Ciptakan Kera Separuh Manusia, Saat Ilmuwan Ingin Serupa Dewa

Prof Juan Carlos Izpisua Belmonte yang memimpin tim peneliti AS-China dari Salk Institute, Biological Studies, California. (FOTO: Salk Institute)

COWASJP.COM – Sekelompok ilmuwan menyatakan berhasil menggabungkan embrio kera dengan sel induk manusia. Embrio itu bisa jadi cikal bakal sebuah makhluk hidup baru: separuh kera separuh manusia. 

Para ilmuwan terus mengutak-atik kode genetik di lab mereka, dan menembus batas antara manusia dan hewan. Saat virus Covid-19 tiba-tiba muncul, dan teori konspirasi meyakini jika virus itu berasal dari lab, kabar terciptanya spesies campuran ini melahirkan kekuatiran baru. 

BACA JUGA: Kepincut Konten Pamer​

Para ahli khawatir, di masa depan, akan tercipta makhluk yang secerdas manusia yang terperangkap di tubuh seekor hewan.

Embrio kera itu ditaruh di atas sebuah cawan petri. Lalu disuntikkan padanya sel induk manusia. Sel manusia itu ternyata berkembang dan ‘berkomunikasi” di dalam embrio kera. Embrio makhluk baru ini kemudian dipelajari selama 20 hari, lalu dihancurkan. 

Percobaan ini dinyatakan sukses besar. Karena tiga tahun lalu, sel induk manusia telah dicoba disuntikkan ke dalam embrio babi. Namun ternyata gagal.
 
Penelitian itu dilakukan tim peneliti AS-China dipimpin Prof Juan Carlos Izpisua Belmonte dari Salk Institute, Biological Studies, California, dan dipublikasikan minggu lalu. Proyek ini dinamakan chimera project. 

genome.jpgHe Jiankui saat berbicara di acara bertema human genome editing summit di Hong Kong 28 November 2018. Mengumumkan eksperimen anak kembar yang menuai kecaman dari berbagai pihak termasuk oleh pemerintah China sendiri. (FOTO: cnn.com)

Chimera, atau khimaira, adalah sebuah makhluk fiktif dalam mitologi Yunani kuno, merupakan campuran dari tiga spesies berbeda. Bagian depan singa, bagian tengah kambing, dan ular di belakangnya. Makhluk ciptaan dewa-dewa Yunani ini digambarkan menghembuskan api saat berkeliling Lycia di Asia Minor.

Selama berabad-abad chimera dipercaya sebagai mitos. Namun saat ini, para ilmuwan tampaknya berusaha keras ingin benar-benar menciptakan chimera. Mereka terus bermain-main merekayasa genetika untuk menciptakan makhluk baru. Bersaing dengan Tuhan.
 
Bayi ”Buatan” Pertama di Dunia
 
Penelitian rekayasa genetika yang melibatkan gen manusia sudah dilakukan sejak 1980 an. Saat ini setidaknya ilmuwan di empat negara sedang  gencar melakukannya. Yaitu China, Amerika Serikat, Jepang, dan Spanyol. 

Namun China tampaknya yang paling agresif. Pada Desember 2019, ilmuwan China pertama kali berhasil menciptakan makhluk baru berupa chimera babi-monyet. Para ilmuwan di Negeri Tirai Bambu itu menyuntikkan sel induk monyet ke dalam 4.000 embrio babi, lalu membiarkan embrio itu dilahirkan. 

Hasilnya, ada 10 anak babi lahir, dua diantaranya adalah chimera, makhluk campuran babi dan monyet.

genome1.jpg  Penelitian rekayasa materi genetik yang melibatkan gen manusia dinilai tidak etis dan melangggar hukum. (FOTO: istimewa)

Seorang ilmuwan China lainnya, Prof He Jiankui, dua tahun lalu bikin gempar sebuah pertemuan ilmiah di Hong Kong. Pasalnya, dia mengumumkan telah berhasil mengedit DNA embrio bayi manusia. 

Embrio itu kemudian menjadi sepasang bayi kembar perempuan, namanya Lulu dan Nana. Kedua bayi itu diklaim sebagai bayi manusia pertama di dunia yang direkayasa secara genetika.

He Jiankui mengaku melakukan itu untuk menolong kedua bayi itu supaya tidak mewarisi virus HIV dari ayah mereka. Ia mengklaim telah mengeliminasi sebuah gen bernama CCR5 untuk membuat kedua bayi tersebut kebal terhadap HIV. Dan dia mengaku bangga telah melakukannya.
 
Apa yang dilakukan He Jiankui itu telah memicu kemarahan yang luas di kalangan ilmuwan. Rekayasa genetika pada manusia adalah sesuatu yang dilarang dan dianggap tidak etis di semua negara. China sendiri mengklaim jika yang dilakukan ilmuwannya itu adalah sebuah tindakan ilegal.

Meski dengan alasan kesehatan, mengedit DNA manusia adalah sesuatu yang terlarang dan tidak bermoral, karena itu tidak bisa dikoreksi di kemudian hari. Akan terus diturunkan hingga ke generasi berikutnya. 

Para pakar khawatir telah terjadi genome vandalism, kejahatan terhadap alur generasi manusia, yang apa yang akan terjadi di masa depan sendiri masih gelap dan belum mampu diprediksi.
 
Media-media pun  bereaksi keras terhadap penelitian kontroversial ini. Media Inggris Daily Mirror bahkan menyebut para ilmuwan itu dengan julukan ilmuwan Frankenstein. 

Mengacu pada nama tokoh ilmuwan dan peneliti dalam novel karya Mary Shelley yang legendaris berjudul Frankenstein, or The Modern Prometheus. Sang tokoh, Dr Victor Frankenstein, menciptakan sebuah makhluk tak bernama yang ternyata kemudian dendam pada penciptanya sendiri.

Namun kenyataannya, di China sendiri, rekayasa genetika seperti kloning telah umum terutama pada hewan. Ada perusahaan di China yang menawarkan jasa kloning hewan kesayangan. Dengan membayar biaya ratusan juta rupiah, siapapun bisa memesan hewan baru yang merupakan kloning hewan kesayangannya dengan kemiripan 95 persen.
 
Ternak Organ Manusia
 
Bagaimanapun, penelitian yang bikin merinding ini dilakukan dengan dalih membantu manusia dalam hal kesehatan. 

Para ilmuwan ini ingin mengembangkan organ tubuh manusia di dalam tubuh hewan, untuk kemudian diambil dan dicangkokkan ke dalam tubuh manusia.
 
Jadi semacam peternakan organ manusia. Untuk mengatasi kekurangan organ untuk transplantasi yang saat ini memang daftar antrenya makin panjang. Utamanya jantung, ginjal, dan pankreas.

Selain itu, para ilmuwan mengatakan, penelitian ini juga untuk mempelajari perkembangan sel manusia sejak awal kehidupan. Tujuannya untuk mengatasi dan “mengedit” kode DNA manusia pada tahap embrio jika ada penyakit turunan atau degeneratif, sehingga penyakit atau cacat bawaan itu bisa dicegah untuk diturunkan lebih lanjut.
 
Apapun alasannya, kalangan ilmuwan dunia meyatakan penelitian seperti itu ibarat membuka kotak pandora. Sesuatu yang tampak berharga namun sebenarnya adalah awal dari sebuah kutukan. 

babi.jpgIni makhluk campuran babi monyet..salah satu hasil chimera project. (FOTO: istimewa)

Para ilmuwan khawatir, meski embrio makhluk campuran monyet dan manusia dalam penelitian ini dihancurkan pada 20 hari, pihak lain dapat mencoba untuk melanjutkan penelitian. Dan hanya tinggal menunggu waktu untuk menghadapi kenyataan jika makhluk itu akan dilahirkan di laboratorium.

Yang paling menakutkan ialah, jika ternyata sel induk atau sel punca manusia yang disuntikkan ke dalam embrio kera itu, kemudian berkembang dan menjangkau sistem syaraf pusat atau otak si kera. Bisa jadi akan tercipta seekor kera dengan kognisi secerdas manusia. Bisa merasa dan bisa berpikir ala manusia. Namun kera tetaplah kera dengan segala karakter hewaninya.
 
Sel induk atau sel punca memang merupakan sel awali yang bisa berkembang menjadi berbagai macam organ di kemudian hari. Dan sampai saat ini, para ilmuwan belum mampu memprediksi apa yang akan terjadi dengan makhluk campuran ini, dan apa yang harus dilakukan jika terjadi kesalahan.
 
Sejauh ini, proyek chimera telah menghasilkan berbagai macam makhluk baru. Mau tidak mau, era mengutak-atik material genetik telah dimulai. Ada sekelompok ahli di luar sana yang begitu bernafsu ingin serupa dewa.

Bermain-main dengan materi genetik berarti bermain-main dengan masa depan. Mengutak-atik materi genetik adalah sesuatu yang tidak bisa dikoreksi. Dan jika makhluk-makhluk campuran hewan manusia ini terus dikembangkan, dan nanti semakin banyak, adakah yang tahu bagaimana nanti mereka akan memperlakukan kita? (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda