun jenis hindangan kopi di tengah masyarakat. Dan ini tidak hanya di Indonesia, tapi bahkan di berbagai belahan dunia. 

Dalam kaitan ini, perlu diketahui bahwa sebagian besar konsumen sekarang terdiri dari kaum milenial. Selera mereka mungkin berbeda dengan yang konvensional. Ini sangat berpengaruh kepada peningkatan konsumsi kopi di dunia. Sehingga siapa pun yang berminat untuk masuk ke dalam lingkaran pebisnis kopi tentu perlu mengembangkan wawasannya tentang bisnis yang unik dan berkembang pesat ini. 

Persoalannya, di tengah perkembangan yang menggembirakan itu terdapat beberapa masalah yang patut jadi perhatian. Di antaranya adalah terus menurunnya produksi kopi di kebun. Sebagai akibat dari perubahan iklim. 

Karena itu, sustainability dan kepedulian kepada lingkungan merupakan dua faktor yang mestinya mendapatkan perhatian lebih besar. Tidak hanya bagi kalangan generasi muda yang berminat dalam bisnis kopi, bahkan juga bagi pihak pemerintah sendiri. 

java-halu.jpg

Dalam kaitan dengan sustainability, pupuk organik dipandang akan berperan penting dalam pengembangan perkebunan kopi. Demikian pula dengan pestisida dan herbisida yang terbuat dari bahan alami.

Sehubungan dengan itu, Java Halu Coffee Farm mencoba mengajak anak muda untuk mengenal lebih jauh bagaimana mengolah kopi yang baik. Dengan mengembangkan metode pengolahan kopi yang alami. Tidak hanya untuk kepentingan menjaga lingkungan. Tapi juga untuk menghasilkan produk kopi yang sesuai standar kebutuhan kualitas dunia. Plus memberi anda peluang besar untuk sukses dalam bisnis perkopian. Untuk membuka outlet, cafe, warung kopi, bahkan ekspor kopi ke manca negara. Sebuah peluang bisnis yang banyak dilirik berbagai kalangan belakangan ini. 

TANTANGAN & RINTANGAN

Selain itu, mereka yang bergerak dalam dunia perkopian tentu menyadari bahwa tantangan dan rintangan yang dihadapi ke depan juga  tidak sedikit yang akan bermunculan. Di antaranya ialah munculnya hama penyakit baru sebagai akibat dari deforestasi. Ini adalah satu hal yang mesti disadari. Sekaligus dicarikan jalan keluarnya. 

Dan untuk menghadapi hal itu, Java Halu Coffee Farm kembali pada kesimpulan bahwa kita harus kembali ke alam. Membangun kembali lahan kopi yang baru dengan tanaman baru pula. Artinya agroforestry untuk tanaman baru mesti dilakukan. Dan ini dianggap sebagai sesuatu yang menjadi satu keharusan.

Begitu juga masalah perubahan iklim. Hal ini merupakan persoalan yang cukup pelik dalam dunia perkopian. Karena hal  ini ternyata mempunyai dampak besar terhadap pertumbuhan kopi. Dan dengan sendirinya berpengaruh pula terhadap kuantitas dan kualitas kopi yang dihasilkan oleh berbagai negara, seperti: Brazil, Honduras, Guatemala di Amerika Latin, kemudian Ghana, Kongo, Nigeria di Afrika dan Vietnam dan Indonesia di Asia Tenggara. 

Salah satu ancaman lain akibat perubahan iklim terhadap kopi adalah meningkatnya kebutuhan air, adanya hama dan penyakit tanaman. Di samping itu, kalangan petani kecil termasuk di dalamnya petani perempuan penggarap kopi juga dihadapkan pada kendala yang tidak ringan dalam menghadapi perubahan iklim yang berlangsung cepat. 

Perubahan iklim, seperti curah hujan yang tidak teratur, terjadinya kenaikan suhu, kekeringan dan hantaman badai dapat mengganggu pertumbuhan tanaman kopi. Sebab tanaman kopi adalah salah satu tanaman yang membutuhkan suhu yang ideal.

Karena itu, petani harus merambah hutan. Mendaki gunung yang lebih tinggi lagi untuk memenuhi kebutuhan suhu ideal. Buat petani kecil, terutama kalangan petani perempuan yang tidak sedikit jumlahnya, hal ini tidak mudah. 

Bagi kalangan petani kopi di Indonesia, persoalan-persoalan di atas dirasakan cukup pelik. Hal ini sangat penting difahami, karena 70 persen petani atau pemilik kebun kopi di tanah air adalah petani kecil. Termasuk kaum petani perempuan. 

Persoalan itu ditambah lagi dengan kenyataan bahwa kopi di Indonesia sudah tergolong tua. Dengan begitu mesti disadari banyaknya persebaran hama dan penyakit. Begitu juga praktik bertani yang tak lagi sesuai dengan tantangan dan situasi yang terus berubah akibat terjadinya perubahan alam tersebut.

KOPI ARABICA TERANCAM PUNAH

Persoalan-persoalan ini memiliki dampak yang sangat besar. Di antara dampaknya adalah bahwa sekitar 50 persen kecocokan lahan yang dapat ditanami kopi akan berkurang. Di  samping itu, 60 persen spesies kopi liar berisiko mengalami kepunahan.

Dengan demikian, kopi jenis arabika yang dikenal enak hanya dapat dinikmati dalam jangka waktu 10 tahun ke depan saja. Terutama karena adanya perubahan rasa. Di 

samping itu, diperkirakan, 30 tahun ke depan, kopi akan menjadi komoditas langka.

Karenanya, tantangan yang akan dihadapi tidak hanya berupa kehilangan lahan. Ancaman lain berupa meningkatnya kebutuhan air, proses pembungaan dan perkembangan biji kopi yang terganggu, adanya hama dan penyakit tanaman, serta rentannya petani kecil hingga petani perempuan penggarap kopi juga merupakan tantangan yang tidak kecil. 

java-halu1.jpgKeterangan foto kedua: Lokasi pengolahan kopi pasca panen di Java Halu Coffee Farm di Soreang. Foto ketiga: Biji kopi dalam proses permentasi. Foto keempat: Proses penjemuran kopi untuk mencapai suhu yang ideal.

Persoalan-persoalan ini, jika tidak segera ditangani, dapat mengancam kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat yang bergantung pada tanaman ini. Dan tentu saja juga mengancam ketersediaan kopi enak bagi para penikmat kopi yang terus meningkat jumlahnya. Oleh karena itu mulai dari sekarang perlu diambil langkah-langkah untuk menghadapinya. Antara lain melalui riset dan pendidikan SDM, yang tentu saja memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. 

Java Halu Coffee bersama petani dan masyarakat sekitar di wilayah Bandung Barat kini bergerak cepat untuk meningkatkan kerjasama. Terutama untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kapasitas dalam menjaga rantai nilai kopi tetap kokoh. Dan hal ini diharapkan tidak hanya dilakukan di satu wilayah seperti Jawa Barat saja, tetapi juga di seluruh penjuru nusantara.

Rantai nilai kopi dimaksud mulai dari Petani, Pengepul, Prosesor, Eksportir, hingga Roaster. Masing-masing memiliki peranan penting dalam keberadaan kopi di dunia. Semuanya harus diberdayakan. Termasuk kerjasama dengan pihak pemerintah, yang mestinya menaruh perhatian lebih besar terhadap semua persoalan ini. 

Bagaimanapun, bila petaninya sejahtera, negara juga akan diuntungkan. Karena dengan meningkatnya kesejahteraan petani, ekonomi secara keseluruhan juga akan meningkat. Dengan demikian angka kemiskinan akan berkurang, sehingga mengurangi beban pemerintah dalam pengembangan ekonomi maupun pemberantasan kemiskinan. (*) 

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda